4 Jenis Ayam Terbaik untuk Peternak Pemula dengan Sistem Cage Free, Lebih Tahan Penyakit

Bingung pilih jenis ayam untuk usaha ternak? Simak tips dari Kandang Gadri dan 4 rekomendasi jenis ayam terbaik untuk pemula!

Diterbitkan 30 April 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak peternak pemula yang bersemangat di awal, namun berakhir kecewa karena hasil yang jauh dari harapan. Salah satu penyebab utama yang sering tidak disadari adalah salah pilih jenis ayam. Bukan soal harga bibit, bukan soal kandang mewah, tapi soal kesesuaian jenis ayam dengan kondisi lokal dan tujuan beternak.

Ada banyak faktor yang kerap diabaikan saat memilih jenis ayam, yakni daya tahan terhadap penyakit, kemampuan adaptasi dengan iklim Indonesia, hingga tujuan utama beternak. Sebagai contoh, apakah beternak untuk menghasilkan telur, daging, atau keduanya. Ayam yang bagus di negara asalnya belum tentu bertahan di Indonesia.

Beruntung, kini ada referensi nyata dari lapangan. Muji Purwanto, seorang arsitek yang beralih menjadi peternak ayam kampung organik melalui Kandang Gadri di Krajan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, telah melewati fase trial and error panjang sebelum menemukan formula yang tepat. Dalam artikel ini, kita akan membahas tips memilih jenis ayam untuk peternak pemula beserta 4 rekomendasi jenis ayam terbaik versi pengalaman praktis Kandang Gadri. Semua berbasis pengalaman nyata, bukan sekadar teori.

Jenis Ayam Terbaik untuk Pemula

Tidak semua jenis ayam mudah untuk dibudidayakan atau diternak, baik untuk menghasilkan daging maupun telur. Setiap jenis memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan sistem kandang terbuka (cage free) yang semakin banyak diadopsi peternak organik. Berikut empat jenis ayam yang terbukti cocok untuk pemula berdasarkan pengalaman langsung Kandang Gadri.

1. KUB (Kampung Unggulan Balitbangtan)

Jenis ayam pertama yang direkomendasikan adalah KUB atau Kampung Unggulan Balitbangtan. Ayam ini berasal dari Ciawi, Indonesia, dan merupakan hasil pengembangan resmi pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Karena dikembangkan secara khusus untuk kondisi Indonesia, KUB memiliki keunggulan genetik yang luar biasa dalam hal ketahanan terhadap iklim dan penyakit lokal.

"Ini ayam kampung asli dari Ciawi, resmi dari pemerintah. Daya bantingnya cukup," kata Muji Purwanto kepada reporter Liputan6.com pada Senin (27/4/2026).

Dari sisi produktivitas, KUB mampu menghasilkan 180 hingga 200 butir telur per ekor per tahun, jauh di atas ayam kampung asli. Selain itu, bobot dagingnya bisa mencapai 1,2 hingga 1,5 kilogram, cukup untuk konsumsi keluarga. Ini menjadikan KUB sebagai ayam kampung yang paling seimbang antara telur dan daging di antara seluruh jenis ayam kampung.

Bagi pemula yang ingin menerapkan sistem umbaran atau cage free, KUB adalah pilihan paling aman. Karena sifat endemiknya, ayam ini tidak rewel soal pakan, cuaca, maupun kondisi kandang yang tidak sempurna.

2. Elba

Jenis ayam kedua yang direkomendasikan Kandang Gadri adalah Elba. Berbeda dengan KUB yang berasal dari Indonesia, Elba merupakan ayam endemik dari kawasan Timur Tengah, daerah kering dengan iklim panas. Meski bukan asli Indonesia, Elba ternyata memiliki daya adaptasi yang cukup baik dan produktivitas telur yang sangat tinggi.

Elba mampu menghasilkan hingga 300 butir telur per ekor per tahun, mendekati produktivitas ayam petelur komersial. Ukuran dan warna telurnya pun hampir sama dengan telur ayam KUB maupun ayam kampung, sehingga tidak mengurangi daya tarik pasar. Ini menjadikan Elba pilihan ideal bagi pemula yang fokus pada produksi telur dalam skala usaha.

Kekurangannya ada pada ukuran daging. Betina Elba hanya mampu mencapai bobot 1,1 hingga 1,2 kilogram dan tidak bisa didorong lebih tinggi dari itu. Jadi, jika tujuan utama adalah produksi daging, Elba bukan pilihan terbaik. Namun sebagai petelur, Elba sulit tertandingi di kelasnya.

3. Ayam Kampung Asli

Jenis ayam ketiga adalah ayam kampung asli, ayam yang sudah hidup berdampingan dengan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu. Berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ayam ini tidak melalui rekayasa genetik apa pun, sehingga kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan lokal adalah yang terbaik di antara semua jenis ayam.

