18 Februari 2003: 192 Tewas dalam Aksi Pembakaran Kereta di Korea Selatan oleh Penderita Gangguan Mental

Tragedi pada Februari ini memicu perombakan besar sistem keselamatan di jaringan metro Korea Selatan.

Diterbitkan 18 Februari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Penumpang yang bepergian menggunakan kereta bawah tanah di Korea Selatan mungkin pernah menjumpai kursi tanpa pelapis kain sehingga terasa lebih licin dari biasanya. Mereka yang jeli juga mungkin memperhatikan adanya tuas pembuka pintu manual, masker gas, dan senter di dalam kereta maupun di peron stasiun.

Berbagai fasilitas tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan yang diterapkan setelah Korea Selatan mengalami salah satu tragedi paling kelam dalam sejarahnya: serangan pembakaran di kereta bawah tanah Kota Daegu pada 18 Februari 2003.

Pada 19 Februari 2003, surat kabar The Korea Herald memuat tajuk utama berbunyi "Subway arson attack kills 130" atau "Serangan pembakaran kereta bawah tanah menewaskan 130 orang". Namun, angka korban jiwa awal itu ternyata jauh dari jumlah akhir. Total korban meninggal dunia mencapai 192 orang, menjadikannya kejahatan tunggal paling mematikan dalam sejarah Korea Selatan.

Tiga jenazah rusak parah sehingga tidak dapat diidentifikasi melalui tes DNA, sementara tiga lainnya tidak pernah diklaim oleh keluarga. Tragedi ini menjadi titik balik besar yang memicu perombakan menyeluruh sistem keselamatan di jaringan metro di seluruh negeri. Meski kebakaran dipicu oleh satu individu, lemahnya prosedur penanganan darurat saat itu turut menyebabkan tingginya jumlah korban.

Kronologi Kejadian

Mengutip laporan The Korea Herald, peristiwa terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat, ketika kereta metro nomor 1079 tiba di Stasiun Songhyeon, Daegu. Di antara penumpang yang naik terdapat pria berusia 56 tahun bernama Kim Dae-han.

Kim membawa dua liter bensin yang disimpan dalam botol sampo serta sebuah korek api. Ia sebelumnya didiagnosis mengalami gangguan mental tingkat dua pada 2001 akibat stroke yang membuatnya mengalami disabilitas dan kehilangan pekerjaan. Sepuluh hari sebelum kejadian, ia sempat mengancam akan membakar sebuah rumah sakit jiwa.

Sekitar 20 menit kemudian, setelah kereta 1079 tiba di Stasiun Jungangno, Kim menyalakan bensin tersebut dan melemparkannya ke lantai gerbong. Seorang saksi perempuan berusia 35 tahun bermarga Seok mengatakan para penumpang di sekitarnya berusaha menghentikannya, namun ia tetap menyalakan api dan kemudian melarikan diri.

Tiga menit setelah kebakaran terjadi, kereta metro nomor 1080 memasuki Stasiun Jungangno dari jalur berlawanan dan berhenti di peron. Masinis kereta tersebut menerima pesan, "Lanjutkan perjalanan dengan aman. Ada kebakaran di Stasiun Jungangno."

Sementara itu, pada saat yang sama, stasiun sudah dipenuhi asap tebal dan aliran listrik terputus. Baik masinis kereta 1080 maupun pusat kendali metro tidak memahami seberapa serius kondisi yang sedang terjadi. Para penumpang di dalam kereta 1080 juga tidak menyadari besarnya bahaya.

Beberapa menit kemudian, masinis berusaha berkomunikasi dengan pusat kendali untuk meminta instruksi. Ia juga mencoba mengaktifkan generator listrik cadangan setelah aliran listrik terputus, tetapi generator tersebut tidak berfungsi.

Setelah akhirnya menerima perintah untuk mengevakuasi penumpang, masinis kereta 1080 meninggalkan kereta sambil membawa kunci utama sesuai instruksi. Pencabutan kunci tersebut menghentikan hampir seluruh fungsi kereta, termasuk sistem pembukaan dan penutupan pintu.

Akibatnya, banyak penumpang masih berada di dalam gerbong ketika asap semakin tebal. Sejumlah penumpang sempat menghubungi keluarga mereka sebelum akhirnya meninggal dunia.

