Curah Salju Himalaya Anjlok, Ilmuwan Peringatkan Krisis Air dan Risiko Ekologis

Bagaimana penjelasan ahli di balik fenomena tersebut?

Diterbitkan 17 Januari 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan dan ahli meteorologi memberikan peringatan terkait kondisi Pegunungan Himalaya yang kini tampak gersang serta berbatu. Wilayah yang semestinya tertutup selimut putih tebal pada musim salju sekarang justru mengalami penurunan curah salju drastis. Situasi tersebut memicu kekhawatiran mendalam mengenai krisis air dan potensi bencana ekologis di kawasan itu.

Ahli meteorologi mengungkapkan bahwa sebagian besar musim dingin dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan signifikan dibandingkan rata-rata pada periode 1980 hingga 2020. Kenaikan suhu global menyebabkan sedikitnya salju turun mencair sangat cepat. Sementara itu, wilayah dataran rendah sekarang lebih sering diguyur hujan daripada salju, sebuah fenomena yang oleh studi ilmiah disebut sebagai "kekeringan salju", menurut laporan BBC, Sabtu, (17/1/2026).

Laporan dari berbagai lembaga meteorologi memperkuat temuan tersebut dengan angka-angka mengkhawatirkan. Departemen Meteorologi India mencatat hampir tidak ada curah hujan dan salju di seluruh India utara pada Desember lalu.

Prediksi departemen itu memperlihatkan kemungkinan besar wilayah barat laut India, termasuk Kashmir dan Ladakh, akan mengalami penurunan curah hujan serta salju hingga 86 persen dari rata-rata jangka panjang antara Januari hingga Maret.

Pusat Internasional untuk Pengembangan Gunung Terpadu (ICIMOD) juga melaporkan bahwa musim dingin 2024-2025 mencatat rekor terendah dalam 23 tahun terakhir dengan ketahanan salju hingga 24 persen di bawah normal.

Kieran Hunt, peneliti utama meteorologi tropis di University of Reading, Inggris, menegaskan penurunan itu didukung oleh fakta valid.

"Kini ada bukti kuat dari berbagai kumpulan data bahwa curah hujan musim dingin di Himalaya memang menurun," ujar Hunt.

Kondisi serupa terjadi di Nepal. Binod Pokharel, profesor madya meteorologi di Universitas Tribhuvan, Kathmandu, menggambarkan situasi kering ekstrem di wilayah Himalaya tengah.

"Nepal tidak mengalami curah hujan sejak Oktober, dan tampaknya sisa musim dingin tersebut akan tetap kering. Hal itu kurang lebih terjadi di semua musim dingin dalam lima tahun terakhir," kata Pokharel.

Perubahan Pola Cuaca Ekstrem

Para ahli mengaitkan penurunan curah hujan musim dingin tersebut dengan melemahnya "gangguan angin barat". Fenomena itu merupakan sistem tekanan rendah dari Mediterania yang biasanya membawa udara dingin bagi wilayah India utara, Pakistan, dan Nepal. 

Kieran Hunt menjelaskan analisis timnya mengenai penyebab perubahan pola cuaca tersebut.

"Kami menduga ada dua hal yang terjadi, pertama, gangguan angin barat menjadi lebih lemah, dan dengan kepastian lebih rendah, melacak sedikit lebih jauh ke utara. Kedua, hal tersebut menghambat kemampuan sistem itu untuk menyerap kelembapan dari Laut Arab, yang mengakibatkan curah hujan lebih lemah," beber Hunt.

Departemen cuaca India bahkan melabeli gangguan angin barat yang dialami India utara sejauh musim dingin sekarang sebagai "lemah" karena hanya menghasilkan curah hujan dan salju yang sangat minim.

Dampak dari hilangnya lapisan es tersebut sangat luas. Air lelehan salju merupakan sumber penting bagi sistem sungai di kawasan itu, menyuplai air untuk kebutuhan minum, irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air bagi ratusan juta orang.

Laporan Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (ICIMOD) memperingatkan bahwa karena air lelehan salju menyumbang sekitar seperempat dari total limpasan tahunan 12 daerah aliran sungai utama di wilayah itu, anomali tersebut akan memengaruhi keamanan air bagi hampir dua miliar orang.

Ancaman Krisis Air dan Bencana

Selain krisis air, kurangnya presipitasi meningkatkan risiko kebakaran hutan di dataran rendah. Lebih jauh lagi, hilangnya gletser dan salju membuat gunung menjadi tidak stabil karena kehilangan "semen" alami yang menjaganya tetap utuh.

Situasi itu meningkatkan frekuensi bencana seperti batu jatuh, tanah longsor, dan banjir akibat luapan danau glasial.

Wilayah Himalaya sekarang menghadapi masalah ganda, kehilangan gletser akibat pemanasan global, sekaligus mendapatkan pasokan salju baru yang semakin sedikit. Para pakar memperingatkan kombinasi maut tersebut akan membawa konsekuensi besar bagi ekosistem dan manusia di kawasan itu.