10 Amalan Sunnah Sebelum Idul Adha, Ini Puasa yang Sayang Dilewatkan

Mengoptimalkan ibadah dengan amalan sunnah sebelum Idul Adha, termasuk puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah, untuk meraih keberkahan dan pahala berlimpah.

Diperbarui 24 Mei 2025, 12:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Adha merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain ibadah kurban, terdapat berbagai amalan sunnah sebelum Idul Adha yang dianjurkan untuk menyempurnakan perayaan ini. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha, sebagai bentuk penghambaan dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.

Puasa sunnah sebelum Idul Adha meliputi puasa Dzulhijjah yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah, dan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Setiap puasa ini memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Melaksanakan sunnah sebelum Idul Adha merupakan wujud cinta dan penghormatan kita kepada ajaran Islam.

Anjuran untuk melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha didasarkan pada hadis-hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan keutamaan beramal saleh di bulan Dzulhijjah. Selain itu, penting juga mengetahui amalan sunnah sebelum Idul Adha lainnya agar pahala lebih maksimal didapat di momentum ini.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (27/6/2023) tentang amalan sunnah sebelum Idul Adha.

1. Puasa Dzulhijjah Sebelum Idul Adha

Puasa Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 1-7 Dzulhijjah. Mengutip dari berbagai sumber, puasa ini dilakukan selama tujuh hari pertama. Pada hari kedelapan, umat Muslim bisa mengerjakan puasa Tarwiyah dan hari kesembilan bisa mengerjakan puasa sunnah Arafah. Keutamaan puasa Dzulhijjah sangat besar karena setiap amal ibadah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dicintai Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah)." (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir). Di hari kesepuluh yang bertepatan dengan pelaksanaan hari raya Idul Adha, umat Muslim hanya diminta berpuasa hingga selesai melaksanakan salat Id. Setelahnya, tidak diperbolehkan melanjutkan puasa karena hukumnya menjadi haram.

Bagi yang ingin melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha, berikut adalah bacaan niat puasa Dzulhijjah: “Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta’âlâ”. Artinya, “Saya niat puasa sunah bulan Zulhijah hari ini karena Allah ta’ala.” Melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha ini merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Puasa Tarwiyah Sebelum Idul Adha

Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan di hari kedelapan bulan Zulhijjah. Puasa sunnah Tarwiyah termasuk puasa yang dilaksanakan setahun sekali. Alasan disebut Tarwiyah karena jemaah haji pada hari tersebut dapat minum air dengan puas. Selain itu, puasa ini disunnahkan dari dua segi yakni kehati-hatian untuk hari Arafah dan sebagai rangkaian puasa sunnah sebelum Idul Adha di 10 hari pertama bulan Zulhijjah.

Puasa Tarwiyah memiliki banyak keutamaan dan dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang merenung (tarwiyah) sebelum melaksanakan perintah Allah SWT. Barangsiapa berpuasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan, untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun. Ini menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan bagi mereka yang melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha.

Adapun bacaan niat puasa sunnah Tarwiyah yaitu, “Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i tarwiyata sunnatan lillâhi ta’âlâ”. Artinya: “Saya niat puasa sunah Tarwiyah hari ini karena Allah ta’ala.” Dengan melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha, khususnya puasa Tarwiyah, umat Islam berkesempatan untuk meraih ampunan dosa dan meningkatkan derajat di sisi Allah SWT.

3. Puasa Arafah Sebelum Idul Adha

Puasa Arafah adalah amalan puasa yang dilakukan di hari kesembilan bulan Zulhijjah. Umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sementara orang yang berhaji dan sedang melaksanakan wukuf dianjurkan untuk berbuka atau tidak berpuasa. Hikmahnya agar umat Muslim yang sedang melakukan wukuf semakin kuat dalam berdoa dan mengikuti sunnah Nabawiyah secara sempurna.

Anjuran puasa sunnah sebelum Idul Adha, khususnya Arafah, didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qutadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim). Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk melaksanakan puasa sunnah sebelum Idul Adha.

