Sukses

Coronaphobia: Masalah Kecemasan Berlebihan yang Mengintai Akibat Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Pandemi COVID-19 dilaporkan meningkatkan masalah kecemasan. Baru-baru ini, beberapa peneliti memberi nama bagi masalah kesehatan berupa kecemasan yang terkait dengan virus corona: coronaphobia.

Dalam sebuah studi di Asian Journal of Psychiatry pada Desember 2020, para peneliti menyebut bahwa ketakutan adalah perwujudan masalah psikologis yang umum di masa pandemi.

Dalam abstraksinya, dikutip Rabu (24/2/2021), para penulis mengatakan bahwa COVID-19 merupakan penyakit yang terus berkembang dan memiliki faktor risiko yang unik.

"Oleh karena itu, ketakutan terkait COVID-19 dapat bermanifestasi tidak hanya dalam ketakutan dan kecemasan terkait kontraksi penyakit dan kematian, tetapi juga terkait stres sosio-okupasional," tulis peneliti.

Para penulis studi mengatakan, coronaphobia adalah respon berlebihan yang dipicu karena takut tertular virus penyebab COVID-19, yang menyebabkan kekhawatiran berlebihan disertai gejala fisik.

Gejala fisik yang dimaksud seperti kekhawatiran terus menerus yang menyebabkan jantung berdebar, tremor, sulit bernapas, pusing, hingga perubahan nafsu makan dan tidur.

Selain itu, coronaphobia juga disertai stres yang signifikan tentang kehilangan pribadi dan pekerjaan, meningkatnya perilaku mencari kepastian dan keselamatan, serta menghindari tempat dan situasi publik, yang berakibat terganggunya fungsi kehidupan sehari-hari.

"Meskipun ketakutan itu realistis, itu dapat mengganggu kualitas keseluruhan fungsi sehari-hari individu," tulis mereka.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Kekhawatiran Mulai Mengganggu Kehidupan Sehari-hari

Lynn Bufka, Direktur Senior American Psychological Association mengatakan, orang-orang saat ini sangat khawatir dan cemasa tentang penularan virus corona.

"Kita semua harus memiliki kewaspadaan yang lebih tinggi tentang melindungi diri sendiri, namun bagi sebagian orang kecemasan itu di luar proporsi risiko yang sebenarnya dan umumnya mengganggu kehidupan," kata Bufka seperti dikutip dari Washington Post.

Kepada Health, Lily Brown, Direktur Center for the Treatment and Study of Anxiety University of Pennsylvania mengatakan, untuk mengetahui apakah kecemasan seseorang tentang COVID-19 normal atau tidak, ada beberapa hal yang bisa ditanyakan ke diri sendiri.

"Pada dasarnya, apakah Anda dapat melakukan hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk menjalani kehidupan yang relatif memuaskan? Apakah Anda dapat terhubung dengan orang lain? Apakah Anda dapat membeli bahan makanan untuk seminggu? Apakah Anda dapat memenuhi tugas pekerjaan jika Anda sudah bisa mempertahankan pekerjaan?"

"Seringkali, yang terjadi ketika orang mengalami gangguan kecemasan adalah kecemasan mereka mulai meluas sehingga semakin lebih meningkat, dan menjadikannya tantangan untuk melakukan kewajiban mereka serta memenuhi kebutuhan mereka," kata Brown.

Brown mengatakan, apabila Anda mulai kesulitan melakukan tanggung jawab atau komitmen karena takut tertular penyakit, maupun khawatir orang yang dicintai jatuh sakit, ini mungkin menjadi indikasi Anda mengalami coronaphobia.

Apabila kecemasan akan COVID-19 tersebut mulai mengganggu kehidupan, Brown pun merekomendasikan Anda untuk mendatangi tenaga profesional, demi membantu mengelola kecemasan dengan lebih efektif.

3 dari 4 halaman

Infografis Kunci Hadapi Covid-19 dengan Iman, Aman dan Imun

4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini