Sukses

Save The Children Coffee Talk, Ketika Anak dan Orang Muda Bicara Pengurangan Risiko Bencana dan Krisis Iklim

Liputan6.com, Jakarta - Bencana dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja tanpa pandang usia, termasuk anak dan orang muda. Karenanya, penting bagi masyarakat, tak terkecuali anak-anak dan orang muda untuk memahami isu risiko bencana. 

Save the Children Indonesia bersama IDEP Foundation menggelar “Coffee Talk” sebagai self-managed event di Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 dengan menghadirkan perwakilan anak dan orang muda sebagai narasumber yang membahas isu krisis iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). 

Hadir sebagai narasumber bersama Annisa dan Kadek Rina, Ranti menyampaikan, tiga pilar Sekolah Aman belum terimplementasi dengan baik. 

“Tiga pilar Sekolah Aman sangat penting ketika bencana terjadi, tapi sayangnya belum terimplementasi dengan baik. Mulai dari fasilitas yang aman untuk anak-anak, misalnya infrastruktur dan sarana yang tahan gempa. Kedua adalah manajemen bencana, seperti pembagian tugas apabila bencana terjadi. Ketiga, pendidikan PRB yang inklusif dan bisa diakses oleh anak-anak dari berbagai latar belakang dan kondisi, termasuk untuk anak-anak disabilitas,” kata Ranti ketika ditanya perihal tantangan PRB, mengutip keterangan resmi yang diterima Liputan6.com.

Tantangan lainnya yang disampaikan oleh Annisa, Ranti, dan Kadek Rina adalah mengenai akses informasi ramah anak mengenai PRB dan krisis iklim yang sangat terbatas, wadah yang terbatas untuk anak-anak agar bisa megemukakan aspirasi, dan anak-anak yang menghadapi gangguan kesehatan mental saat pandemi COVID-19 dan bencana. 

 

2 dari 4 halaman

Rekomendasi dari Anak untuk Pemerintah

“Coffee Talk” menjadi wadah partisipasi anak yang bermakna, karena audiens dewasa mulai dari pemerintahan hingga perwakilan organisasi atau lembaga internasional yang terlibat dalam berbagai kepentingan bisa mendengarkan suara anak secara langsung dalam isu PRB dan krisis iklim.

Acara ini dihadiri oleh audiens seperti Juru Bicara Pemerintah RI Untuk G20 dr. Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Nasional Penanganan COVID-19 Prof. Drh. Wiku Adisasmito, Direktur Kesiapsiagaan BNPB Pangarso Suryotomo, serta perwakilan organisasi atau lembaga internasional, baik profit maupun nonprofit. 

Apresiasi datang dari dr. Siti Nadia Tarmizi. Menurutnya, "Coffe Talk" yang melibatkan anak-anak sebagai pembicara adalah forum yang baik.

“Saya mengapresiasi Save the Children yang telah menyelenggarakan acara ini. Luar biasa anak-anak Indonesia bisa sharing tentang pengalaman menghadapi bencana. Ini adalah satu forum yang baik, mempertemukan “sound from the ground”, mitra, dan pemerintah. Dengan kolaborasi ini, kita bisa menciptakan pengaruh yang kuat,” tutur Nadia.

 

 

 

3 dari 4 halaman

Rekomendasi dari Anak

Dalam kesempatan tersebut, anak dan orang muda yang menjadi pembicara juga menghadirkan rekomendasi untuk pemerintah dan instansi swasta, seperti memastikan adanya kebijakan ramah anak, khususnya untuk anak-anak di wilayah rawan bencana sehingga tidak ada satu pun anak yang tertinggal. Selanjutnya, adanya monitoring implementasi tiga pilar Sekolah Aman Bencana agar semua sekolah dapat menerapkan secara maksimal tanpa terkecuali.

Annisa, Ranti dan Kadek Rina juga berharap, anak dan orang muda didukung dan diberikan kesempatan untuk melakukan inovasi yang berkaitan dengan PRB dan krisis iklim, baik melalui pelatihan, workshop, dilibatkan dalam berbagai forum dan lain sebagainya.

Tak kalah penting, rekomendasi mereka adalah agar media juga mengedepankan pemberitaan yang inklusif dan ramah anak, serta memperbanyak informasi dan edukasi PRB dan krisis iklim agar semakin banyak anak dan masyarakat yang terpapar informasi tersebut.

4 dari 4 halaman

Partisipasi Anak

Partisipasi anak yang bermakna adalah hak setiap anak dan merupakan elemen sentral dari pengurangan risiko bencana dan krisis iklim. Anak perlu mendapatkan informasi yang lengkap, ruang aman yang lebih luas untuk berpendapat dan berinovasi, serta dukungan yang setara dan inklusif, untuk memastikan masa depan anak yang lebih resilien.

Dengan demikian akan tercipta lingkungan yang aman dan sehat bagi anak-anak dan pemuda bertumbuh dan berkembang.  Hal ini seperti yang diinisiasi oleh Save the Children yang memberikan kesempatan kepada perwakilan anak dan pemuda untuk aktif dalam dewan jaringan penasihat anak dan pemuda utuk berbagai issue dan topik.

“Dalam berbagai kesempatan, Save the Children mengedepankan partisipasi anak. Kami harap, forum-forum seperti ini tidak sekadar melibatkan anak untuk formalitas, tetapi anak bisa terlibat aktif, aspirasinya didengar, dan rekomendasinya dapat dipertimbangan menjadi solusi,” jelas Chief of Advocacy, Campaign, Communication, and Media – Save the Children Indonesia Troy Pantouw.