Bacaan niat puasa Arafah yaitu, “Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ. Artinya, “Saya niat puasa sunah Arafah hari ini karena Allah ta’âlâ.” Peristiwa penting yang terjadi pada hari Arafah, yaitu Nabi Adam AS pada hari itu mengenal Sayyidatuna Hawa, Nabi Ibrahim AS mengetahui kebenaran mimpinya tentang perintah menyembelih anaknya Ismail AS, dan Malaikat Jibril mengenalkan Nabi Ibrahim tentang ibadah haji.

4. Tidak Makan Sejak Fajar Hingga Selesai Sholat Idul Adha

Amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha yang pertama yaitu tidak makan sejak fajar sampai dengan selesai sholat Idul Adha. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin al-Husaib) ia berkata: 

“Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sehingga selesai sholat.” (HR. At-Tirmizi)

Hikmah dari tidak dianjurkannya makan sebelum berangkat sholat Idul Adha adalah agar daging kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah sholat Idul Adha. Sementara itu, untuk sholat Idul Fitri dianjurkan untuk makan terlebih dahulu agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa.

5. Mandi

Amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha berikutnya yaitu mandi. Disunnahkan mandi sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Idul Adha. Hal ini boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama adalah sesudah waktu subuh.

Tujuan dari mandi adalah membersihkan anggota badan dari bau yang tidak sedap, dan membuat badan menjadi segar bugar. Jadi, mandi sebelum waktu berangkat adalah yang paling baik. Berbeda jika mandinya setelah pertengahan malam, maka kemungkinan bau badan akan kembali lagi, begitu juga kebugaran badan.

6. Memakai Pakaian Bagus dan Wangi-wangian

Berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangi-wangian juga menjadi amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha yang baik dilakukan. Hal ini tidak berarti kamu harus memakai pakaian mahal dan mewah, namun yang penting bersih dan rapi. Jangan lupa juga untuk memakai wangi-wangian sewajarnya. Seperti yang diriwayatkan dari Zaid bin al-Hasan bin Ali dari ayahnya ia mengatakan: 

“kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan (HR. Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256)

7. Berjalan Menuju Masjid

Amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha berikutnya yaitu berjalan menuju masjid. Pada hari raya Idul Adha, dianjurkan untuk mengutamakan berjalan kaki menuju masjid atau tempat sholat Idul Adha. Sementara untuk para lansia dan orang yang tidak mampu berjalan, maka boleh saja berangkat menggunakan kendaraan. Dengan berjalan kaki, seorang muslim bisa bertegur sapa mengucapkan salam dan juga bisa bersalam-salaman sesama kaum Muslimin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW riwayat dari Ibnu Umar:

"Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan sholat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat sholat Id."

Selain itu, disunnahkan untuk berangkat lebih awal supaya mendapatkan shaf atau barisan depan. Sembari menunggu sholat Idul Adha dilaksanakan, kamu bisa bertakbir bersama-sama di masjid dengan para jemaah yang telah hadir.

8. Melewati Jalan yang Berbeda saat Pergi dan Berangkat Sholat

Amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha selanjutnya adalah berangkat dan pulang melalui jalan yang berbeda. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya Nabi Muhammad SAW mendatangi sholat ‘Id dengan berjalan kaki dan beliau pulang melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi. (HR. Ibnu Majah)

9. Mengumandangkan Takbir

Mengumandangkan takbir merupakan salah satu amalan sunnah sebelum sholat Idul Adha yang bisa dilakukan umat Islam. Mengumandangkan takbir dimulai dari terbenamnya matahari sampai imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya Idul Adha dan sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah pada hari tasyriq.

Hal ini karena pada malam tersebut kita dianjurkan untuk mengagungkan , memuliakan, dan menghidupkannnya. Anjuran mengenai takbir pada hari raya Idul Adha ini terdapat dalam kitab Raudhatut Thalibin:

"Disunnahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunnahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah."

10. Semua Umat Islam Menghadiri Sholat Idul Adha

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam, jadi tidak heran semua muslim dianjurkan untuk menghadiri Sholat Idul Adha ini, baik tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Bahkan perempuan yang sedang haid, juga diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW supaya hadir. Hal ini seperti diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah al-Anshariyah ia berkata: 

“Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menyertakan gadis remaja, wanita yang sedang haid, dan wanita pingitan. Adapun wanita yang sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat sholat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya dan dakwah yang disampaikan khatib bersama kaum muslimin.” (HR. Ahmad)

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6