Apakah Ular Hijau di Pohon Berbahaya? Kenali Jenis-jenisnya

Apakah ular hijau di pohon berbahaya? Tergantung jenis spesiesnya. Kenali ular hijau berbisa tinggi seperti Ular Bangkai Laut yang sangat berbahaya, serta jenis yang tidak berbisa.

Diterbitkan 11 November 2025, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ular hijau yang sering terlihat di pohon kerap membuat penasaran. Warnanya yang mencolok dan gerakannya lincah memunculkan pertanyaan penting: apakah ular hijau di pohon berbahaya? Mengetahui sifat dan kebiasaan ular ini membantu kita bersikap waspada.

Sebagian ular hijau tidak agresif dan cenderung menghindari manusia, namun beberapa bisa defensif jika merasa terancam. Memahami ciri fisik serta perilakunya penting sebelum berinteraksi. Sekali lagi muncul pertanyaan: apakah ular hijau di pohon berbahaya?

Selain itu, ular hijau berperan dalam mengendalikan hama dan menjaga ekosistem. Meski begitu, tetap perlu hati-hati dan hindari kontak langsung. Pertanyaan utama tetap sama: apakah ular hijau di pohon berbahaya?

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang penjelasan apakah ular hijau di pohon berbahaya, Selasa (11/11/2025).

Mengenal Ular Hijau Berbisa Tinggi di Pohon

Ketahui ciri-ciri ular berbisa dan tidak berbisa agar lebih waspada. Mengutip buku berjudul Ensiklopedia Hewan Ovipar (2024) oleh M. Sumarto, Ciri-ciri ular berbisa adalah mempunyai gigi taring yang kecil, ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga, ular berbisa umumnya berwarna terang dan mencolok, ular berbisa memiliki mata lonjong, biasanya ular berbisa memiliki satu baris sisik.

Sementara ciri ular tak berbisa beberapa diantaranya, memiliki dua gigi taring besar di bagian rahang atas, ular tanpa bisa mempunyai bentuk dan sisik sederhana, ular tidak berbisa memiliki mata berbentuk bulat.

Beberapa jenis ular hijau yang hidup di pohon memiliki bisa yang sangat berbahaya dan perlu diwaspadai. Ular-ular ini umumnya arboreal, menghabiskan sebagian besar waktunya di dahan atau semak, serta memiliki kamuflase alami yang sangat baik.

1. Ular Bangkai Laut (Trimeresurus albolabris)

  • Ciri-ciri: Hijau cerah dengan ujung ekor merah/coklat, bibir keputihan/kuning, sisi bawah kuning terang hingga kehijauan.
  • Habitat: Hutan bambu, semak belukar dekat perairan, hutan dataran rendah, pekarangan rumah, hingga tiga meter di atas tanah.
  • Bahaya: Bisa hemotoksik menyebabkan sakit parah, pembengkakan, kerusakan jaringan, masalah pembekuan darah, dan perdarahan internal. Menyumbang sekitar 50% kasus gigitan ular di Indonesia dengan 2,4% berakibat fatal.
  • Perilaku: Agresif saat terancam, aktif malam hari, tidur bergulung di cabang pohon. Bereproduksi dengan melahirkan hingga 15 anak sekaligus.

2. Ular Hageni (Trimeresurus hageni)

  • Ciri-ciri: Mirip Ular Bangkai Laut, hijau di atas, sisi bawah kuning terang.
  • Habitat & Perilaku: Ditemukan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia; arboreal dan berbisa.

3. Ular Punai Wagleri (Tropidolaemus wagleri)

  • Ciri-ciri: Hijau di bagian atas, sisi bawah kuning terang, termasuk keluarga Viperidae.
  • Bahaya & Perilaku: Berbisa dan aktif di habitat pohon.

4. Ular Hijau Gunung (Trimeresurus gunaleni)

  • Habitat: Hutan hujan lembab pegunungan Sumatra, ketinggian 1.500–2.200 meter.
  • Perilaku: Aktif malam hari, reproduksi ovovivipar, berbisa.

5. Ular Punai Sumatra (Trimeresurus sumatranus)

  • Ciri-ciri: Bagian atas hijau pucat dengan garis hitam melintang, sisi bawah hijau kecoklatan, buntut merah kecoklatan.
  • Habitat: Hutan dataran rendah, hutan hujan basah, hutan bakau, ladang perkebunan kopi dan teh di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
  • Perilaku: Aktif malam hari, berbisa, dan termasuk predator arboreal yang efektif.

Ular Hijau dengan Bisa Lemah atau Tidak Berbisa

Mengutip kajian yang dipublikasikan di J-PAL, Vol. 6, No. 1, 2015, dapat ditemukannya ular di wilayah pemukiman manusia dikarenakan pada wilayah tersebut banyak ditemukan tikus (mangsa ular) yang berhabitat di sawah, kebun, ladang, saluran air, dan semak-semak.

Tidak semua ular hijau yang hidup di pohon berbahaya. Beberapa spesies memiliki bisa yang sangat lemah atau bahkan tidak berbisa sama sekali. Mengenali jenis-jenis ini penting agar manusia tidak panik dan tetap aman saat bertemu ular.

1. Ular Pucuk (Ahaetulla prasina)

  • Ciri-ciri: Kepala runcing seperti anak panah, tubuh panjang dan ramping, warna hijau menyerupai pucuk daun.
  • Habitat: Hutan primer dan sekunder, perkebunan, semak, pohon pinggir jalan, taman kota, tersebar hampir di seluruh Indonesia.
  • Bahaya & Perilaku: Bisa lemah, gigitan hanya menyebabkan pembengkakan, nyeri lokal, memar, mati rasa ringan. Aktif di siang hari, tidak agresif, jika terancam membentuk huruf 'S' dan membusungkan leher. Reproduksi ovovivipar.

