Eks Orang Terkaya di China Dihukum Penjara Seumur Hidup

Mantan orang terkaya di China, Hui Ka Yan, divonis penjara seumur hidup atas delapan dakwaan termasuk penipuan.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 16:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Pendiri Evergrande, salah satu pengembang properti terbesar di China, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Seluruh harta pribadi pria berusia 67 tahun tersebut juga diperintahkan untuk disita.

Dikutip dari The Guardian, Jumat (21/8/2026), Hui, yang pernah dinobatkan Forbes sebagai orang terkaya di China dengan kekayaan mencapai US$ 42,5 miliar pada 2017, sebelumnya mengaku bersalah atas delapan dakwaan pada April lalu.

Dakwaan tersebut mencakup penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan simpanan publik secara ilegal, pemberian pinjaman secara ilegal, penerbitan sekuritas secara curang, serta penyuapan.

Perusahaan yang didirikan Hui, Evergrande Group, juga dijatuhi denda sebesar 8,8 miliar yuan atau sekitar £ 950 juta. Sementara itu, divisi properti Evergrande didenda 7 miliar yuan, menurut media pemerintah China.

Kasus Hui berkaitan dengan krisis utang yang melanda Evergrande dan mengguncang perekonomian China. Krisis tersebut terjadi ketika pemerintah sedang berupaya mengurangi ketergantungan ekonomi terbesar kedua di dunia itu terhadap sektor properti.

Evergrande, yang tahun lalu delisting dari bursa saham Hong Kong, telah gagal membayar sebagian besar kewajibannya yang mencapai sekitar US$ 300 miliar.

Pengadilan Rakyat Menengah Shenzhen di China selatan mengatakan dalam putusannya bahwa sepanjang 2016 hingga 2021, Hui melanggar hukum negara dengan menggunakan metode seperti penipuan keuangan berskala besar dan terus-menerus untuk menggelembungkan aset serta menyembunyikan kewajiban.

Pengadilan menyatakan tindakan Hui telah sangat mengganggu tatanan ekonomi pasar sosialis dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Selain Hui, lebih dari 50 orang yang terkait dengan Evergrande juga dijatuhi hukuman pada Kamis. Hukuman mereka berkisar antara 20 bulan hingga 18 tahun penjara.

 

Awal Kejatuhan Evergrande

Masalah Evergrande mulai membesar pada 2020 ketika pemerintah China menerapkan aturan yang membatasi jumlah utang yang boleh dimiliki perusahaan properti.

Kebijakan tersebut menghantam sektor properti yang selama ini sangat bergantung pada utang. Sektor ini secara tradisional menyumbang antara seperempat hingga sepertiga produk domestik bruto (PDB) China.

Ratusan proyek pembangunan properti kemudian terhenti ketika perusahaan-perusahaan berlomba mencari dana dan kesulitan membayar pemasok. Kondisi tersebut semakin berat di tengah lemahnya permintaan selama pandemi Covid-19.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun ini memperkirakan pengetatan regulasi tersebut menyebabkan sekitar US$347 miliar biaya yang terhenti atau tidak menghasilkan manfaat ekonomi di seluruh China.

Evergrande berada di pusat krisis tersebut. Kejatuhan perusahaan itu kemudian dipandang sebagai simbol dari persoalan yang lebih luas di sektor properti China, yang hingga kini masih memberikan tekanan besar terhadap perekonomian negara tersebut.

Dari Keluarga Miskin hingga Jadi Miliarder

Hui berasal dari keluarga miskin di pedesaan Provinsi Henan. Ia dibesarkan oleh neneknya sebelum mendirikan Evergrande pada 1996.

Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pengembang properti terbesar di China dan mengantarkan Hui menjadi salah satu orang terkaya di negara tersebut.

Pada 2018, Hui bahkan menyampaikan terima kasih kepada Partai Komunis China karena telah memberikan “segalanya yang dimiliki Evergrande dan saya”.