Mengendalikan Dengue Lewat Surveilans Berbasis Masyarakat, Ini 3 Keuntungannya

Perlu beragam upaya untuk bisa mengendalikan dengue. Salah satunya lewat Surveilans Berbasis Masyarakat. Apa itu?

Diterbitkan 13 Juli 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Upaya pengendalian dengue tak cukup hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan atau pemerintah. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting, terutama melalui pendekatan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) seperti disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Profesor Tjandra Yoga Aditama.

Tjandra mengatakan bahwa oleh para kader dan tokoh masyarakat bisa menjadi orang yang melakukan surveilans yakni pengamatan, pencatatan, pelaporan dan analisa yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis terhadap situasi kesehatan atau faktor risiko yang menjadi tanda munculnya masalah kesehatan di masyarakat.

"Ada tiga kelebihan kegiatan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) ini," kata Tjandra usai bertemu dengan kader kesehatan dan tokoh masyarakat Puskesmas Kebayoran Lama, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Pertama, mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap masalah kesehatan.

Kedua, kader dan tokoh masyarakat adalah orang-orang yang di lapangan, yang paling tahu sejak dini tentang masalah kesehatan di lingkungan mereka. Sehingga sosok-sosok ini hanya perlu diberitahu tentang hal-hal apa yang perlu jadi perhatian. Misalnya ada klaster orang dengan gejala yang sama, atau ada pencemaran lingkungan di sekitar kawasan.

Ketiga adalah meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan.

Petugas Kesehatan Bantu Fasilitasi

Agar masyarakat bisa aktif menjadi Surveilans Berbasis Masyarakat maka penting bagi petugas kesehatan untuk memfasilitasi mereka.

"Tinggal petugas kesehatan saja memfasilitasi agar kinerja mereka akan makin penting dalam pengendalian kesehatan masyarakat di Daerah Khusus Jakarta yang menuju Kota Global ini, dan juga daerah lain di Indonesia," kata pria yang pernah menjabat sebagaiDirektur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018–2020 ini.

Tjandra mencatat bahwa masyarakat yang ia temui memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai upaya penurunan dengue. Dalam pertemuan itu misalnya, seorang Ketua RT bertanya mengenai mekanisme pelaporan kalau ada klaster penyakit di warganya. Lalu, ada kader yang bertanya tentang "resep" mengajak partisipasi masyarakat dalam pengendalian penyakit.

 

5 Informasi Penting tentang Dengue

Tjandra juga berkesempatan untuk menyampaikan lima poin mengenai dengue dalam kesempatan itu.

Pertama adalah mengetahui subtipe virus Dengue apa yang sedang berkecamuk di daerah tertentu.

Kedua pengendalian dan pemberantasan sarang nyamuk. Ketiga perlindungan diri dengan baju tangan panjang atau kelambu.

Keempat adalah kesiapan fasilitas kesehatan, dan kelima penyuluhan kesehatan.