Sukses

Tiap Tahun, 7 Juta Orang Meninggal Akibat Perubahan Iklim

Liputan6.com, Jakarta Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil dan polusi udara bertanggung jawab atas sekitar tujuh juta kematian setiap tahunnya. Dengan mengurangi hal itu jelas bisa mencegah lebih banyak nyawa melayang.

"Perubahan iklim sudah berdampak serius pada kehidupan manusia dan kesehatan. Ini mengancam elemen dasar yang kita semua butuhkan untuk kesehatan yang baik, udara bersih, air minum yang aman, suplai makanan bergizi, dan tempat tinggal yang aman," kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Ini akan merusak dekade kemajuan kesehatan global. Kita tidak bisa menunda tindakan," kata Tedros seperti dilansir dari New York Post pada Jumat (7/12/2018).

 

 

 

 

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Menyelamatkan dunia

Dengan menyelamatkan dunia dari masalah perubahan iklim, setidaknya satu juta nyawa bisa diselamatkan setiap tahunnya.

Selain itu, dengan menyelamatkan jutaan nyawa berarti menghemat ratusan miliar dolar AS biaya yang dihabiskan untuk masalah perubahan iklim. Hal tersebut apabila dunia bisa bekerjasama untuk memenuhi komitmen Kesepakatan Iklim Paris 2015.

"Harga dari perubahan iklim yang dirasakan sesungguhnya ada di rumah sakit dan paru kita," kata Direktur WHO untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Maria Neira.

3 dari 3 halaman

Sumber energi ramah lingkungan

Dalam laporan tersebut, lebih dari 80 ahli, profesional kesehatan, dan perwakilan dari lembaga internasional di bidang kesehatan memiliki beberapa rekomendasi.

Di antaranya adalah kebijakan dan insentif untuk mempercepat peralihan menuju sumber energi rendah karbon seperti angin, tenaga surya, dan nuklir.

Para ahli menambahkan, dengan mengurangi polusi udara, ini bisa mendorong bentuk transportasi yang lebih ramah lingkungan dan memangkas emisi.

"(Para pemimpin) perlu bertanya pada diri sendiri berapa banyak kematian yang mau mereka terima," tambah Neira.

Artikel Selanjutnya
Emisi C02 pada 2018 Mencapai Rekor Tertinggi dalam Sejarah
Artikel Selanjutnya
Kita Adalah Generasi Terakhir yang Bisa Menyetop Perubahan Iklim?