Dermatitis di Musim Pancaroba: Ketahui Jenis, Gejala, hingga Pencegahannya

Musim pancaroba pengaruhi kesehatan kulit dan bisa picu dermatitis, begini cara mencegahnya.

Diterbitkan 16 Maret 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pancaroba atau perubahan musim bisa memicu masalah pada kulit seperti dermatitis. Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, Dhika Beankha Kusnaedi, menjelaskan bahwa di musim pancaroba, tidak sedikit orang yang mengeluhkan kulit menjadi lebih kering, gatal, kemerahan, atau bahkan muncul ruam ketika cuaca berubah-ubah.

“Dalam kondisi tertentu, keluhan ini dapat berkaitan dengan dermatitis,” kata Dhika mengutip laman EMC, Minggu (15/3/2026).

Dermatitis merupakan istilah medis untuk peradangan pada kulit. Kondisi ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ringan hingga cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat musim pancaroba, risiko kekambuhan atau munculnya gejala baru bisa meningkat, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau riwayat gangguan kulit sebelumnya.

Kulit adalah organ terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung dari lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu, kelembapan, dan paparan alergen secara tiba-tiba, lapisan pelindung kulit dapat mengalami gangguan.

Pada musim pancaroba, udara bisa menjadi lebih kering atau justru lebih lembap dari biasanya. Perubahan ini memengaruhi keseimbangan kadar air pada kulit. Jika kelembapan alami kulit menurun, lapisan pelindungnya menjadi lebih rentan. Akibatnya, iritan dan alergen lebih mudah masuk dan memicu peradangan.

Jenis Dermatitis

Beberapa jenis dermatitis yang kerap memburuk saat perubahan musim antara lain:

Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik sering dialami oleh individu dengan riwayat alergi, asma, atau rhinitis alergi. Kulit cenderung kering, mudah gatal, dan bisa mengalami penebalan jika sering digaruk. Perubahan cuaca dapat memperburuk kekeringan kulit sehingga gejalanya lebih terasa.

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak terjadi ketika kulit bersentuhan dengan zat tertentu yang bersifat iritatif atau alergen. Saat pancaroba, penggunaan produk perawatan kulit baru atau perubahan deterjen pakaian untuk menyesuaikan cuaca juga dapat memicu reaksi.

Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik biasanya muncul di area yang kaya kelenjar minyak seperti kulit kepala, wajah, dan dada bagian atas. Perubahan suhu dan kelembapan dapat memengaruhi produksi minyak serta pertumbuhan mikroorganisme alami di kulit, sehingga memicu peradangan.

Gejala Dermatitis

Gejala dermatitis bisa bervariasi, tapi beberapa tanda yang umum ditemukan meliputi:

  • Kulit kering dan terasa kasar
  • Kemerahan
  • Rasa gatal yang menetap
  • Ruam atau bercak bersisik
  • Sensasi perih atau panas ringan.

Gejala dapat muncul secara bertahap atau tiba-tiba, terutama ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem dalam waktu singkat.

Tidak semua orang akan mengalami dermatitis saat pancaroba. Namun, risiko cenderung lebih tinggi pada:

  • Individu dengan riwayat alergi atau kulit sensitif
  • Anak-anak
  • Orang dengan riwayat dermatitis sebelumnya
  • Mereka yang sering terpapar bahan kimia atau iritan.

“Memahami faktor risiko membantu kita lebih waspada tanpa perlu merasa cemas berlebihan,” kata dokter yang bertugas di RS EMC Alam Sutera.

Jaga Kulit Tetap Sehat Saat Pancaroba

Kabar baiknya, sebagian besar kasus dermatitis ringan dapat dicegah atau dikendalikan dengan perawatan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Menjaga Kelembapan Kulit

Gunakan pelembap secara rutin, terutama setelah mandi. Pilih produk yang lembut, tidak mengandung pewangi berlebihan, dan sesuai dengan jenis kulit.

Pilih Produk Perawatan yang Minimal Iritan

Saat musim berubah, hindari terlalu sering mengganti produk perawatan kulit. Jika ingin mencoba produk baru, lakukan uji coba pada area kecil terlebih dahulu.

Gunakan Pakaian yang Nyaman

Pilih bahan yang menyerap keringat dan tidak terlalu kasar. Bahan tertentu dapat memicu gesekan dan memperburuk iritasi.

Musim pancaroba membawa perubahan yang tidak selalu terlihat, tapi dapat dirasakan oleh tubuh, termasuk kulit. Waspada terhadap dermatitis bukan berarti merasa cemas, melainkan lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh.

Dengan menjaga kelembapan kulit, menghindari iritan, dan memahami faktor risiko, kesehatan kulit dapat tetap terjaga meskipun cuaca berubah-ubah.

“Apabila keluhan kulit terasa mengganggu atau berulang, konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu mendapatkan penanganan yang sesuai. Kulit yang sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bagian dari keseimbangan kesehatan secara menyeluruh,” pungkasnya.