Liputan6.com, Jakarta - Bagi generasi yang lebih tua, kerja keras selalu dianggap sebagai kunci utama untuk meraih kesuksesan. Bahkan, rasa lelah hingga kelelahan karena pekerjaan sering dipandang sebagai bukti dedikasi dan etos kerja yang tinggi.
Namun, pandangan tersebut mulai berubah di kalangan Gen Z. Mereka memiliki definisi sukses yang berbeda dan lebih mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak prinsip yang dulu ditanamkan kepada Gen X dan Milenial kini dianggap tidak lagi relevan.
Berikut delapan pandangan tentang kesuksesan yang dulu diyakini Gen X dan Milenial, tetapi kini mulai dipertanyakan oleh Gen Z.
Advertisement
1. Fleksibilitas Harus Didapatkan Setelah Bertahun-tahun Bekerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3147005/original/033411800_1591619574-woman-in-blue-suit-jacket-2422293__1_.jpg)
Banyak Gen X dan Milenial percaya bahwa hak seperti bekerja dari rumah, jam kerja yang fleksibel, atau cuti yang lebih leluasa harus diperoleh setelah menunjukkan loyalitas dan prestasi dalam waktu yang lama.
Sementara itu, Gen Z menganggap fleksibilitas merupakan bagian dari standar kerja yang seharusnya sudah tersedia sejak awal.
Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap work-life balance sehingga fasilitas seperti sistem kerja fleksibel, upah yang layak, dan hak cuti bukan lagi dianggap sebagai hadiah, melainkan kebutuhan dasar dalam dunia kerja modern.
Advertisement
2. Berganti Karier Menunjukkan Kelemahan
Bagi generasi sebelumnya, bertahan di satu perusahaan atau satu bidang pekerjaan selama puluhan tahun sering dianggap sebagai bukti komitmen dan kesuksesan.
Sebaliknya, Gen Z tidak ragu berpindah pekerjaan jika merasa sudah tidak berkembang atau nilai perusahaan tidak lagi sejalan dengan prinsip mereka.
Mereka melihat perpindahan karier sebagai cara untuk terus belajar, berkembang, dan menemukan pekerjaan yang lebih bermakna, bukan sebagai tanda kegagalan.
3. Kerja Keras Adalah Segalanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961084/original/033807000_1728179403-pexels-yankrukov-7640774.jpg)
Gen X dan Milenial banyak dibesarkan dengan keyakinan bahwa orang yang bekerja paling keras akan menjadi orang yang paling sukses.
Karena itu, tidak sedikit yang rela mengorbankan waktu istirahat, keluarga, hingga kehidupan pribadi demi pekerjaan.
Gen Z tidak menolak pentingnya kerja keras. Namun, mereka percaya bahwa kesuksesan juga dipengaruhi oleh tujuan hidup, keseimbangan, dan kebahagiaan.
Bagi mereka, bekerja keras memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Advertisement
4. Masalah Kesehatan Mental Tidak Perlu Dibawa ke Tempat Kerja
Banyak Gen X dan Milenial tumbuh dalam lingkungan yang menganggap persoalan kesehatan mental sebaiknya disimpan sendiri dan tidak dibahas di kantor.
Mereka diajarkan untuk tetap profesional serta memisahkan masalah pribadi dari pekerjaan.
Sebaliknya, Gen Z lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Mereka percaya bahwa kondisi psikologis juga memengaruhi produktivitas sehingga perusahaan seharusnya memberikan dukungan dan ruang yang lebih baik bagi karyawan.
Menurut mereka, tempat kerja yang peduli terhadap kesehatan mental justru akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
5. Mengikuti Jalur Hidup Sesuai Tradisi Pasti Berhasil
Generasi sebelumnya banyak diajarkan bahwa jalan menuju sukses sudah memiliki pola yang jelas, yaitu kuliah, mendapatkan pekerjaan tetap, lalu bekerja di satu bidang hingga pensiun.
Konsep tersebut memang berhasil bagi sebagian Gen X dan Milenial.
Namun, Gen Z hidup di tengah kondisi ekonomi yang berbeda. Biaya hidup semakin tinggi, pasar kerja lebih kompetitif, dan keamanan pekerjaan tidak lagi seperti dulu.
Akibatnya, banyak dari mereka mulai mempertanyakan apakah sesuai tradisi masih menjadi satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan.
Advertisement
6. Naik Jabatan Adalah Tujuan Utama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5206271/original/062032600_1746161506-Bekerja_bersama_rekan_kerja.jpg)
Banyak Gen X dan Milenial memandang promosi jabatan, kenaikan gaji, dan posisi yang semakin tinggi sebagai tolok ukur keberhasilan dalam karier.
Sementara itu, Gen Z tidak selalu memiliki ambisi yang sama. Mereka lebih tertarik bekerja di perusahaan yang menghargai keseimbangan hidup, memberi fleksibilitas, dan memiliki budaya kerja yang sehat.
Bagi mereka, kesuksesan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga kualitas hidup.
7. Loyal kepada Perusahaan Akan Menjamin Kesuksesan
Banyak Gen X dan sebagian Milenial percaya bahwa kesetiaan kepada perusahaan pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Mengorbankan waktu pribadi, tetap bekerja saat dibutuhkan, dan bertahan selama bertahun-tahun dianggap sebagai investasi untuk masa depan karier.
Namun, Gen Z melihat kenyataan yang berbeda. Maraknya pemutusan hubungan kerja dan pemangkasan gaji membuat mereka menyadari bahwa loyalitas belum tentu dibalas dengan perlakuan yang sama dari perusahaan.
Karena itu, mereka lebih memilih mencari tempat kerja yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidup dibanding bertahan hanya demi loyalitas.
Advertisement
8. Hidup untuk Bekerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4456876/original/011234900_1686127188-pexels-cottonbro-studio-4065625_1_.jpg)
Bagi banyak anggota Gen Z, bekerja hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan pusat dari seluruh hidup mereka.
Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan menikmati hidup, bukan untuk membuktikan diri kepada atasan atau menjadikan karier sebagai satu-satunya tujuan hidup.
Sebaliknya, banyak Gen X dan Milenial dibesarkan dengan keyakinan bahwa pekerjaan harus menjadi prioritas utama. Kelelahan bahkan sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh.
Padahal, pola pikir seperti ini justru bisa berdampak buruk terhadap produktivitas dan kesehatan dalam jangka panjang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235847/original/008548600_1748436881-horny-short-haired-lady-glasses-with-red-lipstick-is-emotionally-exulting-while-sitting-working-place-with-laptop-croissant.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315930/original/092391700_1785904450-Screenshot_2026-08-05_112755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6097917/original/015948300_1778984183-memuat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316412/original/047092600_1785926699-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459186/original/027332200_1621386353-brooke-cagle-g1Kr4Ozfoac-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562440/original/009422100_1776829501-Vacuum_Cleaner.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316396/original/039940800_1785925328-c9ee8081-21f0-4eb9-bf2a-c872f00f5a33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316313/original/095012900_1785921528-b30dbe10-a032-4335-bc53-3a814b11602f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3966868/original/027591300_1647571642-pexels-mentatdgt-2559055.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381674/original/021195100_1760514657-pexels-cottonbro-4659794.jpg)