Peran Pemuda dalam Suara Rakyat di Negara Demokrasi, Cocok Jadi Renungan Gen-Z

Penting kiranya anak muda terutama Gen-Z kembali memahami pentingnya peran mereka dalam suara rakyat di negara demokrasi.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 13:12 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk mengingat peran generasi muda dalam perjalanan bangsa Indonesia. Semangat persatuan yang lahir pada 1928 tetap relevan untuk kehidupan saat ini, termasuk ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang membutuhkan perhatian bersama.

Merujuk International Institute for Democracy and Electoral Assistance, Promoting the Role of Youth in Political and Democratic Spaces, di negara demokrasi, pemuda memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengkritik kebijakan, dan ikut menentukan arah pembangunan. Kehadiran media sosial juga membuka kesempatan bagi generasi Z untuk ikut membicarakan isu publik, menyebarkan informasi, serta mengajak masyarakat terlibat secara aktif.

"Penting untuk berinvestasi baik pada cara-cara lama maupun baru untuk mendorong partisipasi kaum muda dalam demokrasi," tulis di laman tersebut.

Namun begitu, menyuarakan pendapat membutuhkan tanggung jawab dan pemahaman terhadap hak orang lain. Generasi muda perlu mampu membedakan fakta dari opini, menghargai perbedaan pandangan, dan memastikan aspirasi yang disampaikan memiliki dasar yang kuat.

Lantas, bagaimana pemuda bisa menjalankan perannya dalam demokrasi sekaligus meneruskan semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu? Simak selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Senin (27/10).

Semangat Sumpah Pemuda dan Maknanya bagi Demokrasi Indonesia

Merujuk muspada.kemenbud.go.id, teks Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 memuat tiga pokok utama, yaitu pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar tersebut menunjukkan tekad para pemuda dari berbagai daerah untuk membangun identitas bersama di tengah perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang.

Isi Sumpah Pemuda memiliki kaitan dengan kehidupan demokrasi karena masyarakat Indonesia terdiri atas beragam kelompok dengan kepentingan dan pandangan yang tidak selalu sama. Pengakuan terhadap satu tanah air dan satu bangsa mengingatkan bahwa perbedaan pendapat seharusnya tidak menghilangkan rasa persaudaraan. Sementara itu, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dapat menjadi sarana untuk bertukar pikiran, menyampaikan aspirasi, dan membangun kesepahaman.

Bagi Gen Z, nilai-nilai tersebut bisa diterapkan ketika menyampaikan kritik, mengikuti diskusi publik, maupun menggunakan media sosial untuk membicarakan persoalan bangsa. Kebebasan berpendapat perlu berjalan bersama penghormatan terhadap orang lain dan kepentingan bersama. Dengan memahami makna teks Sumpah Pemuda, generasi muda bisa melihat bahwa menjaga persatuan bukan berarti menyamakan semua pendapat, melainkan menghargai perbedaan sambil tetap berpegang pada tujuan bersama sebagai bangsa Indonesia.

Mengapa Suara Pemuda Penting dalam Negara Demokrasi?

Pemuda merupakan bagian dari masyarakat yang ikut merasakan dampak kebijakan publik. Persoalan pendidikan, kesempatan kerja, biaya hidup, akses teknologi, hingga lingkungan dapat memengaruhi kehidupan generasi muda. Karena itu, aspirasi mereka penting untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

Partisipasi pemuda juga membantu menghadirkan pengalaman dan kebutuhan yang mungkin belum mendapat perhatian memadai. Ketika generasi muda menyampaikan pendapat berdasarkan fakta dan pengalaman, pembuat kebijakan memiliki kesempatan untuk memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih beragam. Aspirasi tersebut bisa disalurkan melalui diskusi publik, organisasi, forum warga, maupun lembaga perwakilan.

International IDEA, organisasi antarpemerintah yang bergerak dalam penguatan demokrasi, menekankan pentingnya keterlibatan pemuda secara bermakna dalam proses demokrasi. Dalam pembahasannya mengenai ruang politik dan demokrasi, lembaga ini juga menyoroti perlunya suara generasi muda benar-benar didengar dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Artinya, partisipasi pemuda perlu melampaui kehadiran simbolis atau sekadar menjadi pelengkap dalam kegiatan politik.

Media Sosial Menjadi Ruang Baru untuk Menyuarakan Aspirasi

Media sosial memberikan kesempatan bagi Gen Z untuk membicarakan persoalan publik tanpa harus selalu melalui forum formal. Informasi mengenai kebijakan, pendidikan, lingkungan, dan kondisi masyarakat bisa dibagikan dengan cepat. Ruang digital juga memungkinkan pengguna membangun diskusi, menggalang dukungan, dan memperkenalkan persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Meski demikian, kemudahan menyebarkan informasi memiliki risiko. Konten yang belum terverifikasi, potongan video tanpa konteks, dan narasi yang memancing emosi bisa memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Jika informasi langsung dibagikan tanpa pemeriksaan, aspirasi yang seharusnya membantu diskusi publik justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Karena itu, pemuda perlu memeriksa sumber informasi, membaca isi berita secara utuh, dan membandingkan keterangan dari sumber yang tepercaya. Kritik juga sebaiknya berfokus pada persoalan, bukan menyerang identitas seseorang. Dengan kebiasaan tersebut, media sosial bisa digunakan untuk mendukung partisipasi warga sekaligus menjaga kualitas percakapan dalam demokrasi.

Kritis terhadap Kebijakan, tetapi Tetap Menghargai Perbedaan

Salah satu peran warga dalam demokrasi adalah mengawasi jalannya pemerintahan dan menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai bermasalah. Pemuda bisa menjalankan peran tersebut dengan mempelajari kebijakan yang dibahas, memahami dampaknya, serta mengajukan pertanyaan atau keberatan berdasarkan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sikap kritis tidak berarti harus menolak semua keputusan atau menganggap pendapat sendiri selalu benar. Demokrasi menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan yang berbeda, termasuk ketika suatu persoalan belum memiliki jawaban yang disepakati bersama. Diskusi yang sehat membutuhkan kesediaan untuk mendengar, memeriksa bukti, dan mempertimbangkan argumen dari pihak lain.

Gen Z dapat membangun kebiasaan berdiskusi tanpa merendahkan orang yang memiliki pilihan berbeda. Ketika menemukan informasi baru, mereka juga perlu bersedia meninjau kembali pendapatnya. Sikap tersebut membantu menjaga kebebasan berpendapat agar tetap berjalan bersama tanggung jawab, penghormatan terhadap hak orang lain, dan kepentingan masyarakat.

Cara Gen Z Berpartisipasi dalam Demokrasi Selain Memilih Saat Pemilu

Partisipasi demokrasi tidak terbatas pada pemberian suara ketika pemilihan umum berlangsung. Pemuda bisa terlibat dalam kehidupan publik melalui kegiatan yang dekat dengan lingkungan sehari-hari. Contohnya, mengikuti musyawarah warga, berdiskusi mengenai fasilitas umum, bergabung dengan organisasi, atau menyampaikan keluhan dan usulan melalui saluran resmi yang tersedia.

Di lingkungan sekolah dan kampus, partisipasi bisa dimulai dengan mengikuti organisasi siswa, badan perwakilan mahasiswa, atau forum diskusi. Kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk belajar menyusun usulan, mendengarkan kebutuhan anggota, mengambil keputusan bersama, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Pengalaman itu juga bisa menjadi bekal untuk berpartisipasi dalam ruang publik yang lebih luas.

Gen Z juga dapat berkontribusi dengan membantu menyebarkan informasi yang telah diperiksa, mengikuti perkembangan kebijakan, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Langkah tersebut tidak harus selalu berskala besar untuk memberikan manfaat. Hal yang penting adalah memahami persoalan, memilih cara penyampaian yang tepat, dan menjaga keberlanjutan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.

Membaca Ulang Teks Sumpah Pemuda

Salah satu cara memahami kembali peran pemuda dalam demokrasi adalah membaca teks asli Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut menegaskan persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia di tengah keberagaman. Nilai persatuan ini masih relevan dengan kehidupan demokrasi saat ini. Berikut teksnya:

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Peran Pemuda dalam Suara Rakyat di Negara Demokrasi

1. Mengapa pemuda penting dalam negara demokrasi?

Pemuda membawa aspirasi, pengalaman, dan kebutuhan generasi yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan publik.

2. Apa peran Gen Z dalam demokrasi?

Gen Z bisa menyampaikan aspirasi, mengikuti diskusi publik, mengawasi kebijakan, dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat.

3. Bagaimana cara menyuarakan pendapat secara bertanggung jawab?

Periksa fakta, gunakan alasan yang kuat, pilih saluran yang tepat, dan hormati hak orang lain.

4. Apakah media sosial bisa menjadi sarana partisipasi demokrasi?

Ya. Media sosial bisa digunakan untuk membahas isu publik dan menyampaikan aspirasi selama informasi diperiksa dan diskusi dijalankan secara bertanggung jawab.

5. Apa hubungan Sumpah Pemuda dengan demokrasi saat ini?

Semangat persatuan Sumpah Pemuda relevan untuk mendorong pemuda menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6