Laporan Liputan6.com dari St. Petersburg: Menko AHY Bidik Kolaborasi RI-Rusia pada Infrastruktur Prioritas

Menko AHY menyodorkan tiga agenda prioritas infrastruktur kepada Rusia dan negara-negara Eurasia.

Diterbitkan 05 Juni 2026, 11:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menawarkan tiga prioritas agenda infrastruktur kepada Rusia dan negara-negara kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Indonesia mengajak para pelaku bisnis lintas kawasan tersebut untuk membangun kolaborasi nyata dalam bentuk investasi bersama dan transfer teknologi.

Penawaran strategis ini disampaikan langsung oleh Menko AHY saat berbicara dalam EAEU-ASEAN Business Forum pada rangkaian St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St. Petersburg, Rusia, Kamis (4/6/2026). Prioritas yang disodorkan merupakan pilar utama pembangunan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Kita harus bergerak dari dialog ke kesepakatan, dari kerangka kerja ke proyek nyata, dan dari iktikad baik menjadi kemitraan yang berkelanjutan dan tepercaya. Ini berarti investasi bersama dalam proyek industri nyata yang didasarkan pada transfer teknologi yang tulus," tegas Menko AHY.

Tiga prioritas utama dari agenda infrastruktur Indonesia yang dipaparkan Menko AHY antara lain:

1. Dekarbonisasi Transportasi

Indonesia berkomitmen mencapai target agenda iklim 2030 dan emisi nol bersih (net zero emissions) pada tahun 2060 melalui transformasi transportasi yang lebih bersih, mulai dari kereta api listrik, kendaraan listrik, ekosistem baterai, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

"Indonesia tidak ingin bergabung dalam transisi energi hanya sebagai pemasok bahan baku. Kami ingin berpartisipasi dalam penciptaan nilai (value creation)," jelas Menko AHY mengenai orientasi hilirisasi tersebut.

2. Konektivitas Jaringan Kereta Luar Jawa

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, pemerintah tengah mengintegrasikan pelabuhan strategis dan memajukan pengembangan kereta api. Pembangunan ini mencakup pengembangan kereta cepat (high-speed rail) hingga perluasan koridor jaringan kereta masa depan di seluruh Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, yang membuka peluang manufaktur bersama serta logistik digital.

3. Infrastruktur Tangguh Iklim dan Mega Proyek Giant Sea Wall

Menko AHY memaparkan bahwa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor membentuk lebih dari 90 persen bencana alam di Indonesia. Secara khusus, ia menyoroti ancaman penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut di sepanjang pantai utara Jawa yang mengancam jutaan penduduk dan infrastruktur ekonomi strategis.

"Inilah mengapa Indonesia memajukan proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) dan agenda ketahanan pesisir yang lebih luas, tidak hanya untuk membangun perlindungan, tetapi untuk melindungi kehidupan, mata pencaharian, dan kota-kota pesisir," urainya.

Momentum Perjanjian Perdagangan Bebas

Upaya Menko AHY membidik kolaborasi baru ini didasarkan pada fakta bahwa nilai perdagangan ASEAN dan EAEU telah mencapai US$ 27,2 miliar pada 2024. Angka tersebut dinilai masih tergolong kecil dibandingkan hubungan dagang ASEAN dengan mitra utama lainnya, termasuk Uni Eropa.

Untuk itu, sebagai strategi keberlanjutan dalam menjaga ketahanan kerja sama makro di tengah pergolakan global, Menko AHY menawarkan cetak biru praktis bagi interaksi EAEU-ASEAN. Ia merekomendasikan empat sektor konkret yang memberikan manfaat bersama untuk segera digarap antarkawasan, yakni infrastruktur hijau dan energi bersih, logistik berbasis kecerdasan buatan (AI), teknik tangguh iklim, serta ekosistem industri maritim.

Di tingkat bilateral sendiri, Indonesia dan EAEU telah menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) pada Desember 2025 yang saat ini masih dalam proses ratifikasi. Setelah mulai berlaku, perjanjian ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata yang membantu memajukan hubungan perdagangan dan investasi tersebut.

Kerentanan Global dan Sikap Geopolitik RI

Dalam penjelasannya, Menko AHY mengingatkan bahwa dorongan terhadap kolaborasi infrastruktur ini bertolak dari situasi dunia yang rentan. Sistem global diingatkan sangat rapuh karena rantai pasok dapat terganggu, harga energi bergerak tajam, dan sistem pangan mengalami tekanan. Selain itu, ketegangan di satu wilayah dapat dengan cepat memengaruhi rumah tangga, industri, dan proyek infrastruktur di wilayah lain.

Menghadapi tantangan tersebut, Menko AHY menegaskan posisi Indonesia yang merujuk pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto di SPIEF 2025, yaitu mencari persahabatan dengan semua bangsa, percaya pada dialog di atas konfrontasi, serta kerja sama di atas persaingan. Indonesia berkomitmen menjadi jembatan, pembangun (builder), dan penyeimbang (balancer).

"Di dunia yang seperti ini, ketahanan bukan lagi sebuah pilihan. Hal tersebut harus dirancang secara sengaja melalui infrastruktur, ketahanan energi, dan kemitraan yang tepercaya," beber Menko AHY.

Ia menutup pidatonya dengan seruan kerja sama lintas kawasan.

"Mari kita menjadi generasi yang memilih kerja sama daripada fragmentasi, ketahanan daripada kerentanan, dan kemitraan jangka panjang daripada keuntungan jangka pendek. Mari kita membangun tidak hanya ekonomi yang lebih kuat, tetapi juga kepercayaan yang lebih kuat di antara bangsa-bangsa kita," imbuhnya.