Drone Iran Jauh Lebih Murah Dibanding Senjata AS untuk Menjatuhkannya

Meski murah, drone Iran disebut efektif. Berapa kira-kira biaya produksi drone dan upaya melumpuhkannya?

Diterbitkan 05 Maret 2026, 09:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) saat ini mendominasi ruang udara di atas Iran. Namun, dalam konflik yang melibatkan serangan drone murah, perhitungan biaya justru tidak selalu berpihak kepada Washington. Iran memanfaatkan drone berbiaya rendah untuk melakukan serangan presisi di kawasan Timur Tengah, sementara AS dan sekutunya harus menggunakan sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal untuk menanggulanginya.

Sistem pertahanan udara milik AS dan sekutunya sebenarnya mampu mencegat sebagian besar rudal balistik dan drone Iran. Akan tetapi, teknologi pencegat tersebut sangat canggih sekaligus mahal.

Arthur Erickson, kepala eksekutif sekaligus salah satu pendiri perusahaan pembuat drone Hylio yang berbasis di Texas, menjelaskan bahwa biaya untuk menembak jatuh sebuah drone jauh lebih besar dibandingkan biaya untuk menerbangkannya.

"Menjatuhkan sebuah drone jelas lebih mahal daripada menerbangkan drone itu sendiri," kata Erickson seperti dikutip dari NY Times. "Ini pada dasarnya permainan biaya. Rasio biaya per tembakan untuk pencegatan setidaknya 10 banding 1, tetapi bisa juga mencapai 60 atau 70 banding 1, yang berarti jauh lebih menguntungkan bagi Iran."

Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone sekali pakai sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Meskipun wilayah di Timur Tengah dilindungi oleh sistem pertahanan udara bernilai miliaran dolar, sejumlah drone tetap berhasil mencapai targetnya.

Situasi ini menimbulkan persoalan besar, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga secara global. Di era ketika drone serangan dapat diproduksi dengan biaya murah, sementara sistem pertahanan untuk menghentikannya sangat mahal, beban biaya tersebut berpotensi menjadi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Mengapa Drone Iran Begitu Efektif?

Drone Shahed buatan Iran merupakan munisi berkeliaran berbentuk segitiga dengan panjang sekitar 11 kaki. Drone ini mengeluarkan suara keras menyerupai mesin pemotong rumput saat terbang dan membawa bahan peledak di bagian hidungnya yang akan meledak ketika menghantam sasaran.

Ukurannya yang relatif kecil memungkinkan drone tersebut diluncurkan dari bagian belakang sebuah truk. Hal ini membuatnya mudah disembunyikan dan sulit dilacak oleh musuh.

Varian jarak jauh dari drone Shahed, yang dikenal sebagai Shahed-136, memiliki jangkauan sekitar 1.931 kilometer. Jarak tersebut membuatnya mampu mencapai berbagai target di seluruh kawasan Timur Tengah. Informasi ini disampaikan oleh Stacie Pettyjohn, peneliti senior sekaligus direktur program pertahanan di lembaga pemikir Center for a New American Security di Washington.

Biaya Produksi Drone Iran

Drone Shahed dibuat menggunakan komponen elektronik komersial yang tersedia di pasaran. Menurut Pettyjohn, biaya produksi setiap unit drone ini diperkirakan berkisar antara USD 20.000 hingga 50.000 atau sekitar Rp337 juta-Rp844 juta, tergantung pada modelnya.

Rusia bahkan telah memproduksi secara massal versi drone Shahed untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina. Iran sendiri diyakini telah memproduksi ribuan unit drone tersebut.

Berapa Biaya untuk Menetralisir Drone Iran?

Salah satu sistem pertahanan rudal paling canggih adalah sistem pertahanan udara Patriot. Sistem ini menggunakan rudal pencegat yang harganya dapat melebihi USD 3 juta atau sekitar Rp50,65 miliar untuk setiap tembakan dan jumlahnya juga terbatas.

Sebagai gambaran, perusahaan Lockheed Martin pada tahun 2025 hanya berhasil mengirimkan 620 unit rudal pencegat PAC-3, yang merupakan jumlah produksi tertinggi yang pernah dicapai perusahaan tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (4/3), mengakui bahwa pemerintah telah mengerahkan berbagai sistem penanggulangan drone tanpa mempertimbangkan biaya.

"Kami telah mengerahkan semua sistem kontra-drone ke garis depan tanpa menghemat biaya," kata Hegseth, mengakui beratnya perhitungan biaya dalam upaya pencegatan yang berhasil.

Apakah Ada Cara Lebih Murah untuk Menghadapi Serangan Drone?

Militer AS juga menggunakan beberapa teknologi penanggulangan drone yang lebih murah. Salah satunya adalah sistem Coyote buatan Raytheon, yang meluncurkan drone khusus untuk memburu dan menghancurkan drone lain.

