Memahami Makna Masya Allah dan Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengucapkannya

Ketahui arti mendalam dari ungkapan "Masya Allah", waktu yang tepat mengucapkannya, dan keutamaannya dalam Islam sebagai bentuk dzikir dan pengakuan kehendak Allah.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 10:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar ucapan Masya Allah terucap dari lisan kaum Muslimin. Ucapan ini sering kali muncul saat melihat sesuatu yang mengagumkan, indah, atau menyenangkan. Namun, tidak sedikit yang belum memahami arti sebenarnya dari ungkapan ini dan kapan waktu yang tepat untuk mengucapkannya.

Ungkapan Masya Allah bukan sekadar ekspresi spontan. Ia adalah dzikir yang penuh makna dan mengandung pengakuan terhadap kehendak dan kuasa Allah atas segala sesuatu di dunia. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengaitkan setiap peristiwa dalam hidup dengan takdir dan ketetapan dari Sang Pencipta.

Melalui artikel ini, Liputan6.com akan menggali lebih dalam makna kata Masya Allah, penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana Islam menempatkannya sebagai bagian dari akhlak dan dzikir seorang Muslim, Selasa (1/7/2025).

Arti Masya Allah dari Segi Bahasa dan Syariat

Secara bahasa, Masya Allah (ما شاء الله) berasal dari tiga kata: ma (ما) berarti “apa”, syaa (شاء) berarti “telah menghendaki”, dan Allah (الله) adalah nama Tuhan. Secara umum, kalimat ini bermakna “apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang terjadi” atau “inilah kehendak Allah”.

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul Karim Surat Al-Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan dua bentuk i’rab dari kalimat ini:

  1. Pertama, “Masya Allah” berarti “hadza maa syaa Allah” (هذا ما شاء الله), yang artinya: “Inilah yang dikehendaki oleh Allah.”
  2. Kedua, berarti “maa syaa Allahu kaana” (ما شاء الله كان), artinya: “Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka pasti terjadi.”

Dari sisi syariat, mengucapkan Masya Allah adalah bentuk dzikir dan pengakuan terhadap kehendak Allah atas segala sesuatu yang terjadi. Ini juga menjadi tanda bahwa kita tidak sombong atas apa yang dimiliki, serta tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kalimat ini juga muncul dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 39:

“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah.’” (QS. Al-Kahfi: 39)

Ayat ini menjadi dalil utama yang menunjukkan bahwa Masya Allah dianjurkan untuk diucapkan ketika seseorang merasa takjub atas suatu kenikmatan, baik milik sendiri maupun orang lain.

Kapan Sebaiknya Masya Allah Diucapkan?

Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir dan nasihat para ulama salaf, ucapan Masya Allah dianjurkan dalam berbagai situasi, khususnya saat menyaksikan sesuatu yang menakjubkan. Berikut beberapa kondisi ideal untuk mengucapkannya:

1. Melihat Keindahan

Saat melihat pemandangan alam yang mempesona, bangunan yang megah, atau karya seni yang luar biasa.

2. Melihat Nikmat yang Dimiliki Orang Lain

Misalnya ketika teman memiliki rumah baru, kendaraan indah, atau bayi yang lucu. Ini adalah bentuk dzikir sekaligus doa agar terhindar dari sifat iri dan penyakit ‘ain (penyakit mata yang disebabkan iri hati).

3. Saat Merasa Kagum atas Prestasi

Ketika mendengar seseorang lulus ujian, mendapat promosi, atau berhasil menyelesaikan suatu karya hebat.

4. Menyaksikan Kebesaran Allah

eperti saat terjadi fenomena alam yang luar biasa, seperti gerhana atau hujan deras setelah kekeringan.

5. Untuk Menghindari Ain

abi Muhammad SAW bersabda: “‘Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka itu adalah ‘ain.” (HR. Muslim)Oleh sebab itu, ketika melihat anak atau harta orang lain, kita dianjurkan mengucap Masya Allah agar tidak mencelakakan dengan pandangan penuh kekaguman.

Ucapan ini juga dapat digabungkan dengan doa, seperti Masya Allah Tabarakallah, yang artinya: “Apa yang dikehendaki oleh Allah telah terjadi, semoga Allah memberkati.”

FAQ Seputar Ucapan Masya Allah

1. Apa perbedaan antara Masya Allah dan Subhanallah?

Masya Allah diucapkan saat menyaksikan hal yang menakjubkan sebagai bentuk pengakuan atas kehendak Allah. Sedangkan Subhanallah berarti “Maha Suci Allah”, dan lebih tepat diucapkan saat menyaksikan hal yang mengherankan atau kejadian yang bernuansa negatif atau aneh.

2. Apakah Masya Allah hanya boleh diucapkan untuk hal-hal baik?

Ya, umumnya Masya Allah diucapkan ketika melihat sesuatu yang indah, baik, atau menakjubkan. Namun dalam konteks menerima musibah atau kejadian buruk, ungkapan yang lebih tepat adalah Innalillahi atau Alhamdulillah ala kulli haal.

3. Apa hukum mengucapkan Masya Allah?

Ucapan ini disyariatkan (dianjurkan) berdasarkan ayat Al-Kahfi: 39 dan penjelasan ulama. Mengucapkannya menjadi bentuk dzikir serta pengakuan terhadap kekuasaan Allah atas semua yang terjadi.

4. Bagaimana cara menjawab jika seseorang mengucap Masya Allah kepada kita?

Tidak ada jawaban khusus yang wajib, namun dianjurkan untuk membalas dengan kalimat baik seperti Jazakallah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) atau Barakallahu fiik (semoga Allah memberkahimu).