Sukses

Di Indonesia, Pria Kaya Cenderung Lebih Gemuk

Liputan6.com, Jakarta Sebuah studi terbaru menunjukkan perempuan yang sosio-ekonominya rendah atau miskin, ternyata prevalensi gemuk-nya tinggi. Lantas, bagaimana dengan pria? Ternyata studi mencatat sebaliknya, semakin kaya pria, justru semakin gemuk dia.

Begitu disampaikan salah seorang peneliti di SEAMEO-REFCON, Ir. Helda Khusun, MSc, PhD, dalam paparannya soal Calorie Intake and Physical Study di sela-sela temu media di kawasan Kuningan, Jakarta, ditulis Kamis (16/3/2017).

"Laki-laki yang sosio-ekonominya rendah, konsumsi mi instan tinggi (17,8%). Namun semakin kaya, akan semakin sering dia makan buah," katanya.

Pola konsumsi perempuan mungkin tidak jauh berbeda. Namun mereka yang sosio ekonominya rendah, aktivitas fisiknya ternyata sangat rendah. Pola konsumsi seperti ini, diikuti dengan gaya hidup tidak aktif, berkaitan erat dengan peningkatan risiko Penyakit Tidak Menular, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.

Helda menggunakan 864 sampel di Indonesia yang melibatkan pria dan wanita berusia 18-45 tahun di Jakarta Timur, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan.

Asupan makanan, khususnya makanan berkalori tinggi seperti berbagai makanan olahan mi, keripik, teh manis dan minuman lain yang mengandung gula dinilai masih sering dikonsumsi. Padahal, semua makanan ini berhubungan dengan risiko obesitas.

Faktor risiko lain yang menyebabkan obesitas adalah aktifitas fisik yang rendah. Survei ini menunjukkan aktifitas fisik berhubungan secara bermakna dengan risiko obesitas.

"Orang dewasa laki-laki yang menonton TV atau bekerja dengan komputer lebih dari 6 jam per hari berisiko 1,5 kali menjadi gemuk (obesitas) dibandingkan dengan yang kurang dari itu. Pada wanita, kurangnya aktivitas fisik berisiko 2,7-3 kali lebih besar untuk menjadi gemuk (obesitas) dibanding yang sering berolahraga," ujarnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS