Semut Kenya Jadi Komoditas Mahal di Pasar Gelap Global, Harga Tembus Jutaan Rupiah per Ekor

Semut mahal kini menjadi target perdagangan ilegal dengan harga mencapai ratusan dolar per ekor.

Diterbitkan 29 Maret 2026, 21:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Nairobi - Perdagangan satwa liar ilegal kini menunjukkan tren baru dengan munculnya semut sebagai komoditas bernilai tinggi di pasar internasional. Seekor ratu semut bahkan dapat dijual hingga sekitar USD 220 atau lebih dari Rp3 juta, menarik minat kolektor hewan eksotis di berbagai negara.

Fenomena ini menandai pergeseran dari perdagangan hewan berukuran besar ke spesies kecil seperti serangga. Para ahli memperingatkan, tren tersebut berpotensi mengancam ekosistem mengingat peran penting semut dalam menjaga keseimbangan lingkungan, mulai dari penyuburan tanah hingga penyebaran benih.

Laporan BBC pada Minggu (29/3/2026) menyebutkan bahwa kawasan Gilgil, sebuah kota pertanian di Lembah Rift, Kenya, kini menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan ilegal tersebut. Aktivitas ini meningkat terutama selama musim hujan, ketika semut memasuki fase reproduksi.

Pada periode ini, semut jantan bersayap keluar dari sarang untuk membuahi ratu yang juga terbang. Momen tersebut dimanfaatkan para pemburu untuk menangkap ratu semut yang telah dibuahi, karena memiliki nilai jual tinggi di pasar gelap global.

Salah satu spesies yang paling diminati adalah semut pemanen Afrika raksasa (Messor cephalotes). Ratu dari spesies ini dikenal berukuran besar, berwarna merah, dan mampu membentuk koloni baru serta hidup selama beberapa dekade, sehingga menjadi incaran utama kolektor.

 

Perdagangan Daring

Perdagangan biasanya dilakukan secara daring, dengan pengiriman yang relatif mudah karena ukuran kecil serangga membuatnya sulit terdeteksi oleh pemindai. Para perantara lokal berperan penting dalam rantai pasok, menghubungkan pembeli asing dengan pengumpul di lapangan.

“Awalnya, saya bahkan tidak tahu itu ilegal,” ujar seorang mantan perantara yang enggan disebutkan namanya kepada BBC. Ia mengaku pernah membantu mempertemukan pembeli dari luar negeri dengan jaringan pengumpul lokal.

Menurutnya, para pemburu biasanya mencari sarang di area terbuka pada pagi hari sebelum suhu meningkat. Semut yang ditemukan kemudian dikemas dalam tabung kecil atau alat suntik khusus sebelum diserahkan kepada pembeli.

Skala perdagangan ini mulai terungkap pada tahun lalu ketika sekitar 5.000 ratu semut pemanen raksasa ditemukan hidup di sebuah wisma di Naivasha, kota wisata di tepi danau di Kenya. Temuan tersebut menunjukkan besarnya permintaan global terhadap serangga eksotis.

Para pakar menilai, tanpa pengawasan yang ketat, tren ini dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi sumber utama spesies tersebut.