Liputan6.com, Bogota - Sebuah video dramatis dari Cali, Kolombia, memperlihatkan detik-detik penyelamatan seorang bayi dari reruntuhan gedung apartemen pasca gempa magnitudo 7,4 pada Senin (10/8/2026) pagi.
Brian Osorio Zuluaga mengatakan kepada CNN bahwa ia mendengar suara gedung La Torre del Limonar runtuh saat gempa mengguncang.
"Awalnya saya mengira yang runtuh adalah sebuah proyek konstruksi. Namun ketika saya mendekati sumber suara, seorang pria menghampiri saya dan mengatakan bahwa sebuah gedung tempat tinggal telah ambruk," kata Osorio Zuluaga.
Advertisement
Ia lalu mendekati gedung tersebut untuk membantu, meski seorang perempuan sempat memperingatkannya mengenai kemungkinan adanya kebocoran gas.
"Saya mulai memikirkan semua hal buruk yang mungkin terjadi. Namun akhirnya saya mengambil keputusan. Saya melangkah maju dan berkata dalam hati, saya serahkan semuanya kepada Tuhan. Setelah itu, saya mulai berteriak mencari korban yang masih selamat," tuturnya.
Saat mencari korban, Osorio Zuluaga mendengar suara lirih seorang pria yang berkata, "Saya di sini. Saya bersama seorang bayi."
"Saya meminta orang itu berteriak lebih keras kalau bisa," kisah Osorio Zuluaga.
"Ketika akhirnya saya mengetahui dari mana suara itu berasal, saya langsung berteriak meminta bantuan. 'Ada orang di sini! Ada bayi juga! Ada bayi!'"
Osorio Zuluaga menuturkan, ia bersama enam orang lainnya kemudian berhasil mengeluarkan bayi tersebut dari reruntuhan sebelum petugas penyelamat tiba. Proses evakuasi selanjutnya dilanjutkan oleh petugas.
Berdasarkan laporan dari sejumlah kota terdampak seperti dilaporkan Reuters, jumlah korban tewas hingga Selasa pagi mencapai 254 orang. Dari jumlah itu, 101 orang tewas di Pereira, yang berada di kawasan penghasil kopi, sementara 95 orang tewas di Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia.
Berapa Lama Korban Bisa Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320874/original/090358800_1786417193-co9.jpg)
Lebih dari 36 jam telah berlalu sejak gempa magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia. Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menjangkau warga yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Dalam penanganan bencana gempa, 48 hingga 72 jam pertama umumnya dianggap sebagai periode "emas" untuk menemukan korban yang tertimbun dalam kondisi hidup. Setelah melewati waktu tersebut, peluang bertahan hidup akan menurun dengan cepat, terutama jika korban tidak memiliki akses terhadap air.
Sejumlah tim penyelamat mengenal prinsip yang disebut "aturan empat". Prinsip ini memperkirakan bahwa seseorang dapat bertahan sekitar empat menit tanpa udara, empat hari tanpa air, dan empat minggu tanpa makanan.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa patokan waktu yang kaku dan berlaku sama untuk semua kondisi belum tentu akurat. Dalam situasi tertentu yang jarang terjadi, korban dapat bertahan hidup jauh lebih lama.
Hal itu pernah terjadi setelah gempa magnitudo 7,8 mengguncang Turki dan Suriah pada 2023. Korban masih ditemukan hidup dari balik reruntuhan hingga 10 hari setelah gempa, melampaui perkiraan umum mengenai batas kemampuan manusia untuk bertahan.
Kasus serupa terjadi di Venezuela. Seorang pria berhasil diselamatkan delapan hari setelah dua gempa besar menghancurkan sejumlah wilayah negara tersebut pada Juni.
Para ahli penanganan keadaan darurat dan bencana mengatakan sejumlah faktor dapat memperbesar peluang korban untuk tetap hidup setelah melewati periode "emas". Salah satunya adalah apakah korban yang terjebak masih memiliki akses terhadap udara, air, dan makanan.
Kondisi kesehatan korban juga sangat menentukan. Peluang bertahan hidup akan berbeda antara mereka yang hanya mengalami luka ringan dan korban yang menderita cedera berat, termasuk pada organ dalam.
Korban yang sebelumnya memiliki kondisi medis tertentu juga memiliki peluang bertahan hidup lebih rendah. Kondisi mereka dapat semakin berisiko jika tidak bisa mendapatkan obat yang biasa dikonsumsi atau jika obat tersebut memiliki efek samping yang dapat memicu dehidrasi, menurut para ahli medis.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5158887/original/014385400_1741675894-cek_fakta_pasukan_oranye.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308116/original/010825900_1785129339-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T121435.797.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321735/original/035271100_1786501013-Untitled.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320870/original/017955200_1786417193-co5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320869/original/001201400_1786417193-co4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320741/original/083866600_1786380115-col3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321075/original/010300900_1786426972-45b224e2-a441-426f-bc27-2b77c0ef6b28.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320872/original/054688200_1786417193-co7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320728/original/079503500_1786375436-Gempa_Kolombia_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320866/original/049798300_1786417192-co1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320836/original/076322700_1786415266-Untitled.jpg)