Liputan6.com, Jakarta - Cara membuat ekosistem kebun dan kolam yang saling menguntungkan menjadi salah satu konsep pertanian terpadu yang semakin diminati karena mampu menggabungkan budidaya tanaman dan ikan dalam satu sistem yang saling mendukung. Melalui konsep ini, limbah organik tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali menjadi sumber nutrisi bagi tanaman maupun organisme lain di dalam lingkungan tersebut. Hasilnya bukan hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membantu menghemat penggunaan pupuk, air, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya secara berkelanjutan.
Penerapan sistem terpadu ini sebenarnya dapat dilakukan pada berbagai skala lahan, mulai dari pekarangan rumah yang terbatas hingga kebun yang lebih luas di daerah pedesaan. Dengan perencanaan yang baik, setiap bagian ekosistem akan memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga tercipta keseimbangan alami yang membuat tanaman tumbuh lebih subur, kualitas air kolam tetap terjaga, dan ikan berkembang dengan kondisi lingkungan yang lebih stabil tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan kimia maupun teknologi yang rumit.
1. Tata Letak Kebun dan Kolam Harus Saling Terhubung
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782147/original/019427100_1782877869-656fdd54-6c2b-40fb-b363-613f986ce17a.jpg)
Penataan lokasi merupakan fondasi utama dalam membangun sistem yang efisien karena posisi kebun, kolam, saluran air, dan area pengolahan limbah akan menentukan seberapa mudah setiap komponen dapat saling mendukung. Sebaiknya kolam ditempatkan pada area yang lebih rendah dibandingkan bedengan tanaman agar air kaya nutrisi dapat dialirkan menuju kebun dengan bantuan gravitasi, sehingga penggunaan pompa dapat diminimalkan dan biaya operasional menjadi lebih hemat dalam jangka panjang.
Selain mempertimbangkan perbedaan ketinggian lahan, penting pula membuat jalur sirkulasi air yang sederhana namun mudah dikendalikan ketika musim hujan maupun kemarau. Saluran tersebut sebaiknya dilengkapi pintu air atau kran sehingga volume air yang digunakan untuk penyiraman dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman tanpa mengganggu kondisi kolam, sekaligus mengurangi risiko genangan yang dapat merusak akar tanaman maupun tanggul kolam.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam juga perlu memperhatikan akses perawatan agar seluruh area mudah dijangkau ketika memberi pakan ikan, menyiram tanaman, membersihkan saluran, ataupun memanen hasil kebun. Tata letak yang dirancang sejak awal akan mempersingkat waktu kerja sehari-hari dan membuat seluruh aktivitas budidaya terasa lebih praktis, sehingga produktivitas lahan dapat meningkat tanpa membutuhkan tenaga tambahan yang berlebihan.
Advertisement
2. Manfaatkan Air Kolam sebagai Pupuk Cair Alami
Air kolam yang telah digunakan untuk memelihara ikan biasanya mengandung berbagai unsur hara hasil penguraian sisa pakan, kotoran ikan, serta aktivitas mikroorganisme yang hidup secara alami di dalamnya. Kandungan tersebut menjadikan air kolam sebagai pupuk cair organik yang mampu membantu pertumbuhan tanaman apabila dimanfaatkan secara tepat, terutama untuk sayuran daun, tanaman buah semusim, maupun tanaman hias yang membutuhkan pasokan nitrogen dalam jumlah cukup.
Penggunaan air kolam sebagai media penyiraman juga mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk karena sebagian kebutuhan nutrisi tanaman telah tersedia di dalam air tersebut. Meski demikian, penyiraman sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak berlebihan agar tanah tetap memiliki keseimbangan unsur hara serta tidak mengalami kejenuhan akibat akumulasi bahan organik dalam waktu yang terlalu singkat.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila penyiraman menggunakan air kolam dilakukan secara rutin sesuai kebutuhan tanaman. Kebiasaan ini tidak hanya membantu mempercepat pertumbuhan daun dan batang, tetapi juga mengurangi frekuensi penggantian air kolam secara penuh karena sebagian air lama dimanfaatkan untuk kebun, kemudian digantikan dengan air baru yang lebih segar bagi ikan.
