Presiden Mesir Dikudeta, MPR: Itu Bukti Pemilu Bukan Segalanya

Presiden Morsi melupakan elemen-elemen masyarakat lain yang mungkin tidak memilihnya

Diterbitkan 04 Juli 2013, 14:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Kudeta yang dilakukan militer terhadap Presiden Mohamed Morsi dilakukan pada 3 Juli kemarin. Hal ini diyakini Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari, terjadi karena Presiden Mesir tersebut hanya mengandalkan pemilu sebagai legitimasi politik penuh terhadap dirinya.

"Krisis Mesir mengajarkan kepada kita bahwa pemilu itu bukan segalanya. Demokrasi bukan pemilu semata. Presiden Morsi terlalu mengandalkan hasil pemilu, bahwa dia dipilih melalui pemilu yang sah dan demokratis. Dan karena itu dia merasa mempunyai mandat penuh dari rakyat dan sekaligus memberikan legitimasi politik penuh pada dirinya. Jadi para pemenang pemilu, berhati-hatilah," jelasnya di lingkungan Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/7/2013).

Thohari menambahkan, Presiden Morsi melupakan elemen-elemen masyarakat lain yang mungkin tidak memilihnya. Ia menambahkan, kaum inilah yang bersatu sebagai opisisi yang menolak pemerintahan.

"Dia lupa bahwa ada bagian dari rakyatnya yang tidak memilihnya meski lebih sedikit dari pada yang memilihnya. Mereka inilah yang bergabung ke dalam barisan oposisi untuk menolak Pemerintahan Mesir di bawah Presiden Morsi," kata Thohari.

Lebih dari itu, ia ini menambahkan, demokrasi bukan hanya sekedar pemilu. Bahkan lebih rumit dari itu. "Jangan mentang-mentang menang pemilu. Pemilu bukan segala-galanya. Demokrasi bukan hanya persoalan pemilu. Demokrasi jauh lebih kompleks dan rumit dari pada sekedar pemilu," jelas  Thohari. (Sul/Mut)