Kadin Soroti Pentingnya Intervensi Perusahaan untuk Lindungi Pekerja dari Dengue

Kadin ajak dunia usaha ambil peran lawan dengue dengan edukasi, pencegahan, dan kebijakan perusahaan yang komprehensif.

Diterbitkan 26 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peran dunia usaha dalam menghadapi ancaman dengue semakin disorot. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menegaskan bahwa perusahaan tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam upaya pencegahan penyakit yang terus meningkat di Indonesia ini, terutama karena banyak kasus menyerang usia produktif.

Sejak diluncurkan pada 2024, gerakan SIAP Lawan Dengue hadir untuk mengubah cara pandang bahwa dengue bukan sekadar isu kesehatan masyarakat, melainkan juga risiko nyata bagi produktivitas dan keberlanjutan bisnis. Hingga April 2026, tercatat lebih dari 30 ribu kasus dengue di Indonesia dengan puluhan kematian, menandakan bahwa ancaman ini masih jauh dari terkendali.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Prima Yosephine, mengatakan, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan lintas sektor.

Dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif. Prima, mengatakan, pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi, pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor.

Saat ini, lanjut Prima, Kemenkes juga tengah menyiapkan tindak lanjut dari Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) ke dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) sebagai langkah penguatan implementasi ke depan.

"Pendekatan seperti SIAP Lawan Dengue mendukung upaya nasional menuju pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan. Keterlibatan semua pihak sangat penting untuk menurunkan beban penyakit ini," ujarnya.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan KADIN Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menekankan pentingnya edukasi yang berkelanjutan, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat luas.

"Selama ini mungkin orang melihat dengue itu hanya terjadi pada saat hujan, itu tidak benar. Karena nyamuk berkembang biak setiap hari, sehingga penularannya bisa terjadi kapan saja," ujarnya.

Menurutnya, kesalahpahaman ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya pencegahan. Padahal, lingkungan kerja memiliki potensi menjadi titik penularan jika tidak dikelola dengan baik, mulai dari genangan air hingga sanitasi yang kurang optimal.

 

Intervensi Lawan Dengue

Lebih lanjut, Shinta menjelaskan bahwa sebenarnya perusahaan sudah memiliki fondasi yang kuat untuk melakukan intervensi. Regulasi terkait kesehatan dan keselamatan kerja (K3) telah tersedia, termasuk unit pelaksana dan skema pembiayaan.

"Di dalam perusahaan sudah ada regulasi, sudah lengkap, sudah ada unitnya, sudah ada pembiayaannya. Jadi sebenarnya sudah komplit, tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya secara lebih komprehensif," ujarnya.

Hingga saat ini, lebih dari 60 perusahaan telah bergabung dalam gerakan SIAP Lawan Dengue. Namun, jumlah tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan mengingat luasnya dampak penyakit ini terhadap tenaga kerja.

KADIN melihat perusahaan memiliki posisi strategis sebagai inisiator perubahan. Langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran karyawan, memperkuat pengendalian lingkungan kerja, hingga memasukkan perlindungan kesehatan sebagai bagian dari kebijakan perusahaan.

 

Lindungi Tenaga Pekerja dari Dengue

Pandangan ini sejalan dengan perspektif medis. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia, dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok., Subsp.BioKO (K) menekankan bahwa upaya preventif di lingkungan kerja, termasuk program imunisasi pekerja, menjadi kunci dalam melindungi tenaga kerja dari risiko dengue.

Agustina mengingatkan bahwa dengue bukan hanya memberikan beban kesehatan bagi individu, tapi juga berdampak pada keluarga dan lingkungan kerja. Ketika seorang pekerja terinfeksi, dampaknya dapat meluas.

Mulai dari proses pemulihan yang tidak singkat, hingga gangguan pada aktivitas sehari-hari dan peran mereka di keluarga maupun pekerjaan.

"Sehingga upaya pencegahan perlu juga diperkuat secara komprehensif dengan upaya promotif seperti edukasi dan pengendalian faktor risiko di lingkungan kerja sehingga pekerja terlindungi, tetap sehat dan produktif," katanya.

Selain itu, pendekatan preventif seperti edukasi dan vaksinasi juga dinilai penting untuk menekan angka kasus. Namun, studi menunjukkan masih adanya keraguan di kalangan pekerja terhadap vaksin dengue, terutama terkait biaya.

Shinta mengatakan bahwa hal ini menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan lebih tepat sasaran, termasuk komunikasi yang efektif dan dukungan dari perusahaan sebagai fasilitator.

"Kita semua sudah punya perangkatnya, tinggal bagaimana kita menyatukan langkah menjadi upaya bersama. Perusahaan punya peran strategis untuk mendorong intervensi yang lebih luas," tambah Shinta.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, KADIN optimistis target nol kematian akibat dengue pada 2030 bukan hal yang mustahil. Namun, kunci utamanya terletak pada kesadaran bahwa pencegahan harus dilakukan setiap hari, bukan hanya saat musim hujan.