Edukasi Gizi Terbesar di 1.800 Sekolah Raih Rekor MURI, Ini Pesan Penting Persagi

Rekor MURI diraih Persagi lewat edukasi gizi di 1.800 sekolah. Ini pesan penting soal peran gizi bagi masa depan bangsa.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardi menegaskan keberhasilan Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas gizi masyarakat hari ini.

“Dua puluh tahun ke depan adalah hasil dari apa yang kita lakukan sekarang. Gizi optimal menjadi fondasi utama,” kata Doddy di Jakarta, mengutip keterangan pers, Rabu (28/1/2026).

Ia juga mengapresiasi berbagai upaya perbaikan gizi yang telah membuahkan hasil, salah satunya penurunan angka stunting nasional hingga 19,8 persen. Namun, tantangan masih ada, terutama pada masalah kekurangan gizi dan meningkatnya prevalensi obesitas.

“Upaya promotif dan preventif melalui kebiasaan hidup sehat harus terus diperluas,” tambahnya.

Guna memperkuat kualitas gizi masyarakat, Persagi penyelenggaraan edukasi gizi serentak di 1.800 sekolah seluruh Indonesia. Atas kegiatan ini, Persagi meraih rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

“Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan gizi optimal bagi generasi Indonesia,” ujar Doddy.

Rekor MURI ini melibatkan lebih dari 55.400 peserta, dengan sekitar 5.000 edukator gizi, serta menjangkau 1.800 titik sekolah sebagai titik awal gerakan nasional edukasi gizi.

Doddy menegaskan, pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan simbol kekuatan kolaborasi para ahli gizi di seluruh Indonesia.

“Ini bukan sekadar rekor, tetapi bukti nyata peran strategis ahli gizi dalam pembangunan bangsa,” katanya.

MURI secara resmi mencatat pencapaian ini dengan nomor: 12608/MURI/2026 dengan kategori: Edukasi Gizi Serentak di Sekolah Terbanyak. MURI diserahkan dalam bentuk piagam dan medali kehormatan kepada Persagi.

 

 

Gizi Bukan Hanya Urusan Pangan

Edukasi gizi juga sejalan dengan kampanye kebiasaan hidup sehat, serta dukungan terhadap program pemenuhan gizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah menjangkau lebih dari 1.025 titik sasaran.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dr Octoviana Carolina menyampaikan apresiasi kepada Persagi atas peran aktifnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Gizi bukan hanya urusan pangan, tetapi investasi jangka panjang untuk kecerdasan dan daya saing bangsa,” kata dia.

Menurutnya, tantangan gizi di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta cukup kompleks, termasuk masalah gizi berlebih.

 

Peran Ahli Gizi untuk Turunkan Stunting

Sementara, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Wahidin, menegaskan peran ahli gizi sangat krusial dalam percepatan penurunan stunting.

“Program pemenuhan gizi, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, membutuhkan peran aktif tenaga gizi,” ujarnya.

Ia berharap pada 2026 cakupan intervensi semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.

 

Kebijakan Pemenuhan Gizi Harus Diperkuat

Sementara Dirjen Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan pemerintah terus memperkuat kebijakan pemenuhan gizi melalui regulasi kesehatan nasional.

“Dalam lima tahun terakhir, prevalensi ibu hamil dengan kekurangan gizi berhasil turun dari 48 persen menjadi 27 persen. Namun ini belum cukup,” jelasnya.

Ia juga menyoroti masih tingginya angka anemia pada balita dan remaja, serta pentingnya peran tenaga gizi profesional.

“Kita masih membutuhkan lebih banyak nutrisionis dan ahli diet untuk memastikan pemenuhan gizi berjalan optimal,” katanya.