3. Tanaman Membantu Menjaga Kualitas Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6933104/original/015899800_1779702737-Air_Lele_untuk_Pupuk_Tanaman_____Nutrisi_Gratis_dari_Kolam_Ikan.jpeg)
Hubungan antara kebun dan kolam sebenarnya berlangsung dua arah karena tanaman tidak hanya menerima nutrisi dari air kolam, tetapi juga berperan menyerap berbagai senyawa yang apabila dibiarkan menumpuk dapat menurunkan kualitas air. Akar tanaman mampu memanfaatkan nitrat, fosfat, dan sejumlah unsur lain sebagai sumber makanan sehingga kandungan zat tersebut di dalam lingkungan menjadi lebih seimbang dan tidak mudah memicu pertumbuhan alga secara berlebihan.
Semakin beragam jenis tanaman yang dibudidayakan, semakin besar pula peluang terciptanya keseimbangan biologis di sekitar kolam karena setiap tanaman memiliki kemampuan penyerapan unsur hara yang berbeda. Sayuran daun, tanaman buah, hingga tanaman peneduh dapat dikombinasikan agar seluruh nutrisi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dalam satu kawasan budidaya terpadu.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam menjadi lebih efektif apabila proses pemanfaatan air dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya sesekali. Ketika tanaman terus menyerap nutrisi dari air kolam, kualitas lingkungan perairan akan lebih stabil, pertumbuhan ikan menjadi lebih baik, dan kebutuhan pergantian air dapat ditekan sehingga tercipta sistem budidaya yang hemat biaya sekaligus lebih ramah terhadap lingkungan.
Advertisement
4. Gunakan Sisa Tanaman sebagai Pakan atau Kompos
Salah satu prinsip penting dalam pertanian terpadu adalah memastikan bahwa setiap limbah organik masih memiliki nilai guna sebelum benar-benar dibuang. Berbagai sisa tanaman seperti daun yang telah dipangkas, rumput hasil penyiangan, batang sayuran, maupun sisa panen dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos atau pakan tambahan bagi jenis ikan tertentu. Dengan cara tersebut, volume limbah yang dihasilkan kebun menjadi jauh lebih sedikit, sementara kebutuhan pupuk organik maupun pakan tambahan dapat ditekan secara bertahap sehingga biaya produksi lebih efisien.
Proses pengomposan juga tidak memerlukan peralatan yang rumit apabila dilakukan dalam skala rumah tangga. Sisa tanaman cukup dicampurkan dengan bahan organik lain seperti dedaunan kering, sedikit tanah, dan aktivator kompos apabila tersedia, kemudian dibiarkan mengalami proses dekomposisi hingga berubah menjadi pupuk organik yang kaya unsur hara. Pupuk tersebut selanjutnya dapat dikembalikan ke bedengan sayuran maupun tanaman buah sehingga unsur hara terus berputar di dalam satu kawasan budidaya tanpa banyak bergantung pada pupuk dari luar.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam akan semakin optimal apabila setiap hasil samping dimanfaatkan sesuai fungsinya sehingga terbentuk siklus nutrisi yang berkelanjutan. Selain mengurangi biaya operasional, kebiasaan memanfaatkan limbah organik juga membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat, dan menciptakan lingkungan budidaya yang lebih bersih karena hampir tidak ada bahan organik yang terbuang percuma.
5. Pelihara Ikan yang Sesuai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8316863/original/026638900_1782184680-Menanam_Kangkung_Menggunakan_Air_Kolam_Ikan_2.jpeg)
Pemilihan jenis ikan menjadi faktor yang tidak kalah penting karena setiap spesies memiliki kebutuhan lingkungan, pola makan, dan tingkat toleransi yang berbeda terhadap perubahan kualitas air. Untuk sistem kebun dan kolam terpadu, sebaiknya memilih ikan yang mudah dipelihara, memiliki daya tahan tinggi, serta mampu tumbuh baik meskipun terjadi fluktuasi suhu maupun kualitas air dalam batas yang masih wajar. Jenis ikan seperti lele, nila, mujair, patin, maupun gurame sering dipilih karena telah terbukti mudah beradaptasi pada berbagai kondisi budidaya.
