Perang Iran: 140 Tentara AS Terluka, 8 di Antaranya Parah

Sebelumnya dikonfirmasi tujuh tentara AS di Kuwait dan Arab Saudi tewas dalam perang Iran.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 08:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Sekitar 140 tentara Amerika Serikat (AS) terluka dalam perang Iran. Informasi tersebut disampaikan juru bicara utama Pentagon Sean Parnell pada Selasa (10/3/2026).

"Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 140 anggota militer AS telah terluka selama 10 hari serangan yang terus berlangsung," kata Parnell seperti dikutip dari TRT.

Epic Fury adalah nama sandi operasi militer besar-besaran yang diluncurkan oleh AS bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Parnell menambahkan bahwa delapan prajurit yang mengalami luka serius saat ini sedang menerima perawatan medis terbaik. 

Hingga kini, belum dapat dipastikan jenis luka yang dialami para prajurit tersebut maupun apakah cedera tersebut termasuk cedera otak traumatis, yang sering terjadi akibat paparan ledakan.

Sejak dimulainya operasi militer, Iran meluncurkan serangan balasan agresif terhadap setidaknya 27 pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, yang dalam prosesnya disebut turut menghantam misi diplomatik, bandara, hotel, serta infrastruktur minyak vital.

Data korban luka yang diumumkan Pentagon ini menjadi gambaran awal mengenai dampak yang lebih luas terhadap pasukan AS setelah serangkaian serangan balasan Iran menggunakan roket dan drone.

 

 

Peringatan Trump soal Ranjau di Selat Hormuz

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS) Jenderal Dan Caine mengatakan Iran bukan lawan yang lebih kuat dari perkiraan saat militer AS menyusun rencana perang.

"Saya pikir mereka memang bertempur dan saya menghormati itu, tetapi saya tidak berpikir mereka lebih tangguh dari yang kami perkirakan," kata Caine dalam pengarahan di Pentagon kepada wartawan pada Selasa.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa hari Selasa akan menjadi hari dengan intensitas serangan paling tinggi dari pihak AS di dalam wilayah Iran.

Di pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menolak gencatan senjata. Pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani juga menulis di platform X bahwa "Iran tidak takut pada ancaman kosong Anda (Trump)."

Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa jika Iran telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz, maka ranjau tersebut harus segera disingkirkan. Ia memperingatkan bahwa jika ranjau itu tidak segera dibersihkan, Iran akan menghadapi konsekuensi militer pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.