Banjir dan Tanah Longsor Tewaskan 334 Orang, Sri Lanka Nyatakan Status Darurat dan Minta Dukungan Global

Sri Lanka saat ini sedang mengalami musim monsun, namun jarang bagi pulau tersebut menghadapi cuaca ekstrem pada tingkat ini.

Diterbitkan 01 Desember 2025, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kolombo - Jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor dahsyat di Sri Lanka telah mencapai 334 orang, menandai salah satu bencana cuaca terburuk di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

"Lebih dari 200 orang hilang dan sekitar 20.000 rumah hancur, membuat 108.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara yang dijalankan negara," demikian menurut laporan Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka seperti dilansir BBC.

Pejabat setempat mengatakan bahwa sekitar sepertiga wilayah negara tersebut tanpa listrik atau air bersih saat keadaan darurat diumumkan, menyusul Badai Ditwah.

Presiden Anura Kumara Dissanayake menuturkan bahwa ini adalah bencana alam paling menantang dalam sejarah negara itu dan kerusakan yang terjadi begitu parah hingga perkiraan untuk rekonstruksi sangat besar.

Perintah evakuasi diberlakukan di beberapa wilayah karena ketinggian air Sungai Kelani terus meningkat dengan cepat.

Jumlah kematian tertinggi dilaporkan di Kandy dan Badulla, di mana banyak daerah masih terisolasi.

 

 

Pemerintah telah mengeluarkan permohonan bantuan internasional dan mendesak warga Sri Lanka di luar negeri untuk menyumbangkan uang guna mendukung komunitas yang terdampak.

Badai Ditwah menyapu pesisir timur negara kepulauan itu pada hari Jumat (28/11/2025), tetapi sejak itu telah bergerak menjauh.

Banjir terburuk abad ini di Sri Lanka terjadi pada Juni 2003 ketika 254 orang tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Banjir kali ini terjadi ketika Asia Tenggara juga menghadapi beberapa banjir terburuk yang dialami kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir, dengan jutaan orang terdampak di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.