Yuk Nonton Film Gratis di Festival Sinema Australia Indonesia 2026

Tiket untuk semua pemutaran film dan acara di Festival Sinema Australia Indonesia 2026 tersedia secara gratis, namun terbatas. Simak infonya berikut ini!

Diterbitkan 08 Mei 2026, 00:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kembali hadir pada 2026 dengan membawa deretan film kontemporer terbaik dari Australia dan Indonesia ke 11 kota di Tanah Air. Pembukaan festival berlangsung di CGV Pacific Place, Jakarta, Kamis (7/5/2026), dan akan berlangsung pada 8-23 Mei.

"FSAI membawa cerita Australia dan Indonesia secara langsung kepada penonton Indonesia, sehingga memperkuat pemahaman budaya melalui film dan merayakan kemitraan industri kreatif kita yang terus berkembang," ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier dalam pembukaan FSAI 2026.

Minister Counsellor Australian Embassy Jakarta Jonathan Gilbert menjelaskan bahwa penyelenggaraan FSAI telah menginjak tahun ke-11.

"Sejak awal, FSAI selalu bertujuan untuk berbagi cerita sekaligus memperkuat hubungan kreatif antara Indonesia-Australia, dan semangat tersebut kini terasa semakin kuat dari sebelumnya. Festival ini pertama kali diluncurkan di Jakarta pada 2016 sebagai sebuah festival kecil," terang Gilbert.

FSAI 2026 dibuka dengan penayangan "Kangaroo", film drama-komedi berlatar pedalaman Australia yang menghadirkan kehangatan dalam kisah tentang komunitas dan hubungan antarmanusia. "Kangaroo" yang disutradarai oleh Kate Woods, terinspirasi dari kisah nyata Chris "Brolga" Barns, pendiri The Kangaroo Sanctuary.

Tahun ini menandai pertama kalinya FSAI menyelenggarakan "Screen on the Green", sebuah pengalaman menonton film di ruang terbuka di Kebun Raya Bogor, memberikan pengalaman baru kepada penonton untuk menikmati film dengan suasana taman yang indah.

FSAI 2026 akan digelar di Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Bogor, Yogyakarta, Kupang, dan Mataram. Ada lima film Australia, dua karya alumni Australia di Indonesia, dan empat film pendek Indonesia dari para penerima Australian Alumni Awards yang disuguhkan pada FSAI tahun ini.   

Tidak hanya memutar film, FSAI juga menjadi ruang belajar bagi para pegiat industri kreatif melalui serangkaian masterclass tentang sinematografi dan produksi film dokumenter. Program ini akan dipandu sejumlah pakar film Australia, di antaranya Andrew Commis, sinematografer film The Force of Nature: The Dry 2 yang turut diputar dalam festival, serta Associate Professor Michelle Johnston dari Curtin University.   

Info selengkapnya dapat diakses di situs fsai.id.

Momentum Dorong Film Indonesia Tembus Pasar Global

FSAI tidak sekadar menjadi ajang pemutaran film lintas negara, tetapi juga ruang kolaborasi strategis untuk memperkuat industri kreatif Indonesia di pasar global. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar.

Menurut Irene, industri film tidak hanya berbicara soal pengalaman menonton di bioskop, tetapi turut pula menciptakan ekosistem ekonomi yang dapat berkembang menjadi intellectual property (IP), merchandising, hingga licensing business berskala global. Ia mencontohkan bagaimana franchise besar seperti Marvel dan Spider-Man mampu berkembang jauh melampaui penjualan tiket bioskop.

"Pada saat kita membeli sebuah tiket untuk nonton 2 jam, film apapun juga, keluar-keluar kita pengen belanja kan? Itu equivalent for us to watch 2 hours of advertisement and then want something more," tutur Irene.

Ia menilai film memiliki kekuatan untuk membangun koneksi emosional sekaligus memperluas wawasan penonton. Karena itu, film dapat menjadi medium edukasi dan diplomasi budaya antarnegara.

"Satu film bukan hanya menggugah dari sisi emosional kita, tapi juga bisa memperkaya diri kita sendiri dari segi wawasan," ungkap Irene.

Dalam konteks FSAI, Irene melihat peluang besar kerja sama Indonesia dan Australia melalui industri perfilman. Menurutnya, festival semacam ini dapat membuka ruang lahirnya cerita lintas budaya yang relevan bagi masyarakat kedua negara.

"Bayang ga sih kalau satu film bisa mengunculkan, misalnya deh, dua insan, orang Indonesia sama Australia jatuh cinta, itu bagaimana sih? Itu mungkin bisa menjadi satu ide film yang disukai oleh dua orang," ujar Irene.

Irene menyinggung keberhasilan film animasi Indonesia seperti Jumbo yang mulai dikenal di mancanegara sebagai contoh bahwa karya lokal memiliki peluang besar untuk bersaing secara global. Karena itu, Irene mendorong para pelaku industri perfilman Indonesia untuk mulai berpikir melampaui pasar domestik.

"Indonesia memang market yang sangat besar. Setengah dari Asia Tenggara ada di Indonesia dengan 280 juta orang populasi. Namun, populasi dunia ada 8 miliar orang. Jadi, itu adalah market yang sangat besar," imbuhnya.

"Untuk itu, dari Kementerian Ekonomi Kreatif, kita sangat happy banget untuk kolaborasi seperti ini supaya dua negara bisa join forces untuk melihat ke market yang lebih besar ini."