Sayangnya, dari sisi produktivitas, ayam kampung asli jauh tertinggal. Dalam satu tahun, seekor ayam kampung asli hanya mampu menghasilkan 60 hingga 120 butir telur. Ttupun sudah di titik maksimalnya. Produksi ini memang tidak ideal untuk usaha komersial skala besar, namun untuk hobi atau pemenuhan kebutuhan keluarga, ayam kampung asli tetap menjadi pilihan yang sangat masuk akal.

Kelebihan utama ayam ini ada pada rasa daging dan telurnya yang khas, autentik kampung yang sulit ditiru oleh jenis ayam mana pun. Bagi peternak yang mengejar kualitas rasa dan ketahanan alami tanpa banyak biaya perawatan, ayam kampung asli adalah jawabannya.

4. Ayam Hasil Persilangan (KUB + Elba)

Jenis ayam keempat yang sedang dikembangkan Kandang Gadri adalah hasil persilangan antara KUB dan Elba. Ide dasarnya sederhana, yakni ambil keunggulan daya tahan endemik dari KUB, gabungkan dengan produktivitas telur tinggi dari Elba, dan lahirkan jenis ayam baru yang lebih optimal dari kedua induknya.

Hasilnya, persilangan ini mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 250 butir telur per ekor per tahun, lebih tinggi dari KUB murni, namun dengan daya tahan yang jauh lebih baik dibanding Elba murni. Selain itu, pertumbuhan bobot tubuhnya lebih cepat, menjadikannya pilihan yang lebih fleksibel untuk kebutuhan telur sekaligus daging. Persilangan semacam ini membutuhkan pemahaman dasar tentang manajemen breeding, sehingga lebih cocok untuk pemula yang sudah melewati tahap awal beternak dan ingin naik ke level berikutnya.

Jenis Ayam yang Wajib Dihindari Pemula

Di balik daftar rekomendasi terbaik, ada pula jenis-jenis ayam yang sebaiknya dihindari oleh peternak pemula. Muji Purwanto telah membuktikannya secara langsung melalui berbagai percobaan yang tidak berakhir baik.

Australorp, ayam asal Australia yang populer di kalangan penggemar unggas hias, ternyata sangat riskan ketika dipelihara di Indonesia. Bukan endemik lokal, sistem imunnya tidak terbiasa menghadapi bakteri dan virus yang umum di iklim tropis Indonesia. Hal serupa terjadi pada ayam impor dari Italia yang dicoba Muji, daya adaptasinya sangat rendah dan risiko kematiannya tinggi.

Yang lebih mengejutkan adalah Golden Permud, ayam yang dikembangkan dari Lampung. Meski terdengar seperti produk lokal, gen endemik Indonesia pada ayam ini hanya sekitar 25 persen. Artinya, sebagian besar genetiknya masih berasal dari luar negeri, sehingga ketika dipelihara dalam sistem umbaran terbuka, ayam ini gampang mati. 

"Saya sudah mencoba australorp, golden permud, ayam dari Italia. Riskan sekali yang bukan endemik Indonesia. Golden permud karena gen endemiknya cuma sekitar 25%, gampang mati kalau di sistem umbaran seperti ini,"  jelas Muji.

Tips Memilih Jenis Ayam untuk Peternak Pemula

Memilih jenis ayam bukan sekadar mengikuti tren atau memilih yang terlihat paling produktif di atas kertas. Ada sejumlah tips praktis yang bisa diterapkan untuk memilih jenis ayam yang tepat berdasarkan tujuan produk yang ingin dihasilkan. Berikut lima panduan dari pengalaman nyata Kandang Gadri.

1. Tentukan Tujuan Utama (Telur, Daging, atau Hobi)

Sebelum membeli bibit ayam, tanyakan dulu pada diri sendiri, apa yang ingin dihasilkan? Jika tujuannya adalah produksi telur dalam jumlah besar, maka Elba atau persilangan KUB dan Elba adalah pilihan terbaik. Keduanya memiliki produktivitas telur yang tinggi dan cukup tahan untuk sistem kandang terbuka.

Jika tujuan utamanya adalah produksi daging, maka KUB adalah satu-satunya jenis ayam kampung yang bobot dagingnya bisa mencapai 1,2 hingga 1,5 kilogram, cukup signifikan untuk konsumsi dan bahkan penjualan. Ayam kampung asli dan Elba tidak direkomendasikan untuk tujuan produksi daging karena bobot tubuhnya terlalu kecil.

Namun jika beternak lebih ke arah hobi atau ingin memiliki ayam yang paling tahan banting tanpa terlalu memikirkan produktivitas, ayam kampung asli atau KUB adalah pilihan yang paling tepat. Keduanya hampir tidak memerlukan perawatan ekstra dan bisa hidup sehat bahkan dalam kondisi kandang yang sangat sederhana.

2. Pilih Ayam Endemik Indonesia untuk Pemula

Salah satu kesalahan paling umum peternak pemula adalah tergoda oleh jenis ayam dari luar negeri yang terlihat produktif di brosur atau video YouTube. Padahal, produktivitas tinggi tidak ada artinya jika ayam terus sakit-sakitan atau bahkan mati dalam beberapa bulan pertama.

Ayam endemik Indonesia, seperti KUB dan ayam kampung asli, secara genetik sudah beradaptasi dengan iklim tropis, kelembaban tinggi, dan ragam bakteri serta virus yang umum di sini. Mereka tidak rewel soal pakan, tidak mudah stres karena perubahan cuaca, dan biaya perawatannya jauh lebih hemat karena jarang membutuhkan obat-obatan.

Untuk sistem cage free atau umbaran dalam kandang, hanya ayam endemik yang benar-benar bisa bertahan dengan baik. Ini bukan sekadar pendapat, ini kesimpulan dari pengalaman nyata Muji Purwanto setelah berulang kali mencoba berbagai jenis ayam dari berbagai belahan dunia.

3. Hindari Ayam Impor atau Hibrida dengan Gen Lokal Rendah

Meski kerap ditawarkan dengan klaim produksi telur yang menggiurkan, ayam impor atau hibrida dengan gen lokal rendah membawa risiko yang jauh lebih besar, terutama bagi pemula. Tingkat kematian yang tinggi, kerentanan terhadap penyakit, dan biaya obat-obatan yang tidak sedikit bisa menguras modal sebelum balik modal.

Pemula umumnya belum memiliki pengalaman dalam mendeteksi gejala penyakit lebih awal, belum menguasai manajemen biosekuriti kandang, dan belum punya jaringan ke dokter hewan atau supplier obat yang terpercaya. Dalam kondisi seperti ini, memilih ayam yang sudah memiliki sistem kekebalan alami terhadap lingkungan Indonesia adalah keputusan yang jauh lebih bijak, meskipun produktivitasnya tidak setinggi ayam impor.

Ingat, beternak ayam itu maraton, bukan sprint. Lebih baik mulai dari jenis yang aman, kuasai manajemen kandang dengan baik, lalu perlahan naik ke jenis yang lebih produktif ketika pengalaman sudah cukup.

 

FAQ Seputar Jenis Ayam

Q: Jenis ayam apa yang paling cocok untuk pemula yang ingin usaha telur?

A:  Elba adalah pilihan terbaik karena produktivitas telurnya bisa mencapai 300 butir per ekor per tahun—mendekati ayam petelur komersial. Namun pastikan Anda siap dengan ukuran dagingnya yang relatif kecil. Untuk kombinasi telur dan daya tahan lebih baik, persilangan KUB dan Elba juga layak dipertimbangkan.

Q: Apakah ayam KUB bisa dijadikan ayam pedaging?

A: Bisa. KUB bisa mencapai bobot 1,2–1,5 kg, cukup untuk konsumsi keluarga maupun dijual sebagai ayam kampung. Meski tidak sebesar ayam broiler, dagingnya berkualitas lebih baik karena bebas pakan pabrikan dan tumbuh alami.

Q:  Mengapa ayam impor tidak disarankan untuk pemula?

A: Karena ayam impor seperti Australorp memiliki daya tahan rendah terhadap penyakit dan iklim tropis Indonesia. Pemula akan kesulitan menghadapi biaya obat-obatan yang tinggi dan tingkat kematian yang lebih besar dibanding ayam endemik lokal.

Q: Apakah saya bisa memelihara KUB dan Elba dalam satu kandang?

A: Bisa. Kandang Gadri memelihara keduanya dalam sistem yang sama. Namun tetap awasi jika ada ayam yang agresif atau menunjukkan gejala sakit, sebaiknya pisahkan segera untuk mencegah penularan.

Q: Berapa lama ayam KUB dan Elba mulai bertelur?

A: Rata-rata sekitar 5–6 bulan sejak menetas, tergantung pada kualitas pakan dan manajemen kandang. Pakan yang bergizi tinggi dan kandang yang nyaman akan mempercepat proses ini.

Q: Jenis ayam apa yang paling tahan penyakit?

A: Ayam kampung asli (endemik lokal) dan KUB adalah yang paling tahan. Keduanya berasal dari Indonesia dan sudah beradaptasi secara genetik terhadap iklim, bakteri, dan virus yang umum di sini—tanpa perlu banyak bantuan obat-obatan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6