Dalam salah satu percakapan yang kemudian dilaporkan media lokal, seorang ibu berkata kepada putrinya yang berada di dalam kereta, "Ikuti penumpang lain untuk keluar dengan selamat."

Putrinya menjawab, "Tetapi pintunya tidak bisa dibuka, bu."

Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Lebih dari 100 orang tewas di dalam kereta nomor 1080 saja.

Proses Hukum

Kim didakwa atas berbagai tuduhan pembunuhan dan pembakaran. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pada tahun berikutnya, saat menjalani hukuman, ia kembali mengalami stroke dan meninggal dunia.

Sembilan pegawai Daegu Metropolitan Transit Corp. juga menghadapi konsekuensi hukum atas penanganan yang dinilai keliru. Masinis kereta nomor 1080, bermarga Choi, menerima hukuman paling berat karena lebih dari 70 persen korban tewas berasal dari keretanya. Ia dinilai lalai karena tidak segera mengevakuasi penumpang, memerintahkan mereka tetap berada di dalam kereta, serta tidak menyadari bahwa penumpang terkunci di dalam saat ia pergi membawa kunci utama. Meski bertindak sesuai instruksi, ia tetap dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas tuduhan pembunuhan tidak disengaja.

Petugas pusat kendali serta masinis kereta 1079 juga dijatuhi hukuman. Masinis kereta 1079 memang berusaha memadamkan api dan memastikan penumpangnya keluar dengan selamat, namun ia tidak melaporkan kebakaran tersebut ke pusat kendali.

Perombakan Sistem Keselamatan

Masinis kereta 1080 kemudian mengatakan kepada media lokal bahwa ia tidak menyangka kereta bawah tanah dapat terbakar secepat itu karena ia diajarkan bahwa material yang digunakan tidak mudah terbakar.

Faktanya, pada saat itu banyak gerbong kereta menggunakan bahan yang mudah terbakar, seperti busa poliuretan pada kursi, demi menekan biaya produksi. Pemerintah Metropolitan Daegu dalam buku putih yang diterbitkan pada 2005 menyebut penggunaan bahan mudah terbakar sebagai penyebab cepatnya penyebaran api dan gas beracun.

Pada 2009, seluruh gerbong yang menggunakan bahan mudah terbakar telah dihentikan operasinya. Kebijakan ini terbukti efektif ketika terjadi upaya pembakaran lain pada 2014 di Stasiun Dogok, Seoul, saat seorang pria berusia 71 tahun menyiramkan thinner cat di lantai kereta dan menyalakan api. Kebakaran saat itu berhasil dibatasi di area kecil.

Undang-Undang Keselamatan Perkeretaapian juga direvisi untuk melarang penumpang membawa "zat berbahaya" yang dapat memicu kebakaran, ketentuan yang sebelumnya tidak ada pada 2003.

Sejak 2005, fasilitas umum yang menampung 100 orang atau lebih diwajibkan memasang alat bantu pernapasan mandiri untuk keadaan darurat.

Otoritas transit Daegu memasang 13.000 detektor kebakaran di 91 stasiun, sementara Seoul Metro menempatkan rata-rata 220 masker gas di setiap stasiun.

Tragedi Daegu juga mengungkap bahwa sebagian besar penumpang tidak mengetahui cara membuka pintu kereta secara manual. Setelah kejadian, tuas pembuka pintu manual dibuat lebih besar, berwarna lebih mencolok, dan dilengkapi petunjuk yang jelas.

Dampak Jangka Panjang bagi Korban

Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak tragedi tersebut, namun dampaknya masih dirasakan para penyintas. Pada tahun 2022, Pemerintah Kota Daegu melakukan survei terhadap 56 orang yang mengalami luka dalam kebakaran tersebut.

Hasilnya menunjukkan 50 orang masih menderita gangguan stres pascatrauma, disertai depresi dan insomnia. Selain dampak psikologis, 33 responden menyatakan mengalami gangguan pernapasan permanen akibat menghirup asap saat kebakaran.

Tragedi kebakaran kereta bawah tanah Daegu tidak hanya menjadi catatan kelam dalam sejarah Korea Selatan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan, prosedur darurat yang jelas, dan sistem keselamatan yang memadai dalam transportasi publik.  Â