Ribuan Warga Greenland Turun ke Jalan Menentang Ambisi Donald Trump

Greenland is not for sale adalah pesan utama dari aksi ini.

Diterbitkan 18 Januari 2026, 11:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Nuuk - Ribuan warga Greenland menggelar aksi unjuk rasa dengan berjalan kaki secara tertib melintasi hamparan salju dan es pada Sabtu (17/1/2026). Aksi tersebut dilakukan untuk memprotes sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kembali menyuarakan keinginannya agar AS menguasai Greenland.

Para peserta membawa poster protes, mengibarkan bendera nasional Greenland, serta meneriakkan yel-yel "Greenland is not for sale" alias "Greenland tidak untuk dijual" sebagai bentuk dukungan terhadap hak menentukan nasib sendiri.

Aksi dimulai dari pusat kota kecil di ibu kota Greenland, Nuuk, dan berakhir di depan Konsulat AS. Tepat setelah para demonstran menyelesaikan long march, kabar baru muncul. Dari kediamannya di Florida, Trump mengumumkan rencana penerapan tarif impor sebesar 10 persen mulai Februari terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa yang menentang upaya AS untuk menguasai Greenland.

"Saya pikir hari ini tidak mungkin menjadi lebih buruk, ternyata bisa," kata Malik Dollerup-Scheibel kepada Associated Press setelah diberi tahu mengenai pengumuman tersebut.

Pria berusia 21 tahun itu menilai kebijakan Trump menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap nilai kemanusiaan.

"Ini menunjukkan dia sama sekali tidak memiliki empati terhadap siapa pun," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

Libatkan Anak-anak

Trump selama bertahun-tahun secara terbuka menyatakan pandangannya bahwa AS seharusnya memiliki pulau Greenland yang kaya sumber daya mineral dan memiliki posisi strategis secara geopolitik. Pernyataan tersebut kembali diperkeras sehari setelah operasi militer yang menggulingkan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini.

Dollerup-Scheibel dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen termasuk di antara peserta aksi yang disebut-sebut sebagai demonstrasi terbesar dalam sejarah Greenland. Aksi tersebut diikuti hampir seperempat dari total populasi Nuuk. Unjuk rasa serupa juga digelar di wilayah Kerajaan Denmark lainnya, termasuk di Kopenhagen, serta di Nunavut, wilayah yang diperintah oleh masyarakat Inuit di Kanada bagian utara.

"Ini penting bagi seluruh dunia," tutur Elise Riechie, seorang demonstran asal Denmark di Kopenhagen, sambil membawa bendera Denmark dan Greenland.

"Ada banyak negara kecil di dunia. Tidak satu pun dari mereka untuk dijual."

Di Nuuk, peserta dari berbagai kelompok usia berjalan menuju konsulat sambil mendengarkan lagu-lagu tradisional Greenland. Marie Pedersen, warga Greenland berusia 47 tahun, mengatakan ia sengaja membawa anak-anaknya agar mereka belajar bahwa menyuarakan pendapat adalah hak setiap warga.

"Kami ingin mempertahankan negara kami, budaya kami, serta menjaga keluarga kami tetap aman," tegasnya.

Putrinya yang berusia sembilan tahun, Alaska, bahkan membuat sendiri poster bertuliskan "Greenland is not for sale". Anak tersebut mengatakan bahwa para guru di sekolah telah membahas kontroversi ini, termasuk mengenalkan konsep NATO.

"Mereka mengajarkan bagaimana kami harus bersikap jika di-bully oleh negara lain," ujarnya.

Sementara itu, Tom Olsen, seorang petugas kepolisian di Nuuk, menyebut aksi hari Sabtu tersebut sebagai demonstrasi terbesar yang pernah ia saksikan di kota itu.

"Saya berharap ini bisa menunjukkan bahwa kami bersatu di Eropa," katanya. "Kami tidak akan menyerah tanpa perlawanan."

Pesan Warga Greenland ke Warga AS

Mantan anggota parlemen Greenland, Tillie Martinussen, menyatakan harapannya agar pemerintahan Trump menghentikan gagasan menguasai Greenland. AS yang mengklaim sebagai sahabat dan sekutu Greenland, kini menurutnya justru melontarkan ancaman terbuka. Ia menegaskan bahwa menjaga keberlangsungan NATO dan otonomi Greenland merupakan prioritas utama, meskipun ancaman tarif dapat menimbulkan dampak ekonomi. 

"Ini adalah perjuangan untuk kebebasan," ujarnya. "Ini tentang NATO dan semua nilai yang telah diperjuangkan Belahan Barat sejak Perang Dunia II."

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada Trump, Louise Lennert Olsen, seorang perawat Greenland berusia 40 tahun, justru memilih menyampaikan pesannya kepada rakyat AS.

"Saya ingin mereka mendukung keinginan kami agar Greenland tetap seperti sekarang," katanya sambil berjalan dalam aksi tersebut. "Saya berharap mereka berani menentang presidennya sendiri karena saya tidak bisa percaya jika mereka hanya diam dan tidak melakukan apa pun."