HRANA: Korban Tewas Demo Iran Tembus 2.000 Orang

Mayoritas korban disebut adalah demonstran.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 08:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Lembaga pemantau HAM, Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di Amerika Serikat (AS), melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat gelombang demonstrasi nasional di Iran telah melampaui 2.000 orang, dengan sedikitnya 2.003 orang meninggal dunia hingga Selasa (13/1/2026).

Mengutip laporan Associated Press, HRANA menyebutkan bahwa dari jumlah tersebut, 1.850 korban disebut sebagai demonstran dan 135 lainnya berafiliasi dengan pemerintah. Sembilan anak serta sembilan warga sipil yang diklaim tidak terlibat langsung dalam aksi protes turut menjadi korban, sementara lebih dari 16.700 orang dilaporkan ditahan.

HRANA menyatakan angka tersebut sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir dan melampaui jumlah korban dari setiap gelombang kerusuhan sebelumnya di Iran. Lonjakan ini juga disebut empat kali lebih besar dibandingkan total korban dalam protes Mahsa Amini tahun 2022 yang berlangsung selama berbulan-bulan, meskipun gelombang protes kali ini baru berjalan sekitar dua pekan.

Aktivis memperingatkan bahwa angka korban kemungkinan masih akan meningkat.

Pemerintah Iran untuk pertama kalinya secara resmi mengakui adanya korban tewas dalam gelombang demonstrasi melalui siaran televisi negara, setelah kelompok aktivis lebih dulu mengumumkan laporan jumlah korban. Dalam pernyataan tersebut, seorang pejabat mengatakan bahwa Iran memiliki "banyak martir" tanpa menyebutkan angka korban secara rinci.

Protes bermula lebih dari dua pekan lalu akibat kemarahan publik terhadap memburuknya kondisi ekonomi Iran, sebelum berkembang menjadi demonstrasi yang secara terbuka menargetkan sistem pemerintahan teokratis, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Gambar-gambar dari Teheran yang diperoleh Associated Press memperlihatkan grafiti dan teriakan yang menyerukan kematian Khamenei, sebuah tindakan yang berpotensi berujung pada hukuman mati.

 

Hasutan Trump

Setelah laporan lonjakan korban tewas dipublikasikan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuliskan pernyataan di platform Truth Social yang menyerukan demonstran Iran untuk terus melanjutkan demonstrasi. 

"Warga Iran yang Patriotik, TERUSLAH MELANCARKAN AKSI PROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!" tulis Trump.

Trump menyatakan pula telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan demonstran yang disebutnya tidak masuk akal dihentikan. Ia menambahkan, "BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."

Namun, beberapa jam kemudian Trump menyampaikan sikap yang lebih berhati-hati kepada para wartawan. Ia mengatakan pemerintahannya masih menunggu laporan yang akurat mengenai jumlah demonstran yang tewas sebelum mengambil tindakan lanjutan.

Trump juga menyinggung aparat keamanan Iran dengan mengatakan, "Tampaknya bagi saya mereka telah bertindak sangat buruk, tetapi hal itu belum dikonfirmasi."

Sementara itu, pejabat Iran kembali memperingatkan Trump agar tidak mengambil tindakan. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menulis, "Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1—Trump 2—Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu."

Di dalam negeri, warga yang baru dapat melakukan panggilan ke luar negeri setelah komunikasi diputus selama beberapa hari melaporkan kehadiran polisi antihuru-hara di persimpangan utama Teheran, anggota Basij bersenjata api, serta petugas keamanan berpakaian sipil di ruang publik. Beberapa bangunan pemerintah dan bank dilaporkan terbakar, sementara mesin ATM rusak dan perbankan kesulitan memproses transaksi akibat terputusnya internet. 

Meski toko-toko tetap buka, lalu lintas pejalan kaki di ibu kota sangat minim. Grand Bazaar Teheran kembali dibuka, dan seorang saksi mengatakan telah berbicara dengan sejumlah pedagang yang menyebut aparat keamanan memerintahkan mereka untuk tetap beroperasi. Bank-bank dilaporkan kesulitan memproses transaksi tanpa koneksi internet.

Warga turut melaporkan penggerebekan apartemen yang memiliki antena satelit, di tengah indikasi bahwa aparat keamanan tengah mencari terminal Starlink. Layanan pesan singkat masih terputus dan akses internet hanya terbatas pada situs-situs yang disetujui pemerintah di dalam negeri.

Sementara itu, Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah memuji puluhan ribu orang yang mengikuti demonstrasi pro-pemerintah di berbagai wilayah Iran pada Senin (12/1). Ia menyebut aksi tersebut sebagai peringatan bagi para politikus AS dan menegaskan bahwa Iran menyadari siapa yang dianggapnya sebagai musuh.

Televisi pemerintah juga menayangkan seruan massa pro-pemerintah yang meneriakkan slogan-slogan anti-AS dan anti-Israel. Jaksa agung Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam protes akan dianggap sebagai "musuh Tuhan", sebuah tuduhan yang dapat dijatuhi hukuman mati.

 

Â