Kemenkes Apresiasi Penanganan Stunting di Kaltim, Mulai dari Penguatan Posyandu hingga Edukasi Remaja Putri

Prevalensi stunting turun, Kaltim dapat penghargaan intervensi spesifik stunting terbaik dari Kemenkes RI. Berikut intervensi stunting yang dilakukan.

Diterbitkan 14 November 2025, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu provinsi yang mengalami penurunan prevalensi stunting. Tren positif penurunan stunting membuat Kalimantan Timur mendapat penghargaan nasional sebagai Provinsi dengan Capaian Intervensi Spesifik Stunting Terbaik Kategori Regional II.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kepada Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional 2025 di Kantor Kemenkes RI Jakarta, 12 November 2025.

Pada 2023 prevalensi stunting di provinsi Kalimantan Timur mencapai 22,9. Selang setahun prevalensi stunting turun menjadi 22,2 persen atau menurun 0,7 persen.

"Kami menerima penghargaan ini dari Kemenkes karena kami bisa melakukan pencegahan stunting baik yang terbaik maupun yang terendah,” ujar Rudy di Gedung Kementerian Kesehatan mengutip keterangan tertulis.

Usai menerima penghargaan itu, Rudy mengungkapkan bahwa Kalimantan Timur tak bakal berpuas. Provinsi itu terus berupaya menekan angka stunting di tahun-tahun mendatang.

Beragam upaya dilakukan termasuk penguatan dan koordinasi lintas sektor termasuk ke desa. Target sasaran pun bukan cuma bayi tapi juga pemberian zat besi pada remaja putri.

"Lalu, konsistensi program intervensi gizi di setiap daerah. Pastinya dengan Makan Bergizi Gratis dan Posyandu akan diberdayakan. Termasuk memberikan penyuluhan pernikahan dini itu bisa dicegah dan remaja putri diberikan zat besi agar menghasilkan generasi-generasi yang sehat," tutur Rudy.

Kaltim Dorong 5 Ribu Posyandu Aktif Intervensi Stunting

Kalimantan Timur melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengoptimalkan peran dari 5.000 posyandu untuk menekan angka stunting.

"Tantangan terbesarnya adalah partisipasi masyarakat, sehingga kami perlu menggerakkan pemberdayaan melalui Posyandu agar warga merasa program ini adalah kepentingan mereka sendiri," kata Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, mengutip Antara.

Dari 5.000 posyandu ada sebagian diantaranya tidak aktif. Jaya pun mengatakan untuk mengaktifkan kembali unit-unit pelayanan tersebut guna mendekatkan akses kesehatan kepada masyarakat.

"Terkait langkah konkret di lapangan, kami telah menerapkan kegiatan intervensi spesifik yang dijalankan secara konsisten di 10 kabupaten dan kota," ucap Jaya.

Jaya mengungkapkan ada beberapa kegiatan sebagai upaya intervensi spesifik yang dievaluasi setiap triwulan. Diantaranya pemberian makanan tambahan bergizi bagi kelompok rentan juga distribusi tablet tambah darah bagi remaja putri.

Intervensi BAB Sembarangan

Jaya mengatakan selain aspek medis program ini juga menyasar perubahan perilaku hidup bersih melalui kampanye setop buang air besar sembarangan di lingkungan permukiman.

Jaya pun yakin lewat koordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten/kota menjadi syarat mutlak keberhasilan program tersebut.

"Rapat koordinasi teknis segera digelar untuk menyamakan persepsi dan langkah taktis penurunan angka gagal tumbuh pada anak di seluruh wilayah Kaltim," ungkap Jaya.