Sambut HUT RI ke-80, JATMA ASWAJA Undang Presiden Prabowo di Zikir Kebangsaan

Acara akan diawali dengan majelis sholawat yang dibawakan oleh Az Zahir Pekalongan. Selanjutnya, akan dilaksanakan pembacaan ikrar bela negara dan zikir kebangsaan yang dipimpin langsung oleh para masyayikh dan mursyid thariqah.

Diperbarui 07 Agustus 2025, 16:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut usia ke-80 tahun Republik Indonesia, Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (PB JATMA ASWAJA) akan menggelar Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu, 10 Agustus 2025 pukul 19.00 WIB.

Acara ini dirancang sebagai momentum spiritual untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan persatuan umat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Zikir kebangsaan diharapkan menjadi ruang kolektif untuk menghadirkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekretaris Jenderal PB JATMA ASWAJA, A. Helmy Faishal Zaini, menyebutkan bahwa acara ini akan dihadiri berbagai tokoh nasional, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Agama, jajaran kabinet, pimpinan TNI/Polri, serta para pemuka lintas agama.

“Kami mengundang secara khusus Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto, Menteri Agama RI, para menteri kabinet, pimpinan TNI/Polri, serta para pemuka agama lintas iman,” ujar Helmy dalam keterangannya, Rabu (7/8).

Acara akan diawali dengan majelis sholawat yang dibawakan oleh Az Zahir Pekalongan. Selanjutnya, akan dilaksanakan pembacaan ikrar bela negara dan zikir kebangsaan yang dipimpin langsung oleh para masyayikh dan mursyid thariqah.

 

Spiritualitas dan Nasionalisme

Helmy menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan momentum strategis untuk menunjukkan bahwa kekuatan spiritual umat dapat bersinergi dengan semangat kebangsaan.

“Zikir dan baiat bukan hanya bentuk ibadah individual, melainkan menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat persatuan, ketahanan ideologi, dan menolak segala bentuk ekstremisme yang dapat mengancam keutuhan bangsa,” ujarnya.

Dalam tradisi thariqah, baiat adalah ikrar kesetiaan murid kepada mursyid dalam menempuh jalan spiritual. Namun, dalam konteks kebangsaan, baiat juga dimaknai sebagai komitmen menjaga akidah, keutuhan negara, dan peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Helmy juga menyampaikan pentingnya sinergi antara dzikir, sholawat, dan bela negara sebagai upaya mencetak masyarakat yang religius, toleran, dan cinta tanah air.

“Kegiatan ini juga menunjukkan aktualisasi nilai-nilai Islam wasathiyah atau Islam moderat dalam kehidupan publik,” katanya.

Seruan kepada Pengurus dan Jamaah

Ribuan jamaah dari berbagai wilayah Indonesia diperkirakan akan hadir. Para ulama sufi, pimpinan pesantren, dan tokoh ormas Islam dijadwalkan turut ambil bagian dalam acara tersebut.

Helmy juga mengimbau seluruh pengurus JATMA ASWAJA di berbagai daerah untuk menyampaikan informasi ini kepada para jamaah.

“Kami mohon agar seluruh elemen mendukung dan mensukseskan acara ini bersama-sama. Semoga acara ini membawa berkah dan menjadi titik temu spiritual bangsa,” pungkasnya.