Menurut laporan Center for a New American Security, biaya setiap pencegat Coyote diperkirakan mencapai sekitar USD 126.500 atau sekitar Rp2,1 miliar. Meski jauh lebih murah dibandingkan rudal PAC-3, harganya tetap beberapa kali lebih mahal daripada drone Shahed.

Riki Ellison, ketua sekaligus pendiri organisasi Missile Defense Advocacy Alliance, mengatakan bahwa militer AS berusaha menggunakan metode pencegatan dengan biaya serendah mungkin sesuai kebutuhan operasional.

"Mereka mencoba menggunakan 'peluru' termurah yang dapat menyelesaikan tugas yang diperlukan,” kata Ellison.

Selain itu, terdapat berbagai sistem lain yang dapat mengganggu atau melumpuhkan drone. Beberapa di antaranya bekerja dengan mengacaukan frekuensi radio yang digunakan untuk navigasi drone, sementara sistem lain menggunakan gelombang mikro atau laser untuk merusak perangkat drone atau mengalihkan jalurnya.

Sistem-sistem tersebut umumnya lebih murah dibandingkan rudal pencegat, tetapi tingkat keberhasilannya masih beragam. Beberapa di antaranya juga berpotensi mengganggu kehidupan sipil.

Pengalaman Ukraina Menghadapi Serangan Drone

Di Ukraina, strategi untuk menghadapi drone harus terus diperbarui agar dapat mengikuti perubahan taktik serangan yang dilakukan oleh Rusia.

Pasukan Ukraina bahkan menggunakan metode sederhana seperti jaring ikan dan senapan untuk menjatuhkan drone yang terbang rendah. Namun, pendekatan berteknologi rendah seperti itu sulit diterapkan secara luas dengan tingkat keandalan yang konsisten.

Apakah AS Memiliki Drone Serupa?

Selama bertahun-tahun, militer Amerika Serikat berinvestasi besar pada sistem drone besar dan canggih seperti drone Predator. Namun, negara tersebut mengalami kesulitan dalam memproduksi drone murah yang dapat digunakan sekali pakai seperti yang banyak digunakan dalam perang di Ukraina.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kementerian Pertahanan AS berupaya meningkatkan produksi drone murah dengan meluncurkan program kontrak senilai USD 1,1 miliar untuk dua tahun ke depan yang akan dilaksanakan dalam empat tahap.

Sebanyak 25 perusahaan, termasuk beberapa perusahaan Ukraina, bersaing untuk mendapatkan bagian dari pendanaan awal sebesar USD 150 juta. Perusahaan yang terpilih diwajibkan mampu mengirimkan drone dalam hitungan bulan, bukan tahun.

Para pemimpin AS juga mengumumkan bahwa mereka telah merekayasa ulang drone Shahed Iran yang berhasil ditangkap. Versi modifikasi dari drone tersebut kini digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Drone versi AS ini dinamakan LUCAS, singkatan dari Low-cost Unmanned Combat Attack System, dan diproduksi oleh perusahaan SpektreWorks yang berbasis di Arizona. Perusahaan tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar melalui email.

Berapa Lama Persediaan Rudal Pencegat AS Akan Bertahan?

Sejumlah analis berspekulasi bahwa AS dan sekutunya berpotensi mengalami kekurangan rudal pencegat untuk melindungi kawasan dari serangan rudal dan drone Iran.

Spekulasi ini juga dipicu oleh fakta bahwa AS dan sekutunya selama ini belum mampu menyediakan cukup rudal pencegat bagi Ukraina untuk menahan seluruh serangan Rusia.

Sebuah laporan yang dirilis pada Desember oleh Center for Strategic and International Studies menganalisis data publik mengenai pengadaan militer. Laporan tersebut menunjukkan bahwa AS dalam beberapa tahun terakhir hanya membeli rudal pencegat dalam jumlah relatif kecil, yakni ratusan unit, bukan ribuan.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan dalam konflik berskala besar dengan jumlah persediaan yang tersedia. Meskipun Kementerian Pertahanan AS telah menandatangani kontrak baru untuk meningkatkan produksi, pabrik-pabrik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pada Rabu (4/3), Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengakui adanya kekhawatiran mengenai jumlah persediaan senjata tersebut, tetapi ia menegaskan bahwa militer AS masih memiliki cukup amunisi presisi.

"Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk menjalankan tugas yang ada — baik untuk operasi ofensif maupun defensif," tutur Caine.

Namun ia juga menegaskan bahwa, sebagai prinsip operasional, pihak militer tidak ingin membicarakan jumlah persediaan secara terbuka.

"Saya ingin menyampaikan kepada rekan-rekan semua bahwa sebagai praktik umum, saya tidak ingin membahas jumlahnya," imbuhnya.