Bubur Suro adalah Warisan Kuliner Jawa, Simak Sejarah dan Resep Asli Tradisionalnya

Bubur Suro, hidangan gurih khas Jawa, bukan sekadar kuliner tetapi simbol syukur dan doa di Tahun Baru Islam.

Diterbitkan 26 Juni 2025, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bubur Suro merupakan salah satu kuliner tradisional khas Jawa yang hadir setiap memasuki bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Makanan ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol rasa syukur, harapan dan refleksi batin menyambut tahun baru Jawa. Disajikan dengan cita rasa gurih dari perpaduan beras, santan, dan rempah-rempah, bubur Suro kerap dihidangkan dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan keluarga.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bubur Suro memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam. Setiap bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur ini memiliki makna tersendiri, mulai dari tujuh jenis kacang yang mencerminkan keberkahan hari-hari dalam sepekan, hingga taburan buah yang memberi sentuhan rasa dan lambang keseimbangan. Tidak heran bila banyak keluarga masih melestarikan penyajian bubur Suro sebagai bagian dari upacara spiritual.

Bagi sebagian orang, bubur Suro bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga warisan nilai-nilai luhur yang mengajarkan tentang kesederhanaan dan ketulusan hati. Proses memasaknya dilakukan dengan penuh perhatian dan doa, menciptakan suasana yang mendalam antara anggota keluarga. Dengan begitu, kehadiran bubur Suro dalam perayaan satu Suro selalu ditunggu sebagai momen penting, agar merenung dan berharap pada masa depan yang lebih baik.

Berikut ini makna dan resep bubur suro yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (26/6/2025). 

Asal Usul dan Makna Bubur Suro

Asal-usul bubur Suro dapat ditelusuri melalui berbagai literatur klasik dalam khazanah Islam, di antaranya adalah I’anah al-Thalibin, Badai’ al-Zuhur, serta Nihayatuz Zain. Dalam teks-teks tersebut, diceritakan sebuah peristiwa penting yang terjadi pada hari ke-10 bulan Muharram, ketika perahu Nabi Nuh AS akhirnya berlabuh setelah menghadapi badai besar. Pada saat itu, para penumpang perahu mengalami kelaparan yang sangat, sebab persediaan makanan yang mereka bawa telah habis selama perjalanan panjang yang penuh ujian tersebut. Nabi Nuh pun meminta para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang masih tersisa di dalam kapal.

Bahan-bahan makanan yang berhasil dikumpulkan terdiri dari beragam jenis biji-bijian dan kacang-kacangan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa jumlahnya mencapai tujuh macam, yang mencakup antara lain gandum, kacang adas, himmash (kacang putih), ful, jelai, serta beberapa jenis lainnya. Seluruh bahan tersebut kemudian dicampur menjadi satu dalam sebuah wadah besar dan dimasak bersama-sama. Meski terbuat dari bahan sederhana dan terbatas, hidangan tersebut mampu mengenyangkan seluruh penumpang kapal. Momen ini kemudian dikenang sebagai simbol rasa syukur dan keberkahan, karena dalam kondisi serba terbatas pun, mereka masih bisa makan bersama dalam kedamaian. Inilah yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal tradisi membuat bubur pada hari Asyura.

Bubur Suro tidak sekadar dipandang sebagai makanan biasa, melainkan sebagai perwujudan rasa syukur atas segala nikmat dan rezeki yang diberikan Tuhan selama setahun terakhir. Tradisi ini juga dimaknai sebagai momen untuk refleksi diri, sekaligus pengharapan agar hari-hari ke depan dipenuhi berkah dan keselamatan. Masyarakat Jawa menjadikan penyajian bubur ini sebagai bagian dari ritual spiritual dan sosial, yang mempererat tali persaudaraan serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Adapun setiap unsur dalam sajian bubur Suro memuat simbolisme yang dalam. Misalnya, beras sebagai bahan utama mencerminkan kemakmuran dan pemenuhan kebutuhan pokok. Santan yang memberikan cita rasa gurih dan tekstur lembut, melambangkan ketenangan dan keharmonisan hidup. Sementara itu, tujuh jenis kacang atau biji-bijian yang digunakan menggambarkan tujuh hari dalam satu pekan, dengan harapan setiap harinya dipenuhi keberkahan dan perlindungan dari Tuhan.

 

 

Filosofis di Balik Bubur Suro

Tradisi menyajikan bubur Suro dalam masyarakat Jawa memiliki akar sejarah yang kuat dan panjang, bahkan diyakini telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Agung dari Mataram. Sebagai bagian dari rangkaian upacara adat Jawa, hidangan ini tidak hanya diperlakukan sebagai santapan semata, melainkan sebagai representasi rasa syukur mendalam kepada Tuhan atas limpahan nikmat, keselamatan, serta kelancaran rezeki yang telah diberikan sepanjang tahun. Bubur Suro menjadi simbol perenungan serta doa dalam menyambut datangnya tahun baru berdasarkan penanggalan Jawa, yakni pada malam satu Suro.

Penting untuk digarisbawahi bahwa bubur Suro bukanlah bentuk persembahan yang berkaitan dengan kepercayaan animisme, atau praktik spiritual kuno yang bersifat menyembah benda. Hidangan ini lebih tepatnya dianggap sebagai simbol budaya yang sarat makna, bukan sesajen dalam arti ritual pemujaan. Dalam konteks budaya Jawa, bubur ini dikategorikan sebagai bagian dari uba rampe, atau perangkat pendukung acara adat yang memiliki fungsi sebagai media untuk menyampaikan harapan, doa, dan refleksi spiritual menyambut pergantian tahun. Oleh karena itu, bubur Suro perlu dimaknai melalui kacamata kultural dan simbolis, bukan secara harfiah sebagai sarana pemujaan.

Tradisi Kuliner dan Penyajian Bubur Suro

Secara umum, bubur Suro dibuat dari beras yang dimasak dengan beragam rempah-rempah dan bumbu khas Nusantara. Proses memasaknya melibatkan bahan-bahan tradisional seperti santan kental, daun salam, dan serai, yang memberikan cita rasa gurih dan aroma harum khas, berbeda jauh dari bubur nasi biasa. Dalam berbagai daerah di Jawa, tampilan dan pelengkap bubur Suro dapat bervariasi, tergantung dari warisan budaya lokal masing-masing wilayah. Ada yang menyajikannya dengan sentuhan minimalis, namun tidak sedikit pula yang memperkaya isinya dengan aneka lauk tradisional khas daerah tersebut.

Hal unik dari bubur Suro terletak pada syarat keberadaan tujuh jenis kacang di dalam satu porsi sajian. Jumlah ini tidak sembarangan, melainkan memiliki makna simbolis yang mewakili harapan agar kehidupan manusia di setiap hari dalam seminggu selalu diberi kelancaran, perlindungan, dan keberkahan. Selain kacang-kacangan, bubur Suro biasanya juga dihias dengan taburan buah delima dan suwiran jeruk Bali yang memberikan sentuhan rasa asam segar dan seimbang. Kombinasi rasa gurih dan asam ini menjadikan bubur Suro tak hanya nikmat disantap, tapi juga menyimpan makna filosofi keseimbangan hidup antara rasa syukur dan harapan, antara kelezatan duniawi dan pencarian makna spiritual.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa menyantap bubur Suro bukan hanya aktivitas kuliner biasa, tetapi juga bentuk introspeksi dan penyelarasan batin di awal tahun baru Jawa. Hidangan ini menjadi medium untuk mendoakan diri dan keluarga agar diberi ketenangan, keselamatan, serta rezeki yang berlimpah dalam perjalanan hidup ke depan. Bubur ini bukanlah tujuan akhir, melainkan perantara untuk meresapi nilai-nilai kehidupan yang lebih dalam: kebersamaan, pengharapan dan penghormatan terhadap waktu dan siklus kehidupan.

Resep dan Cara Membuat Bubur Suro Tradisional

Resep Bubur Suro memang bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, namun bahan dasarnya tetap sama, yaitu beras yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Berikut adalah resep Bubur Suro tradisional yang bisa Anda coba di rumah:

Bahan bubur beras antara lain:

  • 350 gram beras yang sudah dicuci bersih
  • 500 ml santan kental dari 1,5 butir kelapa
  • 2000 ml santan encer, dari sisa perasan santan
  • 2 ½ sendok teh garam
  • 6 lembar daun salam
  • 2 batang serai yang dimemarkan

Bahan kuah kuning antara lain:

  • 2 paha ayam atas bawah filet, potong kotak kecil
  • 2 lembar daun salam
  • 3 sentimeter lengkuas, memarkan
  • 2 sentimeter jahe, memarkan
  • 2 batang serai, memarkan
  • 4 sendok teh garam
  • ½ sendok teh merica bubuk
  • 4 sendok teh gula pasir
  • 1.500 ml santan, dari 1 butir kelapa
  • 2 sendok makan minyak, untuk menumis

Bumbu halus untuk kuah kuning:

  • 6 butir kemiri, sangrai
  • 2 sentimeter kunyit, bakar
  • 1 sendok teh ketumbar, sangrai
  • 10 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • ½ sendok teh jintan

Bahan untuk pendamping:

  • Perkedel kentang
  • Tahu goreng
  • Telur dadar yang diiris tipis
  • Kacang tanah goreng
  • Kacang kedelai goreng
  • Kerupuk bawang atau kerupuk udang
  • Bawang goreng dan irisan daun bawang untuk taburan

Cara Membuat:

  1. Langkah pertama dalam proses pembuatan bubur Suro adalah memasak buburnya terlebih dahulu. Mulailah dengan mencuci beras hingga benar-benar bersih, lalu tiriskan. Setelah itu, masukkan beras ke dalam panci yang telah diisi dengan santan encer.
  2. Rebus campuran ini di atas api sedang hingga mulai mendidih sambil sesekali diaduk agar santan tidak pecah dan beras tidak menempel di dasar panci. Begitu santan mendidih, segera kecilkan api untuk mencegah bubur meluap dan agar proses pematangan berjalan perlahan.
  3. Selanjutnya, tambahkan daun salam, garam secukupnya, santan kental, dan batang serai yang telah dimemarkan untuk memperkuat aroma dan cita rasa bubur.
  4. Aduk semua bahan hingga tercampur rata, lalu teruskan memasak beras dengan api kecil hingga teksturnya berubah menjadi bubur yang lembut dan kental. Pastikan seluruh bahan meresap sempurna dan bubur matang secara merata agar menghasilkan rasa gurih yang khas.
  5. Setelah bubur matang, tahap berikutnya adalah menyiapkan kuah kuning sebagai pelengkap utama. Awali dengan menumis bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kunyit, dan kemiri.
  6. Tumis bumbu bersama daun salam, irisan lengkuas, jahe, dan serai sampai seluruh bahan mengeluarkan aroma harum yang menggoda.
  7. Jika bumbu sudah matang dan harum, masukkan potongan ayam ke dalam wajan, lalu aduk hingga ayam terlapisi bumbu secara merata dan berubah warna menjadi keemasan.
  8. Saat ayam sudah mulai matang, tuangkan santan kental ke dalam tumisan, lalu aduk perlahan hingga kuah menyatu sempurna. Tambahkan garam, merica bubuk, dan sedikit gula pasir untuk menyeimbangkan rasa.
  9. Aduk perlahan hingga kuah mendidih dan ayam matang sempurna. Proses ini perlu dilakukan dengan hati-hati agar santan tidak pecah dan kuah tetap kental serta berwarna kuning cerah yang menggugah selera.
  10. Untuk penyajian, siapkan piring atau mangkuk saji. Tuangkan bubur ke dalam wadah, lalu siramkan kuah kuning beserta potongan ayam di atasnya.
  11. Hidangan ini umumnya disajikan dengan aneka pelengkap seperti telur rebus, irisan jeruk bali, taburan delima, kacang-kacangan, dan bawang goreng agar tampilannya lebih menarik serta cita rasanya semakin kaya.

FQA Seputar Topik

1. Apa itu bubur Suro dan kapan biasanya disajikan?

Bubur Suro adalah makanan tradisional masyarakat Jawa yang biasa disajikan saat malam satu Suro atau tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Sajian ini melambangkan rasa syukur atas berkah selama setahun dan menjadi simbol permohonan keselamatan serta harapan baik di tahun yang baru.

2. Apa perbedaan bubur Suro dengan bubur biasa?

Perbedaan utamanya terletak pada bahan dan makna. Bubur Suro dibuat dengan tambahan santan, rempah khas seperti serai dan daun salam, serta dilengkapi tujuh jenis kacang, irisan jeruk Bali, dan buah delima. Selain rasanya yang gurih khas, bubur ini juga sarat dengan simbol spiritual dan budaya, tidak sekadar sajian kuliner.

3. Mengapa ada tujuh jenis kacang dalam bubur Suro?

Tujuh jenis kacang dalam bubur Suro melambangkan tujuh hari dalam satu pekan. Kehadiran kacang tersebut dimaknai sebagai harapan agar setiap hari dalam minggu penuh berkah, keselamatan, dan kelancaran dalam hidup.

4. Siapa yang pertama kali mempopulerkan tradisi bubur Suro di tanah Jawa?

Menurut berbagai sumber sejarah, tradisi bubur Suro mulai dikenal sejak masa kepemimpinan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Ia dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan nilai-nilai Islam dan budaya lokal dalam berbagai ritual adat, termasuk perayaan satu Suro.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6