Pengertian dan Penyebab Rhabdomyolysis, Kerusakan Otot yang Bisa Berujung Gagal Ginjal

Rhabdomyolysis adalah kondisi serius akibat kerusakan otot rangka yang melepaskan zat berbahaya ke darah, memicu gagal ginjal akut hingga gangguan jantung.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 10:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengertian dan penyebab rhabdomyolysis menjadi topik kesehatan yang penting untuk dipahami, terutama bagi mereka yang aktif berolahraga, bekerja di lingkungan berat, atau memiliki kondisi medis tertentu. Meski tergolong jarang, rhabdomyolysis dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak dikenali dan ditangani sejak dini.

Pada dasarnya, rhabdomyolysis terjadi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan sehingga isi sel otot bocor ke dalam aliran darah. Zat-zat yang dilepaskan tersebut dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, terutama ginjal yang bertugas menyaring limbah dari darah.

Karena gejalanya sering menyerupai kelelahan otot biasa, banyak orang tidak menyadari bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian medis segera. Oleh sebab itu, memahami pengertian, penyebab, faktor risiko, dan tanda-tandanya dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih berat. Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (24/6/2026).

Apa Itu Rhabdomyolysis?

Rhabdomyolysis adalah kondisi ketika otot rangka mengalami kerusakan atau penghancuran secara cepat sehingga komponen di dalam sel otot dilepaskan ke aliran darah. Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (Keslan) Kementerian Kesehatan RI, istilah ini berasal dari kata rhabdomyo yang berarti otot rangka dan lysis yang berarti penghancuran atau kerusakan cepat.

Saat otot rusak, berbagai zat seperti mioglobin, kreatin kinase (CK), kalium, fosfat, dan enzim lainnya akan masuk ke dalam sirkulasi darah. Mioglobin merupakan protein yang berfungsi menyimpan oksigen di dalam otot. Dalam jumlah besar, zat ini dapat bersifat toksik bagi ginjal dan menyebabkan penyumbatan pada sistem penyaringan ginjal.

Menurut Cleveland Clinic, rhabdomyolysis merupakan cedera otot yang menyebabkan otot mengalami disintegrasi atau penghancuran. Kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan ginjal, gangguan elektrolit, hingga gagal ginjal akut apabila tidak segera ditangani.

Kajian ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal The Ochsner Journal menjelaskan bahwa rhabdomyolysis merupakan proses kompleks yang melibatkan pelarutan cepat otot rangka yang rusak atau cedera. Kerusakan tersebut menyebabkan pelepasan mioglobin, kreatin kinase, aldolase, laktat dehidrogenase, serta berbagai elektrolit ke dalam aliran darah.

Mengapa Rhabdomyolysis Berbahaya?

Bahaya utama rhabdomyolysis terletak pada dampaknya terhadap ginjal. Ketika mioglobin yang dilepaskan dari otot beredar dalam jumlah besar, ginjal harus bekerja keras untuk menyaringnya. Akumulasi mioglobin dapat merusak jaringan ginjal dan memicu gagal ginjal akut.

Selain itu, kerusakan otot juga menyebabkan perubahan kadar elektrolit dalam tubuh. Peningkatan kadar kalium (hiperkalemia), misalnya, dapat mengganggu irama jantung dan meningkatkan risiko henti jantung mendadak.

Dalam kasus yang berat, komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Gagal ginjal akut
  • Gangguan irama jantung
  • Kejang
  • Sindrom kompartemen
  • Asidosis metabolik
  • Gangguan pembekuan darah
  • Kegagalan multiorgan

Karena itu, diagnosis dan penanganan dini menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius.

Pengertian dan Penyebab Rhabdomyolysis yang Perlu Diketahui

Pembahasan mengenai pengertian dan penyebab rhabdomyolysis tidak dapat dipisahkan dari faktor yang memicu kerusakan otot. Secara umum, penyebabnya dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu traumatik dan non-traumatik.

1. Penyebab Traumatik

Penyebab traumatik terjadi akibat cedera fisik langsung pada otot.

Cedera Berat atau Kecelakaan

Benturan keras akibat kecelakaan kendaraan, tertimpa benda berat, atau cedera remuk (crush injury) merupakan salah satu penyebab paling umum. Kerusakan jaringan otot yang luas dapat memicu pelepasan mioglobin dalam jumlah besar.

Tekanan Berkepanjangan pada Otot

Orang yang mengalami koma, pingsan dalam waktu lama, atau kelumpuhan dapat mengalami tekanan terus-menerus pada kelompok otot tertentu. Kondisi ini mengurangi aliran darah ke jaringan dan menyebabkan kematian sel otot.

Sengatan Listrik dan Sambaran Petir

Arus listrik yang masuk ke tubuh dapat merusak serat otot secara langsung. Literatur medis menunjukkan bahwa sebagian penyintas cedera listrik berat berisiko mengalami rhabdomyolysis.

Luka Bakar Berat

Luka bakar yang luas tidak hanya merusak kulit, tetapi juga jaringan otot di bawahnya sehingga meningkatkan risiko penghancuran sel otot.

