Liputan6.com, Selangor - Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Dzulkefly Ahmad mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan kasus penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD) di Negeri Jiran.
Pada 2011, prevalensi masyarakat yang alami penyakit ginjal kronis sekitar 9 persen. Angka ini kemudian melonjak 15,5 persen pada 2025. Alhasil, saat ini ada lebih dari 5 juta orang di Malaysia yang alami penyakit gagal ginjal kronis. Kondisi ini membuat jumlah orang yang melakukan cuci darah atau dialisis pun bertambah.
Rata-rata, tiap hari bertambah 28 warga Malaysia yang perlu melakukan didiagnosis gagal ginjal dan jalani perawatan dialisis untuk bertahan hidup. Peningkatan kasus gagal ginjal kronis menyebabkan biaya pengobatannya ikut naik. Dari RM 572 juta pada tahun 2020 menjadi RM 3,3 miliar atau sekitar Rp 11 triliun menyusul peningkatan kasus yang stabil setiap tahunnya.
Advertisement
“Beban ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga memberikan tekanan finansial yang sangat berat pada negara kita,” katanya saat meresmikan peringatan Hari Ginjal Sedunia Nasional 2026 di Wisma Majlis Bandaraya Shah Alam (MBSA), Selangor pada Minggu, 12 April 2026.
“Jika kita gagal bertindak tegas hari ini, lebih dari 106.000 warga Malaysia diperkirakan akan membutuhkan perawatan dialisis pada tahun 2040, angka yang sangat mengkhawatirkan,” kata Datuk Seri Dzulkefly Ahmad mengutip The Edge Malaysia.
Lebih lanjut, Dzulkefly Ahmad mengatakan penyebab utama gagal ginjal di Malaysia adalah komplikasi dari diabetes melitus. Maka dari itu, ia mengatakan bahwa peran pemerintah dalam mencegah agar tak makin banyak warganya yang mengalami diabetes. Salah satunya menaikkan pajak minuman manis.
“Pemerintah telah menaikkan pajak minuman manis (SSB) menjadi 90 sen per liter efektif 1 Januari 2025," katanya.
Apa Itu Penyakit Gagal Ginjal Kronis?
Gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal kronis (PGK) adalah kondisi penurunan fungsi ginjal secara bertahap dan permanen yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih. Pada kondisi ini, ginjal mengalami kerusakan dan tidak mampu menyaring limbah serta kelebihan cairan dari darah secara efektif.
Ginjal memiliki peran vital dalam tubuh, antara lain:
- Menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah
- Mengatur kadar elektrolit dalam tubuh
- Membantu mengontrol tekanan darah
- Memproduksi hormon eritropoietin untuk pembentukan sel darah merah
- Mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang.
Sayangnya, pada tahap awal penyakit ginajl pasien tidak merasakan gejala khas. Alhasil pasien biasanya mengetahui sudah terlambat atau sudah parah seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi Med Salim Lim dari RS EMC Grha Kedoya Jakarta.
Soal kencing berbusa, Med Salim Lim mengatakan itu memang bisa tanda penyakit ginjal. "Hal ini karena adanya protein (proteinuria) yang bocor dari ginjal ke dalam urine akibat kerusakan pada filter ginjal (glomeruli)," tutur Med Salim Lim beberapa waktu lalu.
Advertisement
Penyebab Gagal Ginjal
Med Salim Lim mengutarakan kebanyakan pasien gagal ginjal terjadi akibat penyakit diabetes, hipertensi dan glomerulonephritis.
"Jika gagal ginjal akibat diabetes dan hipertensi biasanya terjadi pada orang dewasa di atas umur 40 tahun. Gagal ginjal karena glomerulonephritis bisa terjadi pada orang di usia muda di bawah umur 40 tahun karena gejalanya yang tidak khas seperti kencing berbusa sehingga sering terlambat diketahui.“ ujar Med Salim Lim dalam seminar dan temu kangen dengan Komunitas Ginjal Sehat Selalu (GSS) di RS EMC Grha Kedoya Jakarta.
Penyebab lain gagal ginjal bisa karena batu ginjal, infeksi, kurang minum, kanker, penyakit jantung, liver, genetik (polikistik ginjal).
Gagal ginjal juga bisa terjadi karena efek samping penggunaan obat tertentu terutama obat anti nyeri (pain killer). "Penggunaan obat pereda nyeri golongan NSAIDS pada jangka panjang atau dengan dosis tinggi, terutama pada pasien yang sudah menderita penyakit ginjal, bisa memperburuk fungsi ginjal atau bahkan memicu gagal ginjal,“ katanya lagi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134529/original/089698800_1739622825-20250215-Prabowo-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4804864/original/058141600_1713412064-cek_fakta_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3448808/original/032087500_1620206402-stethoscope-decorative-kidneys-gray_185193-30956.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409553/original/011733700_1479455222-Malaysia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311453/original/089619600_1785402718-WhatsApp_Image_2026-07-30_at_4.02.28_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560497/original/088597400_1776670481-robina-weermeijer-sRXCFkJahGk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559988/original/022076400_1776655094-cuci_darah__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8707595/original/021851700_1782784915-55363999883_36c2ce3eea_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8465383/original/050312900_1782366651-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5303308/original/072080500_1754061236-pexels-karolina-grabowska-4506075.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8154678/original/008938600_1781008551-ginjal__5_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7276654/original/013763400_1780061752-IMG-20260529-WA0060_1__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569634/original/060988500_1777448843-WhatsApp_Image_2026-04-25_at_09.36.59.jpeg)