Sukses

Cerita Tenaga Pengajar di Biak Papua Memanfaatkan Sinyal Internet

Liputan6.com, Jakarta Bagi masyarakat perkotaan kehadiran sinyal internet bukanlah hal baru. Namun, di Biak, Papua sinyal internet baru lancar sekitar 2015-2016. 

Kehadiran sinyal internet yang lancar penting bagi tenaga pengajar di daerah menjadi kebutuhan pelengkap dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Kompetensi mereka pun kian meningkat dengan cara memanfaatkan internet layaknya pengguna di perkotaan. Mendapatkan berbagai informasi cukup sekali klik, itulah manfaat besar dari internet.

TP2 Coordinator Wahana Visi Indonesia (WVI) Sugih Bastian menceritakan, Sekolah Dasar YPK Waupnor yang berlokasi di Kelurahan Burokub, Distrik Biak Kota, Papua kini sudah bisa mengakses internet. SD YPK Waupnor merupakan salah satu sekolah binaan WVI.

"Kondisi sekarang tentu sudah baik. Beda sekali saat dulu kala. Dahulu, di Biak kota, di SD YPK Waupnor koneksi internet belum sebaik saat ini. Baru sejak 2015 sampai 2016, koneksi internet di kabupaten ini, khususnya di wilayah kota mendapatkan akses internet yang lancar," tutur Bastian kepada Health Liputan6.com melalui wawancara tertulis, ditulis Sabtu (17/8/2019).

Jauh sebelum ada internet, sekitar tahun 2000-an, tenaga pengajar di SD YPK Waupnor memasukkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) secara daring (online) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dapodik adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu dan sumber data utama pendidikan nasional, yang merupakan bagian dari program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif.

"Cara melaporkan dengan tatap muka," lanjut Bastian.

2 dari 5 halaman

Dorong Akses Internet di Biak

Ketika WVI beroperasi di Biak tahun 2014, koneksi masih belum baik. Pada waktu itu, WVI menggunakan Very Small Aperture Terminal (VSAT). VSAT adalah stasiun penerima sinyal dari satelit dengan antena penerima berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter.

Fungsi utama dari VSAT untuk menerima dan mengirim data ke satelit. Selain VSAT, broadband local juga digunakan.

"Seiring waktu, kebijakan pemerintah mendorong adanya akses internet di Biak. Pembangunan internet dilakukan pada 2015 ke atas. Terkait akses internet, WVI belum pernah mendorong regulasi di bidang internet," Bastian melanjutkan.

Hingga saat ini hampir seluruh Biak kota sudah terpapar sinyal 4G. Namun, belum sepenuhnya dapat mengakses internet, khususnya di wilayah pinggiran. Misal, Biak utara, Biak timur, dan Biak barat.

"Beberapa pemerintah distrik pernah mengajukan ke provider internet (untuk meminta pasang internet), tapi sampai saat ini belum ada tanggapan. Meskipun begitu, pemancar 2G sudah mulai didirikan dan membuat akses telepon menjadi lebih mudah," ujar Bastian.

3 dari 5 halaman

Peroleh Referensi Lebih Banyak

Kemajuan terlihat sejak para tenaga pengajar mendapat akses internet. Mereka mampu mendapatkan referensi di luar wilayah tempat tinggal. Seperti yang dialami Kain Robinson Wamaer (51), yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD YPK Waupnor.

Lahir dan besar di Biak sekaligus mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar, Wamaer merasakan sulitnya akses internet sampai internet lancar pada tahun 2015 ke atas.

Pelatihan meningkatkan kemampuan menggunakan internet juga sudah dilakukan, baik mandiri oleh pihak-pihak yang lebih mampu di lingkungan sekolah maupun pelatihan dari WVI dan Samsung.

"Pelatihan menguasai penggunaan internet kerjasama WVI dan Samsung dilakukan selama dua bulan," ujar Wamaer.

Melalui pelatihan internet, kompetensi guru dapat memastikan proses mengajar yang berkualitas. Target pembelajaran dapat tercapai serta meningkatnya kemampuan literasi siswa.

4 dari 5 halaman

Literasi Anak Meningkat

Dampak positif pengenalan internet di SD YPK Waupnor juga memengaruhi siswa. Pola pembelajaran tidak monoton, lebih hidup dan bervariasi. Hal ini mendorong siswa semangat belajar.

"Peserta didik mendapatkan pola pembelajaran yang lebih variatif," Bastian menerangkan.

Senada dengan Bastian, Wamaer juga melihat anak-anak didiknya makin fokus belajar. Di kelas, para siswa lebih tenang duduk di tempat masing-masing untuk mengikuti kelas. "Mereka menjadi lebih tertarik belajar,” ungkap Wamaer.

Siswa pun hadir semua di kelas. Antusias kehadiran di kelas lebih tinggi dibandingkan kelas biasa, tanpa dukungan internet.

Dalam evaluasi yang dilakukan WVI terhadap kemampuan baca siswa tentang kehadiran akses internet di kelas, ada peningkatan kemampuan literasi. Siswa makin mudah memahami pelajaran.

"Saat ini kehadiran internet dan SSLC (Samsung Smart Learning Class) telah memberikan peningkatan 2 persen terhadap kemampuan literasi anak. Untuk kemampuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), siswa yang kompeten meningkat 8 persen," papar Bastian.

5 dari 5 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ratusan Ribu Orang Minta Jokowi Tolak RKUHP di Sidang Paripurna DPR
Artikel Selanjutnya
Penyanyi Legendaris Chrisye Jadi Google Doodle Hari Ini