Paus Leo XIV Tegaskan Tidak Takut kepada Pemerintahan Trump, Rujuk Injil soal Perang Iran

Meski kritiknya terhadap perang menuai respons keras Trump, Paus Leo XIV menyatakan tidak akan berhenti menyuarakannya.

Diterbitkan 13 April 2026, 20:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kota Vatikan - Paus Leo XIV pada Senin (13/4/2026) menanggapi pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perang Iran. Ia menegaskan bahwa seruan Vatikan untuk perdamaian dan rekonsiliasi berakar pada ajaran Injil, bukan politik.

Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepausan dalam perjalanan menuju Aljazair, Paus Leo XIV mengatakan kepada The Associated Press, "Untuk menyamakan pesan saya dengan apa yang telah dilakukan presiden di sini, menurut saya itu menunjukkan tidak memahami apa sebenarnya pesan Injil. Saya menyayangkan hal itu, tetapi saya akan tetap menjalankan apa yang saya yakini sebagai misi gereja di dunia saat ini."

Tercatat sejarah sebagai paus pertama yang lahir di AS, Leo menekankan bahwa ia tidak secara langsung menyerang Trump atau pihak lain melalui seruan damainya.

"Saya tidak akan masuk ke dalam perdebatan. Apa yang saya katakan tentu tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap siapa pun. Pesan Injil sangat jelas: 'Berbahagialah para pembawa damai'," kata Paus Leo XIV. "Saya tidak akan mundur dari menyampaikan pesan Injil dan mengajak semua orang untuk mencari cara membangun jembatan perdamaian dan rekonsiliasi, serta mencari cara untuk menghindari perang kapan pun itu memungkinkan."

Berbicara kepada wartawan lainnya, ia menambahkan, "Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump atau untuk berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menjadi tujuan gereja."

"Kami bukan politikus. Kami tidak melihat kebijakan luar negeri dari perspektif yang sama seperti yang mungkin ia miliki," kata Paus Leo XIV, seraya menambahkan, "Saya akan terus berbicara keras menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan multilateralisme antarnegara untuk menemukan solusi atas berbagai masalah."

"Terlalu banyak orang yang menderita hari ini, terlalu banyak orang tidak bersalah yang telah dibunuh, dan saya percaya seseorang harus bersuara dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik."

Trump: Paus Leo XIV Lemah

Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV pada Minggu (12/4). Ia menilai pemimpin global Gereja Katolik itu tidak melakukan pekerjaan dengan sangat baik, menyebutnya sebagai orang yang sangat liberal, serta menyarankan agar ia berhenti melayani kelompok sayap kiri radikal.

Dalam perjalanan kembali ke Washington dari Florida, Trump mengunggah pernyataan panjang di media sosial yang mengkritik sri paus, lalu melanjutkannya setelah turun dari pesawat dalam komentar kepada wartawan.

"Saya bukan penggemar Paus Leo," tuturnya.

Komentar Trump muncul setelah Paus Leo XIV pada akhir pekan menyatakan bahwa "delusi kemahakuasaan" mendorong terjadinya perang Iran. Meskipun bukan hal yang tidak biasa bagi paus dan presiden AS untuk berada dalam posisi yang berseberangan, sangat jarang seorang paus secara langsung mengkritik pemimpin AS dan respons keras Trump juga sama tidak lazimnya, bahkan bisa dikatakan lebih jarang lagi.

"Paus Leo LEMAH terhadap kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri," tulis Trump dalam unggahannya. "Saya tidak menginginkan seorang paus yang berpikir tidak masalah bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir."

Trump mengulang kritiknya kepada wartawan dengan menuturkan, "Kami tidak menyukai seorang paus yang mengatakan tidak masalah memiliki senjata nuklir."

 

Trump: Jika Saya Tidak Jadi Presiden, Leo Tidak Jadi Paus

Kemarahan Trump terjadi setelah Paus Leo XIV memimpin misa Sabtu di Basilika Santo Petrus, hari yang sama ketika AS dan Iran memulai perundingan langsung di Pakistan dalam situasi gencatan senjata yang rapuh.

Paus Leo XIV tidak menyebut AS atau Trump secara langsung dalam pernyataannya saat misa, tetapi nada dan pesannya dalam momen itu dinilai diarahkan kepada pejabat AS yang membanggakan kekuatan militer dan membenarkan perang dengan alasan religius.

Sebelumnya, Paus Leo XIV pernah menyatakan bahwa Tuhan "tidak mendengarkan doa dari mereka yang berperang, tetapi menolaknya." Ia merujuk pada Kitab Yesaya dalam Perjanjian Lama dengan mengatakan bahwa "meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan — tanganmu penuh dengan darah."

Trump sempat memperingatkan kemungkinan serangan besar terhadap infrastruktur Iran sebelum gencatan senjata diumumkan dan mengatakan bahwa "seluruh peradaban Iran akan mati malam ini". Paus Leo XIV menyebut pernyataan itu "sama sekali tidak dapat diterima."

Dan dalam unggahannya pada Minggu malam, Trump memperluas kritiknya tidak hanya soal Iran. Dia menulis, "Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap bahwa AS menyerang Venezuela adalah hal yang keliru, padahal negara itu mengirimkan sejumlah besar narkoba ke AS," tulisnya, merujuk pada fakta bahwa pemerintahan Trump telah menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari.

"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden AS, karena saya melakukan persis apa yang menjadi mandat saya—DALAM KEMENANGAN TELAK," tambah Trump, merujuk pada kemenangannya dalam Pilpres AS 2024.

Trump bahkan menyatakan, "Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan. Leo harus memperbaiki kinerjanya sebagai paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani sayap kiri radikal, dan fokus menjadi paus yang hebat, bukan politikus. Ini sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik!"

Dalam komentar lanjutan kepada wartawan, Trump kembali menyatakan, "Saya tidak berpikir dia melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Saya kira dia menyukai kejahatan," serta menambahkan, "Dia adalah orang yang sangat liberal."

Uskup Agung Paul S. Coakley, presiden Konferensi Waligereja Katolik AS, menyatakan dirinya "kecewa" atas komentar Trump.

"Paus Leo bukanlah rivalnya; Paus juga bukan seorang politikus. Ia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan demi pemeliharaan jiwa-jiwa," tegas Coakley.

Konferensi Waligereja Italia turut menyatakan penyesalan atas pernyataan Trump dan menegaskan bahwa paus "bukanlah mitra politik, melainkan penerus Petrus yang dipanggil untuk melayani Injil, kebenaran, dan perdamaian."

Dalam Pilpres AS 2024, menurut survei AP VoteCast, Trump memperoleh 55 persen suara dari pemilih Katolik.