Tolak Lamaran Produser, Artis Cantik Pakistan Disiram Air Keras

Serangan seperti ini marak terjadi di Pakistan. Tragisnya, 17 persen serangan air keras terkait lamaran yang ditolak.

Diterbitkan 25 Juni 2013, 14:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Tindakan pecundang lagi pengecut dalam kisah ini pantang ditiru para pria sejati. Seorang artis dan penyanyi cantik berusia 18 tahun asal Distrik Nowshera di barat laut Pakistan, Bushra Waiz harus menanggung cacat di wajahnya seumur hidup. Gara-gara menolak lamaran produsernya.

Penyerangnya yang berhati kecil, Shaukat Khan, sebelumnya mempekerjakan Bushra untuk berperan dalam sejumlah drama. Namun, saat kewajiban sang artis telah dipenuhi, pekerjaan dituntaskan, produser ini malah wanprestasi. Menolak untuk membayar upah yang dijanjikan, bahkan memaksa Bushra untuk menikahinya.  

Bushra tentu saja menolak lamaran dengan paksaan itu, juga enggan diperbudak oleh Shaukat -- yang lantas marah dan berlaku kejam.

Seperti dimuat News.com.au, Selasa (25/6/2013), saudara Bushra, Akhtar menduga, Shaukat memaksa masuk ke rumah saat sang aktris dan keluarganya sedang tidur pada Sabtu 22 Juni dini hari. Ia menyiram air keras ke tubuh Bushra yang terlelap, juga di bagian wajah, kaki dan lengan kanannya.

"Aku tak melihatnya saat itu, tapi aku yakin, penyerangnya adalah Shaukat," kata Akhtar kepada Dawn.com.

Bushra yang kesakitan karena kulitnya melepuh langsung dilarikan ke Lady Reading Hospital di distrik tetangga di Peshawar. Parasnya yang jelita, kini rusak.

Dalam sistem hukum Pakistan, UU relatif melindungi perempuan dari serangan menggunakan air keras -- yang belakangan makin marak.

Namun, ada masalah dalam penegakan hukum. Misalnya, UU Kejahatan dan Kontrol terkait Cairan Kimiawi Tahun 2010, yang secara teoritis mengancam pelakunya dengan hukuman berat, penjara maksimal seumur hidup dan denda dalam jumlah besar, jarang diberlakukan tegas. Demikian menurut aktivis perempuan, Qamar Naseem.

Sementara yayasan bagi korban serangan zat kimiawi yang lolos dari maut, Acid Survivors Foundation menyebutkan, 17 persen serangan air keras di Pakistan terkait lamaran yang ditolak. Ada 150 kasus yang dilaporkan terjadi tahun lalu. (Ein/Mut)