Drone Ukraina Hantam Pabrik Pupuk di Smolensk, 7 Tewas dan Belasan Luka

Tim penyelamat dikerahkan ke lokasi dan api berhasil dipadamkan beberapa jam setelah serangan drone.

Diterbitkan 26 Februari 2026, 11:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Serangan drone menghantam sebuah pabrik pupuk di wilayah Smolensk, Rusia barat, menewaskan tujuh orang dan melukai sedikitnya 10 lainnya. Otoritas Rusia menyebut serangan itu dilakukan oleh Ukraina dan menargetkan fasilitas sipil.

Komite Investigasi Rusia menyatakan sekitar 30 drone menyerang pabrik yang berlokasi di kota Dorogobuzh, sekitar 290 kilometer dari perbatasan Ukraina. Gubernur Smolensk, Vasily Anokhin, menyebut insiden tersebut sebagai “serangan teroris barbar oleh Angkatan Bersenjata Ukraina”.

“Musuh menyerang sebuah pabrik sipil,” tulis Anokhin di media sosial, dikutip dari BBC, Kamis (26/2/2026).

Fasilitas yang diserang memproduksi amonium nitrat dan asam nitrat—bahan utama pembuatan pupuk, namun juga dapat digunakan dalam produksi bahan peledak. Tim penyelamat dikerahkan ke lokasi dan api berhasil dipadamkan beberapa jam setelah serangan.

Pihak berwenang belum memastikan adanya risiko kebocoran bahan kimia beracun. Namun, pemerintah daerah mempertimbangkan evakuasi warga dari permukiman terdekat untuk meminimalkan potensi bahaya. Sekolah-sekolah di Dorogobuzh dialihkan ke pembelajaran jarak jauh, sementara kelas taman kanak-kanak dibatalkan.

Hingga kini, Kyiv belum memberikan komentar resmi terkait tudingan tersebut.

Serangan di Smolensk terjadi hanya beberapa hari setelah drone Ukraina menghantam stasiun pemompaan minyak Kaleykino di Republik Tatarstan, lebih dari 1.200 kilometer dari perbatasan Ukraina. Fasilitas itu memasok minyak ke jaringan pipa Druzhba yang menyalurkan minyak mentah Rusia melalui Ukraina ke Hongaria dan Slovakia.

 

Masuk Tahun Kelima

Menurut laporan Reuters, serangan tersebut memaksa operator pipa milik negara Rusia, Transneft, mengurangi aliran minyak mentah sekitar 250.000 barel per hari.

Konflik antara Rusia dan Ukraina, yang dipicu oleh invasi skala penuh Moskow pada Februari 2022, kini memasuki tahun kelima. Di tengah kebuntuan di garis depan, Ukraina meningkatkan serangan drone jarak jauh yang menargetkan infrastruktur energi dan industri Rusia.

Musim gugur lalu, Moskow bahkan memberlakukan larangan ekspor bensin hingga akhir 2025 setelah serangkaian serangan drone melumpuhkan sejumlah fasilitas energi di berbagai wilayah.

Di jalur diplomatik, negosiasi damai masih menemui jalan buntu, terutama terkait status wilayah Donbas yang diklaim Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Rabu mengatakan putaran baru perundingan trilateral yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung awal Maret. Ia juga telah menginstruksikan tim negosiatornya untuk mengupayakan pertukaran tahanan.

Dengan eskalasi serangan lintas perbatasan dan stagnasi diplomasi, konflik kian meluas ke infrastruktur strategis, memperbesar risiko dampak ekonomi dan kemanusiaan di kedua negara.