12 Merek Tertua RI yang Masih Bertahan, Rahasia Bisnis Awet 1 Abad

Simak kisah 12 merek tertua RI yang masih bertahan lebih dari satu abad, dari kecap, jamu, kopi, roti, hingga sirup legendaris.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki sejumlah merek tertua RI yang masih bertahan meski usianya melewati satu abad. Merek ini lahir sejak masa Hindia Belanda, mulai dari kecap, jamu, kopi, rokok, hingga susu, dan tetap dikenal luas oleh masyarakat hingga hari ini.

Sebagian merek dirintis dari usaha rumahan sederhana oleh pedagang lokal, sementara lainnya masuk ke Indonesia sebagai produk impor dari Eropa. Perjalanan panjang membuat merek ini melewati masa penjajahan, perang, hingga pergantian pemilik usaha.

Asal usul merek-merek tersebut sangat beragam. Ada yang bermula dari usaha rumahan kecil-kecilan yang dirintis pedagang keturunan Tionghoa, ada pula yang awalnya merupakan produk impor dari Eropa yang kemudian membangun pabrik di tanah air. Berikut ulasan lengkap merek legendaris Indonesia beserta jejak singkat sejarahnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (19/8/2026).

Merek Tertua RI yang Masih Bertahan

1. Kecap Cap Istana (1882)

Kecap Cap Istana tercatat sebagai salah satu merek tertua di Indonesia, berdiri sejak 1882 di kawasan Pasar Lama, Tangerang. Pendirinya, Teng Hay Soey, merupakan pedagang keturunan Tionghoa yang usahanya kemudian diteruskan oleh Teng Giok Seng. Produk ini juga dikenal dengan sebutan Kecap Benteng karena diproduksi di kawasan yang dulu dijuluki kota benteng. Hingga kini, proses produksinya masih mempertahankan cara tradisional dengan mengandalkan tenaga manusia.

2. Djie Sam Soe (1913)

Merek rokok legendaris ini bermula dari usaha kecil bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee yang dirintis pada 1913. Nama Dji Sam Soe diambil dari pelafalan angka 2, 3, dan 4 dalam bahasa China. Bisnis ini berkembang pesat hingga sempat mempekerjakan ribuan pelinting rokok, dengan puncak produksi mencapai sekitar tiga juta batang per minggu pada 1940. Usaha rintisan ini kelak dikenal sebagai Sampoerna.

3. Kapal Api (1927)

Perantau asal Fujian, Go Soe Loet, mendirikan usaha kopi ini pada 1927 di Surabaya setelah melihat besarnya kebiasaan minum kopi masyarakat setempat. Produk awalnya dikemas dengan merek HAP Hootjan sebelum dikenal luas sebagai Kapal Api, nama yang terinspirasi dari pengalamannya menaiki kapal uap menuju Jawa. Bisnis ini kemudian berkembang di bawah generasi kedua dan mulai melakukan ekspor pada 1985.

Merek Tertua RI yang Masih Bertahan

4. Jamu Jago (1918)

Dirintis oleh T.K. Suprana pada 1918 di Wonogiri, Jamu Jago awalnya dibuat secara tradisional dan hanya dijual di sekitar tempat usaha. Seiring waktu, jangkauan pemasarannya meluas ke Solo, lalu ke berbagai wilayah di Pulau Jawa pada 1936. Pusat kegiatan usaha dipindahkan ke Semarang pada 1945, dan merek ini tetap memproduksi berbagai produk jamu hingga sekarang.

5. Njonja Meneer (1919)

Merek jamu ini identik dengan sosok Lauw Ping Nio, yang mulai meracik jamu secara sederhana pada 1919 di Semarang. Produk-produknya yang dikenal dengan sebutan jamu cap potret Njonja Meneer sempat mendapat julukan "Ratu Jamu" karena digunakan berbagai kalangan masyarakat. Pemasarannya meluas hingga ke Jakarta pada 1940, menjadikannya salah satu nama paling dikenal dalam industri jamu nasional.

6. Roti Tan Ek Tjoan (1920)

Bakery legendaris ini lahir di Bogor pada 1920, didirikan oleh pasangan Tan Ek Tjoan dan Phia Lin Nio yang mempelajari teknik pembuatan roti dari orang Belanda. Meski sudah berganti generasi pengelola, Roti Tan Ek Tjoan tetap eksis dan menjadi salah satu merek roti tertua yang masih bertahan lintas generasi di Indonesia.

Merek Tertua RI yang Masih Bertahan

7. Frisian Flag (1922)

Berbeda dari kebanyakan merek lain, Frisian Flag awalnya bukan produk buatan dalam negeri, melainkan produk susu impor bernama Frische Vlag yang mulai masuk ke Hindia Belanda pada 1922. Pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, baru mulai dibangun pada 1969, dan produksi susu kental manis secara lokal dimulai pada 1971.

