Liputan6.com, Paris - Kebakaran hutan di Prancis membesar begitu dahsyat hingga kolom asapnya berkembang menjadi pyrocumulonimbus atau pyroCb, yakni awan kumulonimbus yang terbentuk akibat panas ekstrem dari kebakaran. Menurut para pejabat Prancis, awan tersebut menghasilkan sambaran petir yang menghantam daratan dan memicu kebakaran baru di luar area kebakaran awal.
Dengan kata lain, kobaran api tidak lagi sekadar digerakkan oleh kondisi cuaca. Kebakaran itu mulai menciptakan cuacanya sendiri. PyroCb yang terbentuk menghasilkan angin kencang dengan arah yang tidak menentu, sehingga dapat mendorong api bergerak ke arah baru.
Fenomena ini jarang terjadi di Eropa dan lebih sering tercatat di Amerika Utara serta Australia. Di kedua kawasan itu pun, pyroCb hanya muncul di atas sejumlah kebakaran paling ekstrem.
Advertisement
Seperti dilaporkan Associated Press, Federasi Nasional Pemadam Kebakaran Prancis mengatakan belum pernah mencatat fenomena semacam itu sebelumnya di negara tersebut.
Kebakaran bermula di dekat Saumos pada 22 Juli. Sejak saat itu, api telah membakar lebih dari 420 kilometer persegi atau sekitar 162 mil persegi hutan dan semak belukar.
Kebakaran tersebut juga merusak atau menghancurkan lebih dari 240 rumah serta memaksa 220.000 orang mengungsi di Gironde.
Sekitar pukul 18.20 pada Jumat (24/7), dua hari setelah kebakaran dimulai, dinas pemadam dan penyelamatan setempat melaporkan bahwa kobaran api telah menghasilkan pyroCb.
Awan itu sempat melemah pada malam hari ketika kelembapan meningkat, tetapi kemudian kembali terbentuk beberapa kali.
Panas dan asap terus membubung dari kobaran api, sementara pyroCb di atasnya tampak sebagai awan hitam raksasa yang bermuatan listrik dan berkilat dari dalam.
Theodore M. Giannaros, ahli meteorologi kebakaran di Observatorium Nasional Athena, menjelaskan fenomena tersebut dengan perumpamaan sederhana.
"Bayangkan sebuah api unggun yang begitu besar dan panas hingga asap yang naik darinya berubah menjadi awan seperti badai," kata Giannaros.
"Itulah pyroCb, yakni awan kumulonimbus yang terbentuk akibat panas ekstrem dari kebakaran hutan."
Namun, kebakaran besar saja tidak cukup untuk membentuk pyroCb.
Menurut Giannaros, tidak ada batas suhu tertentu yang secara otomatis memicu terbentuknya awan tersebut. PyroCb membutuhkan kondisi atmosfer yang dapat melahirkan badai petir kering, yaitu udara yang sangat panas dan kering di dekat permukaan tanah, dengan udara yang lebih dingin dan lembap di lapisan atas.
Dalam kondisi tersebut, udara panas yang sarat asap dan uap air naik dengan cepat dari kobaran api. Saat terus membubung dan mendingin, uap air mengembun di sekitar partikel-partikel abu.
Ketika mencapai lapisan atmosfer dengan suhu di bawah titik beku, tetesan air berubah menjadi kristal es. Tumbukan antarkristal kemudian memisahkan muatan listrik dan menghasilkan petir, sama seperti yang terjadi dalam badai petir biasa.
Petir Memicu Kerusakan Lebih Lanjut
Di bawah awan badai tersebut terbentang wilayah yang kondisinya sudah sangat mudah terbakar. Awan itu kemudian memperparah bencana yang telah melahirkannya.
Udara yang naik menarik angin kencang menuju pusat kebakaran. Sementara itu, arus udara yang turun mendorong hembusan kuat kembali ke permukaan.
Perubahan aliran udara tersebut dapat membelokkan kobaran api, memecah kebakaran menjadi beberapa front, atau mendorong api melaju cepat ke arah baru.
"Ini merupakan siklus umpan balik, bukan pengaruh satu arah," tutur Giannaros.
"Setelah terbentuk, awan tersebut menjadi sistem cuacanya sendiri. Awan itu berada tepat di atas kebakaran dan membuat pergerakan api semakin sulit diprediksi."
Sistem tersebut juga dapat membentuk kolom api yang berputar. Bentuk yang paling umum adalah pusaran api, yang digambarkan Giannaros seperti pusaran debu, tetapi terbentuk dari api dan panas, bukan debu.
Tornado sungguhan lebih jarang terbentuk. Namun, salah satunya pernah menghantam Redding, California, saat kebakaran Carr Fire pada 2018.
Tornado tersebut menghasilkan angin berkekuatan setara EF3 dan menewaskan seorang inspektur kebakaran.
Kondisi semacam ini sangat berbahaya bagi petugas pemadam. Jalur penyelamatan dapat tertutup tanpa peringatan ketika titik-titik api baru muncul di luar jangkauan personel dan peralatan mereka.
Pemadaman langsung terhadap kobaran api pun dapat menjadi mustahil. Dalam situasi seperti itu, petugas terpaksa mundur dan memusatkan upaya untuk melindungi kawasan permukiman.
Menurut Giannaros, ancaman terbesarnya muncul ketika api bergerak lebih cepat daripada kemampuan pihak berwenang untuk mengatur evakuasi.
Selama ini, pyroCb lebih banyak dikenal sebagai fenomena yang terjadi di Australia dan Amerika Utara. Kanada sendiri mencatat rekor 142 kejadian pyroCb pada 2023.
Advertisement
PyroCb Masih Jarang Terjadi di Eropa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308783/original/001769600_1785201344-Untitled.jpg)
Di Eropa, pyroCb masih jarang tercatat. Portugal pernah mengalami satu kejadian saat musim kebakaran mematikan pada 2017. Kini, Prancis bergabung dalam daftar negara Eropa yang pernah mengalami fenomena tersebut.
Kemunculan pyroCb di Prancis terjadi ketika suhu di Eropa terus meningkat. Eropa memanas lebih cepat dibandingkan benua lain di dunia, dengan laju sekitar dua kali rata-rata global sejak dekade 1980-an, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa dan Organisasi Meteorologi Dunia.
Gelombang panas juga menjadi semakin sering dan parah, sementara kekeringan meluas di wilayah selatan Eropa. Kondisi tersebut mengeringkan hutan hingga menjadikannya bahan bakar bagi kebakaran.
Menurut Giannaros, kondisi yang semakin panas dan kering memberi kebakaran ekstrem lebih banyak peluang untuk membentuk pyroCb. Namun, para ilmuwan belum memiliki cukup data jangka panjang untuk memastikan adanya tren peningkatan.
Proyek penelitian Eropa ROSETTA bertujuan mengisi kekurangan data tersebut.
Giannaros mengatakan kesalahpahaman yang paling umum adalah anggapan bahwa pyroCb hanya merupakan dampak sampingan dari kebakaran. Padahal, selama masih menggantung di atas kobaran api, awan tersebut turut menentukan ke arah mana kebakaran akan bergerak selanjutnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7805374/original/007527000_1780621590-Tugas__25_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568076/original/025738900_1777349129-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-28T110443.057.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308503/original/024029000_1785145244-prasetyo_hadi__pensiunan_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308774/original/094947000_1785200964-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308305/original/060549200_1785136098-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307359/original/092237200_1784994948-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307608/original/089354000_1754472188-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8563560/original/038389600_1782512243-000_B8FU89E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287277/original/092402000_1783206951-pra6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4591945/original/079278400_1695917238-alexander-kagan-t9Td0zfDTwI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304733/original/082914200_1784743170-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563349/original/026302900_1693876144-Lebih_dari_500_Sekolah_di_Prancis_Diawasi_Terkait_Larangan_Abaya-AFP__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)