Selain mempertimbangkan ketahanan ikan, sesuaikan pula pilihan dengan tujuan budidaya yang ingin dicapai. Jika orientasinya adalah memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, ikan yang cepat dipanen dapat menjadi pilihan utama karena mampu menghasilkan panen lebih sering. Sebaliknya, apabila tujuan utamanya memperoleh keuntungan ekonomi yang lebih tinggi, ikan dengan nilai jual besar dapat diprioritaskan meskipun membutuhkan waktu pemeliharaan yang lebih lama serta perawatan yang lebih teliti.
Perencanaan yang matang sejak awal akan membuat pengelolaan kolam menjadi lebih mudah karena jumlah ikan, kapasitas kolam, dan kebutuhan pakan dapat disesuaikan secara proporsional. Kepadatan tebar yang tidak berlebihan juga membantu menjaga kualitas air tetap stabil, mengurangi risiko penyakit, dan memungkinkan nutrisi yang dihasilkan kolam dimanfaatkan secara maksimal oleh tanaman di sekitarnya tanpa menyebabkan pencemaran lingkungan.
Advertisement
6. Tambahkan Tanaman Air yang Bermanfaat
Keberadaan tanaman air di dalam kolam bukan hanya berfungsi sebagai penghias, tetapi juga memiliki peran ekologis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan perairan. Beberapa tanaman seperti azolla, duckweed, maupun selada air mampu menyerap nutrisi berlebih yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan sehingga pertumbuhan alga dapat dikendalikan secara alami. Selain itu, sebagian tanaman air juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan yang mengandung protein dan mineral untuk beberapa jenis ikan.
Walaupun memiliki banyak manfaat, jumlah tanaman air tetap perlu dikendalikan agar tidak menutupi seluruh permukaan kolam. Permukaan air yang terlalu tertutup akan mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk serta menghambat pertukaran oksigen antara udara dan air, sehingga kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan ikan apabila dibiarkan dalam waktu lama. Oleh karena itu, lakukan pemangkasan atau pengurangan tanaman air secara berkala agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam menjadi lebih alami ketika tanaman air dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem penyaring biologis. Kombinasi antara tanaman air, mikroorganisme, dan aktivitas akar akan membantu menjaga kejernihan air sekaligus menciptakan habitat yang lebih nyaman bagi ikan, sehingga seluruh komponen ekosistem dapat bekerja saling melengkapi tanpa memerlukan banyak bahan kimia tambahan.
7. Gunakan Kompos dari Kebun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556218/original/058355400_1776236450-Ember_Bekas_jadi_Tempat_Pupuk_Kompos.jpg)
Kompos merupakan salah satu hasil akhir yang sangat berharga dalam sistem budidaya terpadu karena mampu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah secara alami. Daun kering, rumput, ranting kecil, kulit buah, serta sisa sayuran yang tidak lagi dimanfaatkan dapat diolah menjadi kompos berkualitas apabila dikelola dengan benar. Penggunaan kompos secara rutin membantu meningkatkan kandungan bahan organik tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih gembur, mudah menyimpan air, dan mampu mendukung pertumbuhan akar tanaman secara optimal.
Selain meningkatkan kesuburan tanah, kompos juga berperan memperkaya populasi mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman. Mikroorganisme tersebut membantu menguraikan bahan organik menjadi unsur hara yang lebih mudah diserap akar, sekaligus memperbaiki keseimbangan biologis di dalam tanah sehingga tanaman menjadi lebih sehat dan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gangguan lingkungan maupun serangan penyakit tertentu.
Penerapan sistem kompos secara konsisten akan memperkuat hubungan antara kebun dan kolam karena seluruh limbah organik kembali dimanfaatkan di dalam area budidaya yang sama. Dengan cara ini, kebutuhan pupuk dari luar dapat ditekan secara bertahap, biaya pemeliharaan menjadi lebih hemat, dan produktivitas lahan tetap terjaga dalam jangka panjang tanpa mengurangi kualitas hasil panen maupun kesehatan lingkungan.
Advertisement
8. Tanam Pohon di Sekitar Kolam
Menanam pohon di sekitar kolam memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik tampilan kebun. Pohon yang dipilih dengan tepat mampu menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk sehingga suhu di sekitar kolam tidak mudah meningkat pada siang hari. Kondisi tersebut membantu mengurangi laju penguapan air, menjaga kestabilan suhu lingkungan, dan memberikan kenyamanan bagi ikan maupun tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Selain itu, pohon juga dapat menjadi penahan angin yang membantu menjaga kelembapan area budidaya.
Jenis pohon yang ditanam sebaiknya disesuaikan dengan luas lahan serta kebutuhan cahaya matahari di kolam. Pohon seperti kelor, pisang, pepaya, jambu, atau kelapa dapat menjadi pilihan karena memiliki manfaat tambahan berupa hasil panen, daun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, dan sistem perakaran yang relatif mudah dikendalikan. Penempatan pohon juga perlu memperhatikan jarak tanam agar tajuknya tidak menutupi seluruh permukaan kolam sehingga sinar matahari tetap dapat masuk dalam jumlah yang cukup.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam akan terasa semakin lengkap apabila keberadaan pohon dimanfaatkan sebagai bagian dari keseimbangan lingkungan. Daun yang gugur dapat diolah menjadi kompos, akar membantu menjaga struktur tanah di sekitar kolam, dan kehadiran pohon mampu menarik berbagai serangga maupun burung yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem secara alami sehingga kawasan budidaya menjadi lebih hidup dan produktif.
9. Pelihara Mikroorganisme yang Menguntungkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6577693/original/086100500_1779420993-2.jpg)
Ekosistem yang sehat tidak hanya bergantung pada tanaman dan ikan, tetapi juga pada keberadaan mikroorganisme yang bekerja tanpa terlihat oleh mata. Berbagai jenis bakteri baik memiliki peran penting dalam menguraikan sisa pakan, kotoran ikan, dan bahan organik lainnya menjadi unsur hara yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman. Proses biologis tersebut membantu menjaga kualitas air tetap stabil sekaligus mengurangi penumpukan senyawa berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan ikan apabila jumlahnya terlalu tinggi.
Agar populasi mikroorganisme tetap terjaga, hindari kebiasaan menguras kolam hingga benar-benar bersih dalam satu waktu. Pergantian air sebaiknya dilakukan secara bertahap sehingga sebagian besar bakteri baik tetap bertahan di dasar kolam maupun media lain yang menjadi tempat hidupnya. Selain itu, penggunaan bahan kimia secara berlebihan juga perlu dihindari karena dapat membunuh mikroorganisme yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam tidak hanya berfokus pada apa yang tampak di permukaan, tetapi juga memperhatikan kehidupan mikro yang menjadi fondasi utama dari siklus nutrisi. Ketika mikroorganisme berkembang dengan baik, proses penguraian limbah berlangsung lebih optimal, air kolam menjadi lebih sehat, dan tanaman memperoleh pasokan unsur hara secara alami sehingga seluruh sistem dapat bekerja lebih efisien dalam jangka panjang.
Advertisement
10. Buat Siklus Nutrisi yang Tertutup
Tujuan utama dari sistem kebun dan kolam terpadu adalah membentuk siklus nutrisi yang terus berputar tanpa menghasilkan banyak limbah. Pakan yang diberikan kepada ikan akan diubah menjadi energi dan menghasilkan kotoran yang kaya unsur hara, kemudian air kolam dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sehingga nutrisi tersebut diserap oleh akar. Setelah tanaman dipanen, sisa daun maupun batang kembali diolah menjadi kompos yang digunakan untuk menyuburkan tanah, sehingga seluruh komponen saling terhubung dalam satu siklus yang berkelanjutan.