Gigitan Hewan Berbisa

Racun dari beberapa jenis ular dan serangga tertentu dapat merusak jaringan otot dan memicu rhabdomyolysis.

2. Penyebab Non-Traumatik

Penyebab non-traumatik tidak berkaitan langsung dengan cedera fisik.

Olahraga Berlebihan

Menurut Cleveland Clinic, olahraga intensitas tinggi tanpa waktu pemulihan yang cukup dapat menyebabkan rhabdomyolysis. Risiko meningkat pada atlet maraton, latihan militer, latihan interval intensitas tinggi, atau individu yang tiba-tiba melakukan aktivitas berat tanpa persiapan.

Dehidrasi dan Heatstroke

Kekurangan cairan membuat ginjal kesulitan membuang produk sisa kerusakan otot. Sementara itu, suhu tubuh yang terlalu tinggi mempercepat kerusakan jaringan otot.

Konsumsi Alkohol Berlebihan

Alkohol dapat menyebabkan kerusakan otot secara langsung serta meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan metabolisme.

Penyalahgunaan Narkoba

Berbagai zat seperti kokain, heroin, amfetamin, ekstasi, dan LSD diketahui dapat memicu kerusakan otot dan meningkatkan risiko rhabdomyolysis.

Efek Samping Obat

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan kerusakan otot pada sebagian orang. Literatur ilmiah menyebutkan bahwa kelompok statin, obat antipsikotik, antidepresan tertentu, antivirus, dan beberapa obat lainnya dapat meningkatkan risiko rhabdomyolysis pada kondisi tertentu.

Infeksi

Infeksi virus seperti influenza, HIV, herpes simpleks, Epstein-Barr virus, dan beberapa infeksi bakteri dapat memicu peradangan serta kerusakan otot. Penelitian menunjukkan bahwa influenza termasuk salah satu infeksi yang cukup sering dikaitkan dengan rhabdomyolysis.

Gangguan Metabolik dan Endokrin

Beberapa kondisi seperti ketoasidosis diabetik, hipotiroidisme, ketidakseimbangan elektrolit, serta kelainan metabolisme bawaan juga dapat menjadi penyebab.

Penyakit Genetik

Menurut Cleveland Clinic, penyakit genetik seperti Duchenne Muscular Dystrophy dan McArdle Disease dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami rhabdomyolysis.

Faktor Risiko Rhabdomyolysis

Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini, antara lain:

  • Lansia berusia di atas 65 tahun
  • Penderita diabetes
  • Atlet ketahanan seperti pelari maraton
  • Anggota militer yang menjalani latihan berat
  • Petugas pemadam kebakaran
  • Pekerja di lingkungan panas
  • Individu dengan penyakit otot bawaan
  • Pengguna obat tertentu yang memengaruhi otot

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Rhabdomyolysis memiliki tiga gejala klasik, yaitu:

  1. Nyeri otot (myalgia)
  2. Kelemahan otot
  3. Urine berwarna cokelat, merah tua, atau seperti teh

Namun penelitian menunjukkan bahwa triad gejala tersebut tidak selalu muncul bersamaan. Banyak pasien hanya mengalami sebagian gejala atau bahkan hanya perubahan warna urine.

Gejala lain yang dapat muncul meliputi:

  • Pembengkakan otot
  • Demam
  • Kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Detak jantung cepat
  • Penurunan jumlah urine
  • Dehidrasi
  • Penurunan kesadaran

Cara Mencegah Rhabdomyolysis

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Minum air putih yang cukup sebelum dan sesudah olahraga.
  • Meningkatkan intensitas olahraga secara bertahap.
  • Menghindari aktivitas fisik berat saat cuaca sangat panas.
  • Beristirahat cukup setelah latihan intensif.
  • Menghindari konsumsi alkohol berlebihan.
  • Tidak menggunakan narkoba.
  • Menggunakan alat pelindung diri saat bekerja.
  • Berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat tertentu yang berisiko memengaruhi otot.

Pertanyaan Seputar Otot

1. Apa fungsi utama otot rangka?

Otot rangka berfungsi menggerakkan tubuh, menjaga postur, serta membantu stabilitas sendi saat beraktivitas.

2. Mengapa otot terasa nyeri setelah olahraga?

Nyeri otot setelah olahraga biasanya disebabkan oleh mikrorobekan serat otot yang akan pulih secara alami. Namun nyeri yang sangat berat disertai urine gelap perlu diwaspadai sebagai tanda rhabdomyolysis.

3. Apakah semua olahraga berat bisa menyebabkan rhabdomyolysis?

Tidak. Risiko meningkat bila latihan dilakukan terlalu intens, mendadak, tanpa adaptasi tubuh, atau disertai dehidrasi dan suhu lingkungan yang tinggi.

4. Apa warna urine yang perlu diwaspadai pada rhabdomyolysis?

Urine dapat berubah menjadi cokelat tua, merah gelap, atau menyerupai warna teh akibat kandungan mioglobin yang tinggi.

5. Apakah otot yang rusak bisa pulih kembali?

Sebagian besar kasus dapat pulih dengan baik apabila mendapatkan penanganan cepat, istirahat cukup, dan terapi yang sesuai sebelum terjadi komplikasi serius.

 

 

Â