Momen Trump Bagi-bagi Permen di Pemakaman Sekutunya jadi Sorotan

Presiden AS Donald Trump menjadi sorotan saat menghadiri upacara pemakaman mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 13:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi sorotan saat menghadiri upacara pemakaman mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham di Washington National Cathedral. Bukan karena pidatonya semata, tetapi juga karena aksinya yang diduga membagikan permen mint kepada orang-orang yang duduk di dekatnya.

Dikutip dari AOL, Rabu (29/7/2026), dalam rekaman yang beredar, Trump yang berusia 80 tahun terlihat berbisik kepada Wakil Presiden JD Vance, 42, yang duduk di sampingnya selama prosesi berlangsung. Percakapan singkat itu membuat Vance tertawa dan tersenyum.

Pembaca gerak bibir Nicola Hickling mengatakan kepada Mirror US bahwa keduanya diduga sedang berbicara mengenai permen Tic Tac ketika paduan suara tengah bernyanyi. Momen tersebut terjadi setelah sebelumnya sebuah video menjadi viral karena memperlihatkan Trump dan Vance diduga mengkritik tamu lain secara pelan saat menghadiri pemakaman yang sama.

Menurut Hickling, Trump berkata, "Saya menemukan ini di saku saya. Mau satu?"

Vance kemudian diduga menjawab, "Tidak, tidak apa-apa."

Trump lalu memberikan permen tersebut kepada Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, 63, sambil diduga berkata, "Kamu akan merasa lebih segar."

Vance tampak mengangguk dan tersenyum, seolah menyetujui ucapan Trump.

Hickling juga menyebut Vance kemudian berseloroh kepada keduanya, "Itu Tic Tac. Permen itu datang dalam kotak kecil."

Selain momen tersebut, Trump juga menyampaikan pidato penghormatan yang diwarnai kisah hubungan pribadinya dengan Lindsey Graham.

"Seperti yang kalian ingat, Lindsey dan saya tidak memulai hubungan dengan cara yang terbaik. Saat kami sama-sama maju pada 2016, Lindsey mengatakan sesuatu yang cukup kasar dalam perjalanannya menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya," kata Trump.

"Jadi, saya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. Saya membagikan nomor telepon pribadinya kepada jutaan orang yang kebetulan sedang menonton hari itu," lanjutnya.

Trump bahkan kembali menyebut nomor telepon Graham di hadapan para pelayat sambil berkelakar, "Kalau ada yang mau mencobanya."

Ia kemudian menutup pidatonya dengan mengenang kedekatan mereka.

"Itulah awal persahabatan kami. Namun Lindsey yang akhirnya tertawa terakhir. Saya memang membuat teleponnya terus berdering selama satu hari, tetapi kami kemudian menjadi sahabat dekat, dan Lindsey tidak pernah berhenti menelepon saya selama 10 tahun berikutnya," ujar Trump.   Â