Sukses

Keren! Korsel Ubah Kampung Kumuh Jadi `Keajaiban` Seni

Gamcheon, lokasi dengan banyak julukan. Di antaranya 'Lego Village' bak disusun dari balok mainan lego, atau 'Korean Machu Picchu' untuk bentuknya yang mirip lokasi reruntuhan Inca di Peru, atau 'Santorini di Laut Selatan'.

Pada pandangan pertama, kampung di kota pelabuhan Busan seperti disusun dari permen, dengan bangunan kotak-kotak berwarna-warni pastel-- dengan aksen hijau, kuning, biru bertingkat-tingkat, sejajar dengan bukit. Ada patung-patung unik yang tersebar di sana.

Gamcheon menawarkan pemandangan kontras dari gedung pencakar langit mewah dari 'Busan baru' dan keramaian pasar di 'kota tua Busan'.

Pemandangan Gamcheon cantik dan artistik. Sulit dibayangkan, daerah itu dulunya kampung kumuh.

Akar Relijius

Seperti halnya penampakannya kini, Gamcheon punya asal usul yang luar biasa.

Sejumlah catatan menyebut, Gamcheon dulunya adalah daerah kumuh di tahun 1950-an, disesaki pengungsi Perang Korea. Namun, wilayah itu juga asal muasalnya dihuni komunitas relijius yang disebut Taegeukdo, yang lahir selama pergolakan politik di Korea pada tahun 1900-an.

Meski sudah amat jarang ditemui, pengikut kepercayaan Taegeukdo meyakini, makna kesejatian alam semesta bisa ditemukan melalui filosofi 'polaritas agung' -- yang menggabungkan konsep Yin dan Yang.

Simbol lingkaran berwarna biru dan merah Taegeuk punya makna penting dalam sejarah Korea -- menjadi simbol yang ada di tengah Bendera Korsel saat ini.

Pada tahun 1955, selama masa membangun pasca-Perang Korea, kota Busan memerintahkan sekitar 800
keluarga anggota komunitas keagamaan pindah dari tempat semula ke dekat bukit.

Kantor pusat komunitas ini juga pindah. Sampai saat ini masih jadi tengara (landmark) utama di Gamcheon.

Menjadi Artistik

Tak seperti area lain yang acak, tata letak Gamcheon yang bertingkat-tingkat secara cermat direncanakan oleh komunitas Taegeukdo.

"Dengan membangun rumah-rumah secara bertingkat-tingkat, tak ada rumah yang menghalangi rumah di belakangnya. Tata letak arsitektur di Gamcheong sejalan dengan ajaran Taegeukdo, yakni tak menghalangi kesejahteraan orang lain," kata Kim Kye-young, perwakilan Taegeukdo, seperti dimuat CNN, 29 Juli 2013.

Sementara, tema  perombakan dengan tema seni di Gamcheon dimulai pada 2009, ketika wilayah itu mengundang proyek seni publik dan mahasiswa seni, juga seniman untuk 'mendekorasi' kampung.

Sementara penduduk setempat memilih cat warna pastel untuk dinding rumahnya, para seniman menambahkan sentuhan yang lebih berwarna. Meski titik terbaik untuk menikmati pemandangan Gamcheong  adalah 'Sky Garden' -- di mana pusat informasi berada, daya tarik utama justru tersesat di antara labirin lorong-lorong desa.

Masing-masing gang punya kejutan, dari patung burung di atap sampai instalasi mirip karya Murakami di atap rumah kosong yang tak berpenghuni.

Juga ada patung 'The Little Prince' dari novel Prancis dengan judul serupa, duduk di atas pagar, memandang sedih ke arah Pelabuhan Busan.

Rumah-rumah Kosong

Meski bagai labirin, kemungkinan tersesat di Gamcheon kecil. Sebab, masing-masing gang bercabang pada 3 atau 4 gang lainnya.

Selalu ada petunjuk yang memandu para wisatawan. Ada banyak simbol bertebaran. "Para fotografrer berdatangan ke sini dan jatuh cinta dengan kampung ini," kata In Sik Kim, pemandu lokal.

"Namun, penduduk keberatan dengan keberadaan para turis yang berdatangan. Banyak yang pindah. Rumah tak mereka jual, dibiarkan begitu saja," tambah dia.

Diperkirakan lebih dari 300 rumah dibiarkan kosong. Diubah jadi ruang pamer, kafe, atau restoran. Keuntungan dibagi untuk penduduk lokal. Ada yang berniat membuat kampung serupa di Indonesia? (Ein/Mut)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS