Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan fisik memengaruhi kesehatan mental jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Banyak orang hanya fokus menjaga tubuh agar terhindar dari penyakit, padahal kondisi fisik juga berperan penting dalam menjaga suasana hati, kemampuan berpikir, hingga ketahanan menghadapi stres.
Tubuh dan pikiran bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Ketika tubuh memperoleh nutrisi yang cukup, bergerak secara aktif, dan beristirahat dengan baik, otak pun dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Sebaliknya, gangguan pada kesehatan fisik sering kali diikuti penurunan kesejahteraan psikologis.
Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat hubungan tersebut. Organisasi kesehatan, jurnal ilmiah, hingga lembaga riset kesehatan mental menyimpulkan bahwa menjaga kebugaran tubuh merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mendukung kesehatan mental dalam jangka panjang. Brikut ulasan Liputan6.com, Kamis (30/7/2026).
Advertisement
Bagaimana Kesehatan Fisik Memengaruhi Kesehatan Mental?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243662/original/033477000_1749110589-romantic-couple-celebrating-valentine-s-day-together-home__1_.jpg)
Selama bertahun-tahun, kesehatan fisik dan kesehatan mental sering dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Ketika seseorang mengalami sakit kepala, nyeri sendi, atau tekanan darah tinggi, ia akan berkonsultasi dengan dokter umum. Sebaliknya, saat mengalami kecemasan atau depresi, ia mencari bantuan psikolog maupun psikiater.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan dua arah yang sangat erat. Menurut Sapien Labs, hubungan pikiran dan tubuh (mind-body connection) menggambarkan bagaimana kondisi fisik dapat memengaruhi kesehatan mental, sekaligus bagaimana kondisi mental mampu memengaruhi fungsi tubuh.
Hal serupa dijelaskan oleh Change Mental Health yang menyebutkan bahwa merawat tubuh sama pentingnya dengan merawat pikiran. Aktivitas fisik, pola makan sehat, dan tidur yang berkualitas bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga membantu mengurangi risiko gangguan kecemasan, depresi, serta stres berkepanjangan.
Jurnal Role of Physical Activity on Mental Health and Well-Being: A Review yang diterbitkan di Cureus tahun 2023 juga menyimpulkan bahwa aktivitas fisik memberikan manfaat nyata terhadap kesehatan mental melalui berbagai mekanisme biologis maupun psikologis. Olahraga terbukti berkaitan dengan peningkatan suasana hati, kualitas hidup, fungsi kognitif, hingga kualitas tidur.
Dengan kata lain, kesehatan fisik memengaruhi kesehatan mental bukan sekadar anggapan, melainkan telah didukung oleh banyak bukti ilmiah.
Mengapa Tubuh dan Pikiran Saling Terhubung?
Hubungan tubuh dan pikiran terjadi karena hampir seluruh sistem di dalam tubuh saling berkomunikasi. Otak tidak bekerja sendiri, melainkan menerima sinyal dari hormon, sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, hingga saluran pencernaan.
Ketika seseorang mengalami stres berat, misalnya, otak akan meningkatkan produksi hormon kortisol. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, tubuh mulai mengalami berbagai perubahan, seperti tekanan darah meningkat, kualitas tidur menurun, gangguan pencernaan, hingga daya tahan tubuh melemah.
Sebaliknya, ketika seseorang rutin bergerak aktif, tubuh menghasilkan berbagai senyawa kimia yang mendukung kesehatan otak. Menurut ulasan dalam jurnal Cureus, olahraga membantu meningkatkan produksi endorfin, endocannabinoid, serta memperbaiki fungsi sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA axis) yang berperan dalam mengendalikan respons terhadap stres. Aktivitas fisik juga meningkatkan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yaitu protein yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel-sel saraf sehingga fungsi otak tetap optimal.
Inilah alasan mengapa setelah berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, banyak orang merasa pikirannya lebih ringan dan emosinya lebih stabil.
