Sejarah Penerbangan di Indonesia: Dari Era Kolonial hingga Hari Penerbangan Nasional

Simak sejarah penerbangan di Indonesia dari masa kolonial hingga lahirnya Hari Penerbangan Nasional 27 Oktober, serta tantangan industri dirgantara hari ini.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 11:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap 27 Oktober, Indonesia memperingati Hari Penerbangan Nasional. Namun jejak sejarah penerbangan di Indonesia sebenarnya terbentang jauh lebih panjang dari satu tanggal itu. Kisahnya dimulai sejak masa kolonial, melalui pesawat uji coba sederhana, hingga menjadi tulang punggung konektivitas antarpulau yang menghubungkan ribuan pulau di seluruh wilayah Nusantara.

Sebuah negeri kepulauan tidak bisa bergantung pada kapal laut saja untuk menghubungkan wilayahnya yang terpisah oleh lautan luas. Dari kebutuhan itulah penerbangan tumbuh di Nusantara, lahir dari kepentingan militer kolonial sebelum akhirnya menjelma jadi sarana niaga dan simbol kedaulatan bangsa yang baru merdeka.

Artikel ini menelusuri sejarah penerbangan di Indonesia secara runtut, dari perintisan era kolonial, peristiwa heroik yang melahirkan Hari Penerbangan Nasional, kebangkitan maskapai nasional, sampai dinamika industri dirgantara hingga hari ini. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (26/10/2026).

Era Perintisan dan Penerbangan Kolonial

Penerbangan pertama di Hindia Belanda tercatat terjadi di Surabaya pada 19 Februari 1913. Seorang penerbang asal Belanda bernama Hilgers melakukan uji coba di sebuah lapangan berumput, namun pesawatnya jatuh di Kampung Baliwerti. Peristiwa itu menjadi kecelakaan penerbangan pertama yang tercatat di tanah air.

Setahun berikutnya, pemerintah kolonial membentuk Proefvliegafdeeling atau Divisi Ujicoba Penerbangan. Menurut penelitian Dwi Adi Wicaksono dan Abdul Wahid dalam artikel "Kolaborasi dan Intervensi: Pengembangan Maskapai Penerbangan Komersial Hindia Belanda, 1928–1940-an" yang terbit di jurnal Lembaran Sejarah Volume 17 Nomor 2, Universitas Gadjah Mada, Oktober 2021, divisi ini dibentuk untuk meninjau kelayakan pengoperasian pesawat sekaligus menjawab kritik anggota Volksraad soal keamanan penerbangan saat itu.

Penerbangan sipil komersial baru benar-benar lahir setelah KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) berdiri pada 1928. Maskapai ini membuka rute Batavia-Bandung dan Batavia-Surabaya, lalu berkembang hingga ke Singapura dan Australia dalam waktu kurang dari satu dekade, menjadikannya satu-satunya maskapai komersial di Hindia Belanda saat itu.

Menurut penelitian Dadan Adi Kurniawan dalam artikel "Menelusuri Jejak Awal Penerbangan di Indonesia (1913-1950-an)" yang terbit di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, Bandara Kemayoran mulai beroperasi pada 1940 sebagai bandara internasional pertama di Hindia Belanda, melayani rute menuju Singapura dan Australia. Namun seluruh kemajuan itu terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, dan seluruh maskapai berbau Barat dilarang beroperasi selama masa pendudukan.

Titik Balik Kemerdekaan dan Lahirnya Hari Penerbangan Nasional

Pada 27 Oktober 1945, langit Yogyakarta menjadi saksi peristiwa yang mengubah sejarah penerbangan di Indonesia. Agustinus Adisutjipto, mantan pilot ML-KNIL, menerbangkan pesawat Cureng bermotif merah putih dari Lapangan Udara Maguwo. Keberhasilan ini bukan kerja satu orang, melainkan buah tangan sekitar 30 bekas teknisi dan mekanik yang sebelumnya membentuk tim reparasi untuk memperbaiki pesawat-pesawat rusak peninggalan Jepang di pangkalan tersebut.

Adisutjipto sendiri tidak sempat menyaksikan penerbangan nasional berkembang jauh. Pada 29 Juli 1947, saat Agresi Militer Belanda I berlangsung, ia bersama Abdulrachman Saleh dan Adisumarmo gugur ketika pesawat Dakota VT-CLA yang mereka tumpangi ditembak jatuh pesawat tempur Belanda di perbatasan Desa Ngoto, dalam perjalanan pulang dari misi mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah. Kematian ketiganya bersamaan inilah yang membuat nama mereka selalu disebut berdampingan sebagai perintis penerbangan nasional.

Tanggal peringatan atas jasa mereka sendiri sempat berbeda dari yang dikenal sekarang. Sejak 1962 hingga 1974, peringatan Hari Penerbangan Nasional jatuh setiap 9 April, bukan 27 Oktober. Baru pada 1973, Kementerian Perhubungan bersama TNI AU menetapkan ulang tanggal resminya menjadi 27 Oktober karena dianggap lebih sesuai dengan dasar historis peristiwa penerbangan perdana pesawat merah putih tersebut.