8. Cap Badak / Sarsaparila (1916)

Minuman bersoda rasa sarsaparila ini diproduksi oleh PT Pabrik Es Siantar yang dirintis pada 1916 oleh Heinrich Surbeck, seorang ahli kimia asal Swiss, di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Di tengah gempuran minuman kemasan modern, Cap Badak tetap eksis dan dikenang sebagai salah satu merek minuman legendaris tertua di Indonesia.

9. Bango (1928)

Kecap Bango bermula dari industri rumahan pasangan Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio di kawasan Benteng, Tangerang, sejak 1928. Produksinya sempat terhenti pada 1939-1947 akibat kelangkaan bahan baku selama masa perang. Setelah bangkit kembali dan berkembang ke berbagai daerah, Bango diakuisisi oleh Unilever pada 2001 dan tetap menjadi salah satu merek kecap paling dikenal masyarakat.

Merek Tertua RI yang Masih Bertahan

10. Tolak Angin (1930)

Racikan jamu masuk angin ini pertama kali dibuat oleh Rakhmat Sulistio pada 1930 di Ambarawa. Usaha jamu tersebut kemudian berkembang menjadi perusahaan Sido Muncul yang didirikan pada 1951 di Semarang. Dari racikan sederhana, Tolak Angin kini menjadi salah satu produk jamu paling populer di Indonesia.

11. Bir Bintang (1931)

Berawal dari pabrik NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen yang berdiri di Surabaya pada 1931, merek ini kemudian dikenal luas melalui produk Bir Bintang. Seiring perubahan selera konsumen, perusahaan juga mengembangkan berbagai varian produk, termasuk minuman tanpa alkohol, agar tetap relevan di pasar modern.

12. Blue Band (1934)

Margarin ini pertama kali diperkenalkan ke Hindia Belanda pada 1934 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa yang tinggal di wilayah tersebut. Pabrik pengolahan mulai beroperasi di Batavia pada 1936. Blue Band kemudian membangun citra sebagai produk pendukung gizi keluarga dengan kandungan vitamin A dan D, dan masih dijual luas di Indonesia hingga sekarang.

Pelajaran dari Merek Tertua RI yang Masih Bertahan

Jika ditelusuri lebih jauh, ada beberapa pola yang membuat merek-merek berusia satu abad ini tetap bertahan hingga sekarang.

  • Pertama, banyak di antaranya berhasil melewati masa krisis, seperti Perang Dunia II dan berbagai gejolak ekonomi, tanpa kehilangan identitas produknya.
  • Kedua, sebagian besar merek melakukan regenerasi kepemilikan usaha dari generasi pertama ke generasi berikutnya, sehingga bisnis tidak berhenti meski pendirinya sudah tiada.
  • Ketiga, tidak sedikit merek yang akhirnya bergabung dengan perusahaan besar melalui akuisisi, seperti yang terjadi pada Bango yang kini berada di bawah Unilever. Langkah ini justru membantu perluasan distribusi dan modernisasi proses produksi tanpa menghilangkan nama besar yang sudah dikenal masyarakat selama puluhan tahun.
  • Keempat, kemampuan beradaptasi dengan selera dan kebutuhan konsumen modern juga menjadi faktor penting. Bir Bintang, misalnya, mengembangkan varian tanpa alkohol untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas, sementara Blue Band terus memperbarui kemasan dan positioning produknya sebagai bagian dari kebutuhan gizi keluarga. Bahkan merek yang lebih kecil seperti Cap Badak dan Roti Tan Ek Tjoan pun tetap bertahan karena konsisten menjaga resep dan cita rasa khas sejak awal berdiri.

Deretan merek tertua RI yang masih bertahan ini menunjukkan bahwa kualitas produk, adaptasi terhadap zaman, dan regenerasi kepemilikan usaha menjadi kunci utama sebuah merek dapat terus eksis lintas generasi, bahkan setelah lebih dari satu abad berdiri.

Pertanyaan Seputar Merek Tertua RI

Apa merek tertua RI yang masih bertahan hingga sekarang?

Kecap Cap Istana dianggap sebagai merek tertua yang masih bertahan di Indonesia, berdiri sejak 1882 di Tangerang dan sudah berusia lebih dari 140 tahun.

Selain 10 merek yang populer, apa saja tambahan merek tertua lainnya?

Dua tambahan yang tak kalah tua adalah Cap Badak, minuman sarsaparila dari Pematangsiantar sejak 1916, dan Roti Tan Ek Tjoan, bakery legendaris dari Bogor sejak 1920.

Mengapa merek-merek lawas ini bisa bertahan hingga lebih dari satu abad?

Merek-merek ini bertahan berkat regenerasi kepemilikan usaha, adaptasi terhadap selera pasar, serta sebagian di antaranya melalui proses akuisisi oleh perusahaan besar seperti Bango yang diakuisisi Unilever.

Apakah semua merek tertua ini murni buatan asli Indonesia?

Tidak semua. Sebagian seperti Frisian Flag dan Blue Band awalnya merupakan produk impor dari Eropa yang kemudian membangun basis produksi dan pasar di Indonesia.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6