Advertisement
Faktor-Faktor Fisik yang Paling Berpengaruh terhadap Kesehatan Mental
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4592812/original/045820200_1695984542-gabin-vallet-J154nEkpzlQ-unsplash.jpg)
Hubungan antara tubuh dan pikiran dipengaruhi oleh banyak aspek kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa faktor yang memiliki peranan paling besar.
1. Aktivitas fisik membantu menurunkan stres
Olahraga merupakan salah satu cara paling efektif menjaga kesehatan mental.
Menurut Change Mental Health, aktivitas fisik mampu menurunkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Di saat yang sama, olahraga meningkatkan rasa percaya diri karena seseorang merasakan pencapaian setelah menyelesaikan latihan.
Sementara itu, jurnal Cureus menjelaskan bahwa olahraga juga meningkatkan fokus, perhatian, kemampuan mengambil keputusan, serta memperbaiki suasana hati. Efek tersebut bahkan dapat bertahan hingga beberapa jam setelah aktivitas selesai.
Menariknya, manfaat tersebut tidak hanya diperoleh dari olahraga berat. Jalan kaki santai, bersepeda, berenang, yoga, hingga berkebun juga dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten.
2. Pola makan menentukan cara otak bekerja
Makanan bukan hanya sumber energi bagi tubuh, tetapi juga menjadi "bahan bakar" bagi otak.
Menurut Change Mental Health, pola makan yang kaya buah, sayuran, biji-bijian utuh, ikan berlemak, dan sumber asam lemak omega-3 berhubungan dengan suasana hati yang lebih baik. Sebaliknya, konsumsi tinggi makanan ultra-proses, gula tambahan, lemak jenuh, dan karbohidrat olahan berpotensi meningkatkan peradangan yang berkaitan dengan risiko depresi.
Salah satu penjelasan ilmiahnya berasal dari konsep poros usus-otak (gut-brain axis). Saluran pencernaan ternyata memiliki komunikasi dua arah dengan otak melalui jaringan saraf, hormon, dan mikrobiota usus.
Sapien Labs menjelaskan bahwa kesehatan usus dapat memengaruhi emosi, kemampuan berpikir, hingga respons terhadap stres. Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota usus melalui konsumsi makanan bergizi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.
3. Tidur berkualitas menjaga kestabilan emosi
Kurang tidur sering dianggap sebagai masalah sepele, padahal dampaknya terhadap kesehatan mental sangat besar.
Saat seseorang tidur, otak melakukan berbagai proses penting, mulai dari memperkuat memori, mengatur emosi, hingga memperbaiki jaringan tubuh. Jika waktu tidur terus berkurang, kemampuan otak mengendalikan emosi ikut menurun.
Menurut Change Mental Health, kurang tidur membuat seseorang lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, cemas, hingga lebih rentan mengalami depresi.
Temuan tersebut diperkuat dalam jurnal Cureus yang menyebutkan bahwa olahraga rutin mampu meningkatkan kualitas maupun durasi tidur. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas fisik sedang hingga berat memberikan dampak positif terhadap kualitas tidur, termasuk pada individu yang mengalami gangguan mental.
Dengan demikian, olahraga dan tidur memiliki hubungan yang saling menguatkan. Aktivitas fisik membantu tidur lebih nyenyak, sedangkan tidur yang berkualitas membuat kondisi mental lebih stabil.
4. Penyakit kronis meningkatkan beban psikologis
Hubungan antara tubuh dan pikiran juga terlihat jelas pada penderita penyakit kronis.
Change Mental Health memperkirakan sekitar sepertiga orang dewasa hidup dengan kondisi kesehatan jangka panjang seperti diabetes, asma, sindrom kelelahan kronis, maupun penyakit lainnya. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan keluhan fisik, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Rasa nyeri yang terus-menerus, keterbatasan aktivitas, biaya pengobatan, perubahan pekerjaan, hingga kekhawatiran mengenai masa depan dapat memicu stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan depresi.
