Suhu Panas Eropa, AC dan Kipas Angin Laku Keras

Suhu panas di Jerman misalnya, mencapai 41 derajat Celcius.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Berlin - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus memecahkan rekor suhu di sejumlah negara. Dampaknya, terjadi lonjakan permintaan pendingin udara (AC) serta kipas angin di kawasan yang dinilai belum siap menghadapi cuaca sepanas ini.

Para ahli menyebut cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pola atmosfer dan sirkulasi udara yang memerangkap massa udara panas selama berhari-hari sehingga suhu terus meningkat. Kondisi itu diperparah oleh dampak pemanasan global.

Di Prancis, indikator suhu nasional yang dihitung dari rata-rata suhu siang dan malam di 30 stasiun cuaca mencapai 29,8 derajat Celsius. Angka tersebut menjadi suhu tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1947, dikutip dari Euractiv, Senin (29/6/2026).

Kondisi itu turut memicu lonjakan penjualan pendingin ruangan di negara yang sebagian besar bangunannya tidak dirancang untuk menghadapi panas ekstrem.

Operator hypermarket Carrefour mengungkapkan telah menjual sekitar 30.000 unit kipas angin dan pendingin udara hingga pukul 18.30 pada Senin. Jumlah itu disebut sekitar seribu kali lebih tinggi dibandingkan hari biasa.

Penjualan produk serupa di Amazon juga hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, jaringan toko elektronik Fnac Darty melaporkan pertumbuhan penjualan dua digit.

Lonjakan permintaan juga dirasakan teknisi pendingin udara. Thierry, seorang teknisi listrik di Prancis barat daya, mengaku kewalahan melayani permintaan pemasangan AC darurat.

"Secara teori, Anda harus mengajukan permintaan ke rapat umum asosiasi pemilik, tetapi orang-orang tidak mau menunggu," katanya.

Gelombang panas juga mengubah aktivitas masyarakat. Martine Belloc, pensiunan berusia 62 tahun di Bordeaux, memilih menghabiskan waktu di ruang kerja bersama yang dibuka untuk para lansia.

"Sulit untuk hidup sendirian tanpa AC," ujarnya.

Wisatawan Mengeluh

 

Cuaca panas juga dirasakan wisatawan. John Beeler, insinyur asal Amerika Serikat, mengaku dirinya dan sang istri kesulitan menikmati liburan di Paris.

"Mengunjungi Paris dalam cuaca sepanas ini sangat mengerikan. Kami sesak napas di jalanan, di kereta bawah tanah, bahkan di rumah sewaan kami," katanya.

Di Italia, Kementerian Kesehatan menetapkan status siaga merah gelombang panas di 16 kota, termasuk Roma dan Milan.

Gelombang panas diperkirakan terus meluas ke Eropa Timur dalam beberapa hari mendatang. Polandia telah mengeluarkan peringatan suhu tinggi untuk wilayah barat mulai Kamis hingga Sabtu, dengan suhu diperkirakan berpotensi melampaui rekor nasional 40,2 derajat Celsius yang tercatat pada 1921.

Peringatan merah juga diberlakukan di pesisir Adriatik Kroasia untuk Jumat dan Sabtu. Sementara itu, Hungaria akan menaikkan status peringatan panas ke tingkat tertinggi mulai Sabtu hingga Selasa seiring kenaikan suhu.

Sebuah studi ilmiah yang dipublikasikan pekan ini menyebut gelombang panas saat ini diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Tanpa pengaruh perubahan iklim, suhu diperkirakan berada sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius lebih rendah.

Meski demikian, layanan cuaca nasional Spanyol memperkirakan suhu mulai menurun di sebagian besar wilayah negara itu mulai Rabu. Pada Kamis, tidak ada lagi wilayah di Spanyol yang diperkirakan berada dalam status peringatan merah maupun oranye.