Hungaria dan Slovakia Catat Rekor Panas Baru

Pembatasan penggunaan air diberlakukan di sejumlah wilayah setelah suhu terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hungaria dan negara tetangganya, Slovakia, pada Selasa (30/6) mencatat rekor suhu tertinggi baru ketika gelombang panas ekstrem melanda kawasan Eropa Tengah.

Slovakia mencatat suhu tertinggi baru sebesar 41,3 derajat Celsius, menurut badan layanan cuaca negara itu. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya, yakni 41 derajat Celsius, yang baru tercatat sehari sebelumnya. Rekor terbaru itu terjadi di Kamenica nad Hronom, wilayah selatan Slovakia yang berbatasan dengan Hungaria. 

Di seberang perbatasan, suhu di Hungaria mencapai 42 derajat Celsius di Kota Szecseny. Badan meteorologi nasional Hungaria, HungaroMet, melalui video yang diunggah di Facebook menyatakan bahwa suhu tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 41,9 derajat Celsius yang tercatat pada 2007.

Pembatasan penggunaan air telah diberlakukan di sejumlah wilayah di kedua negara, yang selama beberapa hari terakhir berada pada tingkat peringatan tertinggi akibat gelombang panas.

Sejumlah daerah, termasuk Kota Nitra di wilayah tengah Slovakia, mengalami kekurangan air minum. Truk tangki dikerahkan untuk memasok kebutuhan air bagi warga.

Di sebuah desa berbukit di Hungaria, sebelah barat laut Budapest, warga membawa jeriken dan botol plastik untuk mengisi air dari tangki air yang ditempatkan di pinggir jalan di tengah suhu yang mencapai 41 derajat Celsius, setelah pasokan air dari keran di wilayah tersebut mengering.

"Ini terutama untuk menghilangkan dahaga kami, dan kami juga harus menyediakan air untuk hewan-hewan kami," kata Andras Arki, mahasiswa berusia 23 tahun, kepada AFP.

Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar mengimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi air dan menghindari penggunaan yang tidak mendesak, seperti menyiram halaman dan mencuci mobil.

Rekor suhu tertinggi sepanjang masa terus terpecahkan di berbagai wilayah Eropa seiring gelombang panas ekstrem yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan. Â