Sajian Ikan dari Dapur Sendiri: Jurus Jitu Cegah Stunting ala Wamen Isyana

Menurut Wamen Isyana, penyajian ikan dalam bentuk yang menarik dan familiar di lidah anak bisa menjadi strategi sederhana namun efektif untuk menekan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia.

Diperbarui 17 Mei 2025, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak keluarga di Indonesia yang belum menyadari bahwa solusi untuk mencegah stunting bisa dimulai dari dapur sendiri. Tak perlu bahan mahal atau menu rumit — cukup dengan olahan ikan yang bergizi dan disukai anak-anak.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos, dalam acara Sosialisasi dan Edukasi “Dapur Nusantara: Ikan Bermutu untuk Generasi Emas”, Rabu (14/5/2025), di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Ikan-ikan di lautan kita ini dapat diolah menjadi produk-produk makanan seperti apa? Apakah makanan olahan ikan, atau bakso ikan, yang lebih sehat dan tentu saja — kalau bisa — menjadi makanan yang disukai oleh anak-anak,” kata Wamen Isyana dalam sambutannya.

Menurutnya, penyajian ikan dalam bentuk yang menarik dan familiar di lidah anak bisa menjadi strategi sederhana namun efektif untuk menekan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Masalah Tinggi Badan

Wamen Isyana menegaskan bahwa stunting bukan sekadar soal tinggi badan yang tidak optimal. Lebih dari itu, stunting menyentuh aspek paling krusial dalam pembangunan manusia: perkembangan otak dan potensi kognitif.

“Karena stunting bukan sekadar tinggi badan yang tidak optimal, tapi juga menyangkut bagaimana perkembangan otak manusia, yang nantinya akan terdampak oleh stunting itu sendiri,” jelasnya.

Khususnya bagi anak-anak di bawah usia dua tahun, kandungan gizi dalam ikan — termasuk protein, asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral — sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal.

Di banyak daerah pesisir, lanjutnya, ikan justru sangat melimpah namun belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal dalam menu harian keluarga. Padahal, potensi ini bisa menjadi senjata ampuh dalam menghadapi stunting secara lokal dan berkelanjutan.

Dapur Keluarga, Garda Terdepan Cegah Stunting

Wamen Isyana menempatkan dapur keluarga sebagai garda terdepan dalam perang melawan stunting. Ia percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di rumah.

“Upaya pencegahan stunting dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan hari demi hari secara konsisten. Termasuk oleh ibu-ibu di rumah, dari dapur-dapur para ibu yang menghadirkan makanan untuk keluarga,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa edukasi gizi tidak hanya harus menyasar institusi atau program besar, tetapi juga perlu menyentuh akar terkecil: unit keluarga.

 

Kolaborasi Program, Menuju Generasi Emas 2045

Dalam kesempatan itu, Wamen Isyana juga menyebutkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam mewujudkan Generasi Emas 2045. Ia menggarisbawahi kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah konkret dalam pemenuhan Astacita keempat: peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Program MBG tidak hanya diberikan kepada anak-anak sekolah, tetapi juga kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD,” ungkapnya.

Dengan dukungan program seperti ini, serta dorongan untuk memanfaatkan ikan lokal yang bernilai gizi tinggi, Wamen Isyana optimistis Indonesia bisa menekan angka stunting secara signifikan — tidak hanya di kota, tapi juga di desa dan daerah pesisir.