Semakin sedikit bahan yang harus didatangkan dari luar, semakin efisien pula sistem budidaya yang dijalankan. Oleh karena itu, setiap bagian perlu dirancang agar saling mendukung, mulai dari pengelolaan air, pemanfaatan limbah organik, pemilihan tanaman, hingga pemeliharaan ikan yang sesuai dengan kapasitas kolam. Pendekatan seperti ini tidak hanya menghemat biaya operasional, tetapi juga membantu menjaga kelestarian lingkungan karena limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya yang berguna.
Cara membuat ekosistem kebun dan kolam pada akhirnya bukan sekadar menggabungkan kebun dengan kolam ikan dalam satu lokasi, melainkan membangun hubungan yang saling menguntungkan di antara seluruh unsur yang ada. Ketika siklus nutrisi dapat berjalan secara berkesinambungan, produktivitas lahan akan meningkat, kesehatan tanaman dan ikan lebih terjaga, serta kebutuhan pupuk maupun air dapat ditekan tanpa mengurangi hasil panen yang diperoleh sepanjang musim.
Pertanyaan Seputar Cara Membuat Ekosistem Kebun dan Kolam Ikan
1. Apa manfaat utama menggabungkan kebun dengan kolam ikan?
Manfaat utamanya adalah menciptakan siklus alami yang membuat air kolam dapat menyuburkan tanaman, sementara tanaman membantu menjaga keseimbangan lingkungan sehingga biaya pupuk dan perawatan dapat lebih hemat.
2. Jenis ikan apa yang paling cocok untuk sistem kebun dan kolam?
Lele, nila, mujair, patin, dan gurame menjadi pilihan yang umum karena mudah dipelihara, memiliki daya adaptasi yang baik, serta cocok dipadukan dengan sistem budidaya terpadu.
3. Apakah air kolam aman digunakan untuk menyiram tanaman?
Ya, selama kualitas air masih baik dan tidak tercemar bahan kimia berbahaya, air kolam mengandung unsur hara alami yang bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman.
4. Apakah lahan sempit bisa menerapkan sistem ini?
Bisa. Pekarangan rumah dengan kolam berukuran kecil tetap dapat menerapkan konsep kebun dan kolam terpadu selama tata letaknya dirancang dengan baik dan kebutuhan air dapat dikelola secara efisien.
5. Seberapa sering air kolam perlu diganti?
Air kolam sebaiknya tidak diganti seluruhnya sekaligus. Lakukan penggantian secara bertahap sesuai kondisi kualitas air agar keseimbangan mikroorganisme tetap terjaga dan ikan tidak mengalami stres akibat perubahan lingkungan yang mendadak.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493673/original/005478800_1770263148-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-05T103223.078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449906/original/063102600_1766118428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-19T112523.408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3807195/original/039082200_1737508382-16080137_red_bokeh_lights_background_1305.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782148/original/048317200_1782877875-69994224-24e6-40d5-95d5-fb61122082a7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263357/original/030094600_1781903941-063_2282397170.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713982/original/080198700_1782796624-Ketua_Dewan_Komisioner_Otoritas_Jasa_Keuangan__OJK__Friderica_Widyasari_Dewi-30_Juni_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8575192/original/046209600_1782532042-9144698472429757201.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516321/original/014431000_1782441750-Hv154c1eKJqZXp4aSMu81jM1Ccu9JdNpyhQqEN5V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516298/original/002489600_1782441739-Sn1onhZ3cRTuzVfyPC077A7PYYs99iVkOU644O7C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525660/original/065655100_1782455855-Tanam.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8515915/original/058575000_1782441150-Menhut_Karbon.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263048/original/084816200_1781856673-3n4Hm8suIwqPyCbQOw5VvVStKHHXaujJhKok3I8a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8345503/original/014235800_1782218601-Kemhut.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265174/original/043605000_1782109780-kunang-kunang.jpeg)