Dua Ledakan Diduga Akibat Kebocoran Gas Tewaskan Lima Orang di Iran

Selain korban tewas, ledakan di Iran juga menyebabkan sejumlah orang terluka.

Diterbitkan 01 Februari 2026, 09:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Sedikitnya lima orang tewas dalam dua ledakan terpisah di Iran yang diduga disebabkan kebocoran gas, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia dan 14 lainnya luka-luka akibat ledakan di sebuah gedung apartemen di Bandar Abbas, kota pelabuhan di selatan Iran yang menghadap Teluk Persia. Seorang pejabat setempat mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Mehr bahwa para korban telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan tersebut menghancurkan sebuah gedung delapan lantai di kawasan Boulevard Moallem. Dua lantai bangunan runtuh, sementara sejumlah kendaraan dan toko di sekitarnya ikut rusak, dikutip dari BBC, Minggu (1/2/2026).

Kepala pemadam kebakaran Bandar Abbas, Mohammad Amin Liaqat, menyebut hasil penilaian awal mengarah pada kebocoran dan penumpukan gas sebagai penyebab ledakan. Ia mengatakan penyelidikan lanjutan masih berlangsung dan keterangan resmi akan disampaikan dalam beberapa jam ke depan.

Kantor berita Tasnim membantah spekulasi yang beredar di media sosial bahwa ledakan tersebut menargetkan seorang komandan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam.

Ledakan lain terjadi di Ahvaz, kota di barat daya Iran dekat perbatasan Irak. Surat kabar pemerintah Tehran Times melaporkan empat orang tewas dalam insiden yang menghantam sebuah gedung perumahan di kawasan Kianshahr. Petugas darurat dilaporkan berhasil menyelamatkan seorang anak yang terjebak di bawah reruntuhan dan membawanya ke fasilitas medis.

Rentetan insiden ini terjadi di tengah situasi kawasan yang memanas, seiring peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk dan tekanan terhadap Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan Iran “sedang berbicara dengan kami”, tanpa merinci bentuk atau kemajuan pembicaraan tersebut.

“Mereka sedang bernegosiasi,” kata Trump kepada Fox News. Ia menambahkan Washington tidak dapat membagikan rencananya kepada sekutu-sekutu di Teluk. “Kita lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu. Jika tidak, kita lihat saja apa yang terjadi. Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana,” ujarnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa konflik tidak akan menguntungkan siapa pun. “Republik Islam Iran tidak pernah dan sama sekali tidak menginginkan perang,” katanya dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, sebagaimana dikutip AFP dari pernyataan kepresidenan Iran.

 

Ketegangan Nasional di Iran

Sementara itu, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, bertemu dengan Perdana Menteri Qatar di Teheran pada Sabtu untuk membahas upaya meredakan ketegangan regional, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Qatar. Larijani, yang juga dilaporkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin sehari sebelumnya, menulis di platform X bahwa “bertentangan dengan pemberitaan media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berlangsung.”

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran terbuka untuk dialog dengan Amerika Serikat selama dilandasi kepercayaan dan rasa saling menghormati. Namun, ia menegaskan sistem pertahanan rudal Iran “tidak akan pernah” menjadi bagian dari negosiasi.

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa waktu “hampir habis” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir—yang menurut Teheran sepenuhnya bersifat damai. Ia juga menuntut Iran menghentikan kekerasan terhadap demonstran, seraya mengancam tindakan militer.

Di sisi lain, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat mengklaim telah mengonfirmasi lebih dari 6.300 kematian sejak kerusuhan pecah pada akhir Desember, serta masih menyelidiki laporan sekitar 17.000 kematian lainnya. Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas angka tersebut.