Eks Tentara Israel Akui Warga Palestina Tak Bersalah Kerap Dicap Teroris

Mantan tentara Israel mengungkap militer memanipulasi informasi, kerap melabeli Warga Palestina tak bersalah sebagai teroris.

Diterbitkan 04 November 2026, 17:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Seorang mantan anggota unit juru bicara militer Israel mengungkapkan bahwa pihak militer telah memanipulasi informasi mengenai operasi mereka di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Ia juga menceritakan perannya dalam membentuk informasi yang disampaikan kepada media selama bertugas.

Dikutip dari Anadolu, Rabu (4/11/2026), Ayelet Kroizer mengatakan warga Palestina yang tidak bersalah kerap dilabeli sebagai "teroris". Sementara itu, pernyataan resmi militer disusun sedemikian rupa untuk memperkuat dukungan publik dan memperoleh legitimasi internasional atas operasi militer Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Kroizer melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin. Dalam unggahan itu, ia mengumumkan penunjukannya sebagai juru bicara Breaking the Silence, organisasi Israel yang menerbitkan kesaksian mantan tentara mengenai pelanggaran militer di wilayah Palestina yang diduduki.

"Selama bertugas, saya memanipulasi informasi yang disampaikan kepada media. Saya melihat bagaimana kata 'teroris' disematkan bahkan kepada warga Palestina yang tidak bersalah dan bagaimana pernyataan disesuaikan dengan target audiens serta tujuan yang ingin dicapai," tulisnya.

Kroizer mengatakan pekerjaannya membuat ia tidak hanya mengetahui kondisi di Tepi Barat dan Gaza, tetapi juga memahami bagaimana militer memilih untuk menyajikan situasi tersebut kepada publik.

Menurut dia, unit juru bicara militer memiliki kendali yang sangat besar dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai berbagai peristiwa. Ia bahkan menyebut unit tersebut memperlakukan kebenaran layaknya sebuah lembaga hubungan masyarakat atau humas, bukan institusi yang bertanggung jawab kepada publik.

Kroizer menjelaskan, ketika menyampaikan informasi kepada masyarakat Israel, tujuan utama unit tersebut adalah memperkuat kepercayaan publik terhadap militer. Sementara itu, hak masyarakat untuk mengetahui kebenaran justru ditempatkan sebagai prioritas sekunder.

"Hak publik untuk mengetahui kebenaran paling jauh hanya menjadi prioritas kedua," tulisnya.

Adapun untuk audiens internasional, tujuan komunikasi militer adalah memperkuat dan memperluas legitimasi atas operasi militer Israel.

"Di sini pun, yang harus dikorbankan adalah kebenaran," lanjut Kroizer.

Ia juga menceritakan bagaimana pernyataan mengenai jatuhnya banyak korban jiwa biasanya diikuti ungkapan penyesalan yang disampaikan secara rutin.

"Saya belajar bagaimana melaporkan puluhan kematian dalam satu serangan dan secara otomatis menambahkan bahwa kami menyesalkan setiap dampak yang menimpa orang-orang yang tidak terlibat. Itulah rutinitas selama saya bertugas," katanya.

"Saya tidak pernah pandai berdiam diri ketika menghadapi ketidakadilan, tetapi di sini saya justru diminta melakukan pekerjaan humas untuk ketidakadilan tersebut."

 

Tinggalkan Militer dan Bergabung dengan Breaking the Silence

Kroizer mengatakan dirinya tumbuh dalam komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Tiga tahun lalu, ia memutuskan melepaskan pengecualian wajib militer untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Israel selama perang berlangsung.

"Saya mendaftar untuk ikut serta dalam sesuatu yang saat itu saya yakini sebagai upaya membela negara," tulisnya.

Namun, ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa setelah menyelesaikan dinas militernya, ia justru akan bergabung dengan Breaking the Silence, alih-alih bepergian atau memulai pendidikannya.

Breaking the Silence menyambut penunjukan Kroizer melalui unggahan di X. Organisasi tersebut menyatakan bahwa sudah waktunya kebenaran mengenai pendudukan wilayah Palestina disampaikan kepada publik.

Menutup unggahannya, Kroizer menyerukan kepada orang-orang yang pernah bertugas selama perang agar berani menyampaikan kesaksian mereka.

"Karena itu, saya tidak akan tinggal diam. Jika kalian bertugas selama perang, jangan tinggal diam juga."

Sejak Oktober 2023, perang Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya. Angka tersebut berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza.

Perang tersebut juga telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.