Sukses

Tips Aman Penderita Hipertensi Konsumsi Daging Kambing pada Hari Tasyrik, Selamat Makan-Makan..

Yang jadi masalah adalah ada sebagian dari kita yang ragu mengonsumi olahan daging kambing atau sapi karena mengidap penyakit. Salah satunya hipertensi

Liputan6.com, Jakarta - Setelah sholat Idul Adha, biasanya panitia kurban mulai menyembelih hewan kurban. Ada dua hewan ternak terpopuler sebagai qurban di Indonesia, yakni kambing dan sapi.

Hari Idul Adha dan tiga hari Tasyrik setelahnya disebut pula dengan hari makan-makan. Umat Islam dilarang berpuasa.

Pada hari itu, umat saling berbagi kegembiraan berupa daging kambing atau sapi. Oleh penerima, daging kurban itu kemudian diolah dengan aneka masakan; sate, gulai, digoreng, tongseng, dan lain sebagainya.

Nah, yang jadi masalah adalah ada sebagian dari kita yang ragu mengonsumi olahan daging kambing atau sapi karena mengidap penyakit. Salah satunya hipertensi.

Lantas, apakah penderita hipertensi boleh mengonsumsi daging kambing?

Berikut ini adalah ulasan lengkap batasan aman mengonsumsi daging kambing dan fakta-fakta mengenai daging kambing dan daging sapi, melansir telemed.ihc.id dan halodoc.com

 

Simak Video Pilihan Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Komposisi Nutrisi Daging Kambing

Mengutip halodoc.com, bagi penderita hipertensi, menjaga pola makan yang sehat dan seimbang sangat penting dalam mengelola tekanan darah dan kesehatan secara keseluruhan.

Salah satu pertanyaan umum yang sering muncul adalah apakah konsumsi daging kambing aman atau tidak bagi penderita hipertensi.

Sebelum mengetahui apakah daging kambing boleh dikonsumsi oleh penderita hipertensi atau tidak, akan lebih baik untuk terlebih dahulu mengetahui apa saja komposisi nutrisi dalam daging kambing. Daging kambing memiliki komposisi nutrisi yang berbeda dibandingkan dengan daging jenis lainnya.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak, kolesterol, dan natrium dalam daging kambing. Berikut penjelasan nutrisi yang terkandung dalam daging kambing:

1. Kandungan Lemak

Daging kambing mengandung lemak jenuh yang relatif tinggi. Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Oleh karena itu, bagi penderita hipertensi, disarankan untuk membatasi konsumsi lemak jenuh.

2. Kolesterol

Daging kambing mengandung kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging jenis lainnya. Konsumsi kolesterol berlebih dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung. Penderita hipertensi perlu membatasi asupan kolesterol, sehingga penggunaan daging kambing sebaiknya dikonsumsi dengan bijak.

3. Kandungan Natrium

Kandungan natrium dalam daging kambing juga perlu diperhatikan. Natrium dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga konsumsi garam dan makanan yang tinggi natrium perlu dibatasi oleh penderita hipertensi.

3 dari 5 halaman

Tips Aman Konsumsi Daging Kambing bagi Penderita Hipertensi

Penderita hipertensi masih diperbolehkan mengonsumsi daging kambing. Akan tetapi, konsumsi daging kambing oleh penderita hipertensi harus memperhatikan beberapa faktor penting, yaitu pemilihan daging kambing dan pengonlahan daging kambing, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Pilih Potongan Daging yang Rendah Lemak

Pilih potongan daging kambing yang rendah lemak, seperti daging tanpa lemak atau dengan lapisan lemak yang tipis. Hindari mengonsumsi bagian daging yang memiliki lemak yang terlalu banyak.

2. Batasi Konsumsi Jumlah dan Frekuensi

Mengontrol porsi dan frekuensi konsumsi daging kambing sangat penting bagi penderita hipertensi. Disarankan untuk mengonsumsi daging kambing dalam jumlah terbatas dan tidak terlalu sering.

3. Metode Pengolahan yang Sehat

Cara memasak dan mengolah daging kambing juga penting. Hindari penggunaan minyak berlebih, proses penggorengan, atau metode memasak yang menambahkan lemak dan natrium ke dalam daging. Lebih baik memilih metode pengolahan yang sehat seperti memanggang, merebus, atau memasak dengan sedikit minyak.

Bagi penderita hipertensi, konsumsi daging kambing perlu diperhatikan dengan bijaksana. Meskipun daging kambing mengandung lemak jenuh, kolesterol, dan natrium yang perlu dibatasi, dengan memilih potongan daging yang rendah lemak, membatasi jumlah dan frekuensi konsumsi, serta mengikuti metode pengolahan yang sehat, penderita hipertensi masih dapat menikmati daging kambing dalam konteks pola makan yang sehat dan seimbang. Penting untuk selalu menjaga pola makan yang sehat secara keseluruhan, memperhatikan porsi, dan mengikuti rekomendasi medis yang relevan.

4 dari 5 halaman

Lebih Sehat Mana, Daging Sapi atau Kambing?

Mengutip telemed.ihc.id, dari banyaknya jenis daging, daging ayam dan daging sapi merupakan jenis daging yang disukai banyak orang. Bahkan, chef setenar Gordon Ramsay (chef asal Inggris sekaligus pemilik restoran dengan penghargaan Michelin Stars) pun amat suka menyantap dan mengolah kedua daging ini. Namun, kira-kira lebih sehat daging sapi atau kambing ya?

Lihat Kandungan Nutrisinya

Daging kambing rasanya sudah terlanjur menjadi ‘kambing hitam’ dari meningkatnya kolesterol tubuh. Pasalnya, banyak orang beranggapan kalau kambing mengandung tinggi kolesterol. Namun, anggapan itu sebenarnya keliru, sebab menurut United States Department of Agriculture (USDA), kandungan kolesterol, lemak total, protein, dan kandungan kalori daging kambing lebih rendah ketimbang ayam, sapi, dan domba.

Kata ahli, kandungan kolesterol dalam sajian per 85 gram kambing sebanyak 63,8 miligram. Sementara itu dengan sajian yang sama, kandungan kolesterol di dalam daging sapi sebesar 73,1. Bagaimana dengan protein, lemak, kalsium, dan zat besi yang amat penting bagi tubuh?

Kata ahli, dalam sajian 100 gram kambing mengandung 16,6 gram protein, 9,2 gram lemak, 11 miligram kalsium dan 1 miligram zat besi. Sedangkan sapi mengandung 18,8 gram protein, 14 gram lemak, 11 miligram kalsium dan 2,8 mg zat besi.

Yang harus diingat, meski secara total kandungan kalori, lemak, kolesterol, dan protein dari daging kambing lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi, bukan berarti dirimu boleh mengonsumsi ‘seenaknya’.

Olah dengan Tepat

Memang bukan rahasia lagi sih kalau kadar kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi jadi biang keladi meningkatnya risiko penyakit jantung. Nah, omong-omong soal penyakit jantung, baik daging sapi maupun kambing kerap kali dituduh sebagai makanan yang sering kali memicunya.

Sebenarnya sih anggapan tersebut tak sepenuhnya salah, sebab kata ahli konsumsi daging merah (seperti kambing dan sapi) secara berlebihan memang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Mulai dari penyakit jantung hingga kanker usus.

5 dari 5 halaman

Tips Sehat Mengolah Daging Kambing dan Sapi

Meskipun begitu, kamu tetap bisa kok mengonsumsi kedua daging ini dengan aman, tentunya dengan teknik pengolahan yang tepat dan porsi yang sesuai. Nah, berikut beberapa hal yang mesti diperhatikan:

- Sebaiknya jangan memilih produk daging olahan. Misalnya, bakso, sosis, dll. sebab mengandung banyak lemak.

- Cobalah pilih bagian daging yang tak banyak lemak, seperti bagian punggung, daging khas dalam, atau daging kaki.

- Ketika mengolah kedua daging ini, usahakan hindari penggunaan garam dan minyak secara berlebih.

- Batasi porsinya, sebaiknya kamu tidak mengonsumsi daging melebihi 100 gram. Yang mesti diingat, variasikan menu daging dengan sayur agar lebih baik bagi kesehatan. Kata ahli, sayuran terbukti mampu menyerap kolesterol dengan efektif.

Pilih Kambing atau Sapi?

Hmmm, lalu lebih sehat mana antara daging sapi dan kambing? Menurut seorang profesor ilmu gizi, sudah selama 20 tahun terakhir para ahli merekomendasikan untuk mengonsumsi daging merah. Namun, tentu ada syarat dan aturan yang ketat agar konsumsinya tak menimbulkam masalah kesehatan. Pendek kata, asupan gizi yang terkandung dalam daging merah sangat bermanfaat, asalkan cara mengonsumsi dan porsinya tepat.

Baik daging sapi dan kambing sama-sama merupakan sumber terbaik untuk memenuhi kebutuhan lemak, protein, zat besi, kalori, kalsium, vitamin (vitamin A, B, dan D). Sekali lagi, yang mesti diperhatikan adalah cara mengolah dan jumlah porsi yang kamu konsumsi.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.