Pejabat AS dan Iran Temui PM Pakistan Secara Terpisah Jelang Perundingan, Bahas Apa?

Pakistan tidak hanya bertindak sebagai mediator konflik AS-Iran, namun juga tuan rumah negosiasi.

Diterbitkan 11 April 2026, 19:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Islamabad - Delegasi Iran, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf dan didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif menjelang perundingan yang akan berlangsung dengan Amerika Serikat (AS).

Rincian pembicaraan tersebut masih belum diumumkan.

Seorang sumber diplomatik di Islamabad mengatakan kepada koresponden Al Jazeera Arabic bahwa Pakistan sedang melakukan upaya besar di tingkat tertinggi untuk memastikan bahwa Amerika Serikat dan Iran mengadakan perundingan langsung – dengan partisipasi Pakistan.

Tidak lama setelah bertemu delegasi Iran, PM Sharif juga menggelar pertemuan dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance, yang didampingi oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang juga merupakan menantu Donald Trump.

Rincian pembicaraan kedua pihak juga belum diungkapkan.

Mengutip kantor berita Iran, Tasnim, perundingan akan digelar di Serena Hotel Islamabad tanpa merinci lebih lanjut apakah pembicaraan akan digelar secara langsung atau melalui perantara. Serena Hotel Islamabad adalah hotel bintang lima yang terletak di jantung kawasan "Red Zone" (Zona Merah), area dengan keamanan paling ketat di Pakistan karena menjadi pusat pemerintahan dan diplomatic.

Pesan Iran: Fokus pada America First

Sementara itu, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref melalui platform media sosial X mengatakan bahwa hasil dari negosiasi berisiko tinggi di Islamabad sepenuhnya bergantung pada prioritas AS.

Aref menulis di X bahwa kesepakatan yang saling menguntungkan kemungkinan besar dapat tercapai jika perwakilan AS berfokus pada kepentingan "America First".

Ia juga memperingatkan agar tidak beralih ke agenda "Israel First". Menurut Aref, hal tersebut akan berujung pada "tidak ada kesepakatan" dan Iran "pasti akan melanjutkan pertahanannya dengan lebih kuat dari sebelumnya".

Dalam skenario itu, ia memperingatkan, dunia akan menanggung "biaya yang lebih besar".