Sapien Labs juga menjelaskan bahwa cara seseorang memandang penyakit yang dialaminya ikut menentukan kondisi psikologisnya. Orang yang mampu menerima proses pemulihan umumnya lebih mudah beradaptasi dibandingkan mereka yang terus-menerus larut dalam frustrasi dan pikiran negatif.
Akibatnya, muncul lingkaran yang sulit diputus. Kondisi fisik yang memburuk memperburuk kesehatan mental, sementara tekanan mental membuat proses pemulihan fisik berjalan lebih lambat.
5. Perubahan hormon juga memengaruhi kondisi mental
Selain gaya hidup, perubahan biologis di dalam tubuh turut memengaruhi kesehatan mental. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah hormon.
Menurut Change Mental Health, perempuan lebih sering mengalami perubahan suasana hati akibat fluktuasi hormon pada beberapa fase kehidupan, seperti menjelang menstruasi, selama kehamilan, setelah melahirkan, hingga memasuki masa menopause. Pada sebagian perempuan, kondisi tersebut dapat memicu gejala Premenstrual Syndrome (PMS) berupa mudah marah, cemas, perubahan emosi, hingga kelelahan.
Pada masa perimenopause dan menopause, perubahan hormon estrogen juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko depresi. Penelitian skala besar di Inggris bahkan menemukan bahwa perempuan pada fase perimenopause memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami episode pertama depresi dibandingkan perempuan yang belum memasuki fase tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan fisik di dalam tubuh dapat memengaruhi cara kerja otak dalam mengatur emosi. Oleh karena itu, menjaga kesehatan fisik selama fase-fase tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan mental.
6. Citra tubuh memengaruhi rasa percaya diri
Kesehatan fisik tidak hanya berkaitan dengan kondisi organ tubuh, tetapi juga bagaimana seseorang memandang tubuhnya sendiri.
Change Mental Health menjelaskan bahwa citra tubuh (body image) yang negatif dapat meningkatkan risiko gangguan makan, depresi, kecemasan, hingga menurunnya fungsi sosial. Seseorang mungkin memiliki tubuh yang sehat secara medis, tetapi tetap merasa tidak puas terhadap penampilannya karena standar kecantikan yang tidak realistis.
Perasaan tersebut sering membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami stres berkepanjangan.
Sebaliknya, menjaga kesehatan fisik dengan tujuan menjadi lebih bugar, kuat, dan sehat cenderung memberikan dampak psikologis yang lebih positif dibandingkan hanya mengejar penampilan semata.
7. Nyeri fisik berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan mental
Rasa sakit bukan hanya pengalaman fisik, melainkan juga pengalaman emosional.
Menurut Change Mental Health, penelitian terbaru menunjukkan bahwa nyeri kronis, seperti sakit kepala berkepanjangan atau nyeri perut yang sering kambuh, berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Rasa sakit yang berlangsung lama dapat membuat seseorang kehilangan motivasi, sulit tidur, mudah marah, hingga merasa putus asa.
Sapien Labs juga menjelaskan bahwa cara seseorang menyikapi rasa nyeri berpengaruh terhadap proses pemulihan. Individu yang mampu menerima kondisinya dan tetap menjalankan langkah-langkah pengobatan umumnya memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan mereka yang terus-menerus merasa frustrasi terhadap rasa sakit yang dialami.
Artinya, aspek psikologis dan fisik saling memengaruhi dalam membentuk pengalaman seseorang terhadap penyakit.
Cara Menjaga Kesehatan Fisik agar Kesehatan Mental Tetap Terjaga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384220/original/093845300_1760761191-Menenangkan_Pikiran_saat_Badai_Datang.jpg)
Karena kesehatan fisik memengaruhi kesehatan mental, menjaga tubuh tetap sehat merupakan investasi penting bagi kesejahteraan secara menyeluruh. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Rutin bergerak setiap hari
Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan berbagai penelitian merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu. Aktivitas tersebut tidak harus berupa olahraga berat.