2. Ular Pohon Hijau (Green Tree Snake - Dendrelaphis punctulatus)

  • Ciri-ciri: Kulit di antara sisik biru muda, ramping, tidak berbisa.
  • Habitat: Umum di Australia, arboreal, sering ditemukan di semak dan pohon.
  • Bahaya & Perilaku: Tidak berbahaya, gigitan jarang menimbulkan pendarahan. Tidak agresif, jika terprovokasi mengangkat tubuh, menggembungkan tenggorokan, dan mengeluarkan bau busuk dari kelenjar anal. Aktif di siang hari, lincah bergerak.

3. Ular Bajing (Gonyosoma oxycephalum)

  • Ciri-ciri: Hijau mencolok, panjang, ramping.
  • Habitat: Pepohonan di Asia Tenggara, arboreal, memangsa sarang burung, kelelawar, tikus, dan kadal.
  • Bahaya & Perilaku: Tidak berbisa bagi manusia, aktif di siang hari. Status konservasi IUCN: rentan. Ular ini lincah dan gesit, sehingga sulit ditangkap.

Pencegahan dan Penanganan Gigitan Ular

Mengutip kajian yang dipublikasikan di Jurnal Protobiont (2019) Vol. 8 (2) : 35 – 46, Taylor dan O’shea (2004), menyebutkan bahwa jumlah jenis ular di seluruh dunia mencapai 2.700 jenis, 250 jenis diantaranya terdapat di Indonesia, dan 154 jenis dari 10 famili sudah ditemukan di Pulau Kalimantan (Stuebing dan Inger, 1999 dalam Purbatrasila 2009).

Berikut ini pencegahan dan penanganan gigitan ular:

1. Hati-hati di area rawan ular

Selalu waspada saat berada di area pedesaan, hutan, kebun, atau tempat yang rimbun. Ular hijau umumnya tidak agresif dan hanya menyerang jika merasa terancam atau terprovokasi. Oleh karena itu, hindari memancing atau mendekati ular secara langsung untuk meminimalkan risiko gigitan.

2. Kemampuan identifikasi jenis ular

Mengenali jenis ular sangat penting, karena ada yang berbisa tinggi dan ada yang tidak berbahaya. Pengetahuan ini membantu menentukan tindakan darurat yang tepat. Jika bertemu ular, jangan panik dan perhatikan ciri-ciri fisik serta perilakunya tanpa mencoba menangkap atau mengusirnya dengan cara berisiko.

3. Pertolongan pertama saat digigit

Jika terjadi gigitan, tetap tenang dan jangan panik. Posisi area gigitan sebaiknya lebih rendah dari jantung agar penyebaran bisa lebih lambat. Bersihkan luka dengan air dan sabun, kemudian lilitkan perban atau kain elastis dengan kencang di area sekitar gigitan untuk membatasi penyebaran racun. Segera cari pertolongan medis profesional.

4.  Larangan tindakan berisiko

Hindari mengonsumsi alkohol atau kafein karena dapat mempercepat penyerapan racun. Jangan mencoba menyedot bisa atau mengiris luka, karena justru dapat memperparah kondisi. Tindakan ini berisiko menimbulkan infeksi atau kerusakan jaringan lebih parah.

5. Hubungi tenaga profesional

Jika tidak yakin dengan jenis ular atau gigitan terjadi, segera hubungi rumah sakit, dinas pemadam kebakaran, atau ahli penanganan ular. Bantuan profesional memastikan penanganan aman dan efektif, mengurangi risiko komplikasi serius dari gigitan ular berbisa.

Q & A Seputar Topik

Apakah semua ular hijau di pohon berbahaya bagi manusia?

Tidak. Tidak semua ular hijau di pohon berbisa. Beberapa spesies seperti Ular Pucuk atau Ular Pohon Hijau tidak berbahaya, sementara ular seperti Ular Bangkai Laut atau Ular Punai Wagleri memiliki bisa yang berpotensi mematikan. Mengenali jenis ular sangat penting untuk menentukan tindakan aman.

Bagaimana cara membedakan ular hijau berbisa dan tidak berbisa?

Ular hijau berbisa biasanya memiliki ciri khusus seperti kepala segitiga, taring yang terlihat, dan pola tubuh tertentu. Sebaliknya, ular hijau tidak berbisa biasanya ramping, bergerak cepat, dan cenderung menghindari manusia. Namun, identifikasi harus dilakukan hati-hati dan tanpa memprovokasi ular.

Apa yang harus dilakukan jika bertemu ular hijau di pohon?

Tetap tenang dan jangan memprovokasi. Amati jarak aman, hindari mendekat atau mencoba menangkapnya, dan biarkan ular pergi dengan sendirinya. Jangan mengganggu atau mengusirnya dengan cara yang bisa membuat ular merasa terancam.

Bagaimana pertolongan pertama jika digigit ular hijau berbisa?

Tetap tenang, posisikan area gigitan lebih rendah dari jantung, bersihkan luka dengan air dan sabun, lalu lilitkan perban atau kain elastis untuk membatasi penyebaran bisa. Segera cari pertolongan medis profesional, jangan mencoba menyedot bisa atau mengiris luka.

Apakah semua gigitan ular hijau berakibat fatal?

Tidak. Efek gigitan tergantung jenis ular dan jumlah bisa yang masuk ke tubuh. Ular berbisa tinggi seperti Ular Bangkai Laut dapat berbahaya, sedangkan ular dengan bisa lemah biasanya hanya menimbulkan pembengkakan atau nyeri ringan. Penanganan cepat dan tepat sangat menentukan hasilnya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6