Kebangkitan Penerbangan Komersial Nasional

Setelah Konferensi Meja Bundar pada 1949, pemerintah Indonesia bersama KLM mendirikan NV. Garuda Indonesia Airways sebagai perusahaan patungan. Nama Garuda sendiri diusulkan langsung oleh Presiden Soekarno, diambil dari nama burung kendaraan Dewa Wisnu, dan maskapai ini resmi berkedudukan di Jakarta.

Pada tahap awal, menurut penelitian Dwi Adi Wicaksono dalam artikel "Nasionalisasi Garuda Indonesia, 1950—1958" yang terbit di jurnal Lembaran Sejarah Volume 12 Nomor 2, Universitas Gadjah Mada, Oktober 2016, mayoritas manajemen dan pilot Garuda masih dipegang oleh KLM karena tenaga kerja pribumi belum memiliki cukup pengalaman teknis. Proses pengalihan penuh kepada Indonesia pun berjalan bertahap selama hampir satu dekade.

Proses nasionalisasi baru benar-benar terwujud pada 1958, setelah pemerintah mengakuisisi seluruh saham KLM di Garuda Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari program Indonesianisasi, yakni pengiriman calon pilot ke sekolah penerbangan di Hamble, Inggris, dan pendirian Akademi Penerbangan Indonesia di Kemayoran.

Begitu sepenuhnya dikelola bangsa sendiri, Garuda Indonesia tumbuh menjadi maskapai unggulan nasional yang melayani rute domestik maupun internasional. Perjalanan ini membuktikan bahwa kemandirian penerbangan komersial Indonesia dibangun lewat proses panjang dan bertahap, bukan sekadar keputusan politik yang diambil dalam semalam.

Dinamika Industri Dirgantara Indonesia dan Tantangan Masa Kini

Selain maskapai, Indonesia juga membangun industri manufaktur pesawat sendiri. Gagasan ini dimulai oleh teknisi Angkatan Udara bernama Nurtanio Pringgoadisuryo, yang mendirikan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan atau LAPIP pada 1961 untuk mengakomodasi fasilitas, peralatan, bahan, dan sumber daya manusia.

Menurut penelitian Ageng Dwi Prastyawan dan Nasution dalam artikel "Dinamika Industri Pesawat Terbang Indonesia Tahun 1966-1998" yang terbit di jurnal AVATARA Volume 5 Nomor 1, Universitas Negeri Surabaya, Maret 2017, nama lembaga ini berubah menjadi LIPNUR untuk menghormati Nurtanio yang gugur dalam uji terbang pada 1966. Satu dekade kemudian, lembaga itu melebur dengan divisi milik Pertamina dan berganti nama menjadi IPTN pada 1976.

Di bawah kepemimpinan B.J. Habibie, IPTN mencetak sejumlah pencapaian, termasuk peluncuran pesawat N-250 Gatotkoco pada 1995 yang dirancang sepenuhnya oleh tenaga ahli Indonesia. Namun krisis moneter 1997 memaksa pemerintah menghentikan sejumlah proyek strategis, termasuk pendanaan IPTN, sebagai syarat pinjaman dari IMF.

Pengalaman itu menjadi pelajaran penting bagi industri dirgantara nasional hingga kini. Membangun kemampuan teknologi penerbangan sendiri terbukti membutuhkan konsistensi kebijakan dan dukungan jangka panjang dari pemerintah, bukan hanya semangat sesaat di satu masa pemerintahan tertentu saja.

Pertanyaan Seputar Sejarah Penerbangan di Indonesia

1. Kapan penerbangan pertama kali ada di Indonesia? Penerbangan pertama di Indonesia tercatat pada 19 Februari 1913 di Surabaya, saat seorang penerbang Belanda bernama Hilgers melakukan uji coba terbang.

2. Mengapa Hari Penerbangan Nasional diperingati setiap 27 Oktober? Tanggal itu merujuk pada peristiwa penerbangan pesawat Cureng bercat merah putih dari Lapangan Udara Maguwo pada 27 Oktober 1945, simbol kedaulatan udara Indonesia yang baru merdeka.

3. Kapan Garuda Indonesia resmi dikuasai penuh oleh pemerintah Indonesia? Proses nasionalisasi Garuda Indonesia rampung pada awal 1958, setelah pemerintah mengakuisisi seluruh saham yang sebelumnya dimiliki KLM.

4. Siapa tokoh di balik industri pesawat terbang Indonesia? Industri pesawat terbang Indonesia dirintis oleh Nurtanio Pringgoadisuryo lewat pendirian LAPIP pada 1961, yang kemudian berkembang menjadi IPTN di bawah B.J. Habibie.

5. Apa penyebab kolapsnya industri pesawat terbang IPTN? IPTN mengalami kemunduran akibat krisis moneter 1997, yang memaksa pemerintah menghentikan pendanaan sejumlah proyek strategis sebagai syarat pinjaman dari IMF.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6