Berjalan kaki, naik sepeda, berenang, berkebun, menari, atau yoga dapat menjadi pilihan yang efektif jika dilakukan secara konsisten. Menurut ulasan dalam jurnal Cureus, olahraga membantu meningkatkan suasana hati, mengurangi gejala depresi dan kecemasan, sekaligus memperbaiki kualitas hidup.
Mengutamakan pola makan bergizi seimbang
Penuhi kebutuhan gizi dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, ikan, biji-bijian utuh, serta sumber protein berkualitas.
Pola makan seperti diet Mediterania diketahui memiliki efek antiinflamasi yang berhubungan dengan suasana hati yang lebih baik. Selain itu, konsumsi makanan yang mendukung kesehatan mikrobiota usus, termasuk pangan tinggi serat dan makanan fermentasi, dapat membantu menjaga komunikasi yang sehat antara usus dan otak.
Sebaliknya, batasi konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses yang dapat meningkatkan peradangan di dalam tubuh.
Tidur 7–9 jam setiap malam
Tidur merupakan waktu bagi otak untuk melakukan proses pemulihan.
Usahakan memiliki jam tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan gawai menjelang tidur, serta menciptakan lingkungan kamar yang nyaman, tenang, dan minim cahaya. Tidur yang cukup membantu meningkatkan konsentrasi, memperbaiki suasana hati, sekaligus memperkuat daya tahan tubuh.
Mengelola stres secara sehat
Stres tidak selalu dapat dihindari, tetapi dapat dikelola.
Teknik relaksasi seperti latihan pernapasan, mindfulness, meditasi, yoga, atau sekadar berjalan santai di ruang terbuka hijau dapat membantu menurunkan ketegangan fisik maupun mental.
Menurut Sapien Labs, latihan mindfulness membantu otak merespons stres dengan lebih adaptif sehingga seseorang menjadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Jangan ragu mencari bantuan profesional
Apabila keluhan fisik berlangsung lama dan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari atau kesehatan mental, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Begitu pula jika muncul gejala seperti kecemasan yang berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, gangguan tidur yang menetap, atau suasana hati yang terus memburuk. Penanganan sejak dini dapat mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Â
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Kesehatan Mental dan Fisik
1. Mengapa kesehatan fisik memengaruhi kesehatan mental?
Karena tubuh dan otak bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Kondisi fisik memengaruhi hormon, sistem saraf, sistem imun, dan fungsi otak yang berperan dalam mengatur emosi, suasana hati, serta kemampuan berpikir.
2. Apakah olahraga benar-benar bisa mengurangi stres?
Ya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol, meningkatkan produksi endorfin, serta memperbaiki suasana hati sehingga efektif membantu mengurangi stres, kecemasan, dan gejala depresi.
3. Apa hubungan kesehatan usus dengan kesehatan mental?
Usus dan otak berkomunikasi melalui poros usus-otak (gut-brain axis). Kondisi mikrobiota usus dapat memengaruhi suasana hati, respons terhadap stres, dan fungsi kognitif, sehingga pola makan sehat berkontribusi terhadap kesehatan mental.
4. Apakah kurang tidur dapat memengaruhi kesehatan mental?
Ya. Kurang tidur dapat menyebabkan mudah marah, sulit berkonsentrasi, gangguan emosi, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi jika berlangsung dalam jangka panjang.
5. Apa langkah paling sederhana untuk menjaga kesehatan fisik dan mental sekaligus?
Mulailah dengan rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur selama 7–9 jam setiap malam, mengelola stres melalui relaksasi atau mindfulness, serta mencari bantuan profesional jika mengalami keluhan fisik maupun mental yang berkepanjangan.
Â
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311263/original/065323400_1785395699-cek_fakta_-_pppk_guru_sekolah_rakyat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4793527/original/012457300_1712157458-Wamenkominfo_Nezar_Patria.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5299355/original/011784900_1753801574-emma-simpson-mNGaaLeWEp0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311304/original/054872500_1785398623-hl_ri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4820889/original/079281500_1714729823-IMG_2361.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311230/original/069622600_1785394175-watermarked_img_1540648258589150902.jpg)